Pembukuan sederhana usaha kecil dan rumahan

Analyzing Financial Data

Pembukuan sederhana usaha bisa diawali dari pencatatan arus kas. Karena dalam operasinya, keuangan usaha kecil dan rumahan umumnya masih terfokus pada aliran uang tunai.

Namun perlu diingat bahwa pembukuan sederhana ini hanyalah bagian kecil dari praktek akuntansi yang sebenarnya, yaitu pencatatan aliran uang kas.

Tapi karena usaha kecil dan rumahan umumnya masih terfokus pada transaksi tunai (cash/bank transfer), maka pembukuan usaha bisa dimulai dari sini dulu.

Perlengkapan yang dibutuhkan untuk pembukuan sederhana ini adalah kalkulator, buku kas, satu boks amplop, dan tentunya alat tulis untuk mencatat. Seluruh perelengkapan ini bisa didapatkan di toko ATK terdekat.

Sebelum memulai pencatatan, kita perlu membuat pos-pos keuangan.

Pos keuangan pada dasarnya adalah kategori pencatatan di mana setiap kategori akan mendapat buku kas dan amplopnya masing-masing.

Untuk memudahkan, saya membagi pos keuangan menjadi tiga bagian. Anda nanti bisa menyesuaikan nama dan jumlahnya sesuai kebutuhan.

Pos-pos keuangan yang saya maksud adalah Kasir, Belanja, dan Penjualan:

  • Pos Kasir adalah pos keuangan utama di mana seluruh uang terpusat. Kalau diibaratkan pangkalan taksi, maka Pos Kasir adalah poolnya.Pos Kasir juga merupakan pos yang mendistribusikan uang ke Pos Belanja.
  • Pos Penjualan adalah pos yang mencatat seluruh penjualan produk yang kita punya. Uang hasil penjualan dikumpulkan dahulu di pos ini sebelum kemudian disetor ke Pos Kasir.
  • Pos Belanja adalah pos yang berhubungan dengan pengeluaran usaha. Baik itu untuk belanja bahan baku, operasional, maupun gaji karyawan.

Awal pencatatan dimulai dari Pos Kasir dan saldo berasal dari modal yang disetor oleh pemilik usaha ataupun yang berasal dari saldo bulan sebelumnya (dicatat sebagai uang masuk). Berikutnya, Pos Kasir menyerahkan uang ke Pos Belanja untuk belanja dan proses produksi.

Oh ya, pada buku kas biasanya terdapat kolom debet dan kredit dan kedua istilah ini masih suka membingungkan.Tapi ini bukan masalah besar. Kita bisa menggantinya dengan istilah yang lebih mudah dimengerti. Misalnya menjadi “Uang Masuk” dan “Uang Keluar”.

Nah, setelah Pos Belanja menerima uang dari Pos Kasir, pemilik usaha kemudian mengolah uang belanja tersebut untuk menghasilan produk untuk dijual. Hasil penjualan produk kemudian dicatat oleh Pos Penjualan dan uangnya disimpan dalam amplop Pos Penjualan.

Pada waktu yang sudah ditentukan (misalnya setiap sore), uang hasil penjualan yang terkumpul di amplop Pos Penjualan kemudian disetorkan seluruhnya ke amplop Pos Kasir.

Nah, di Pos Kasir inilah kita bisa melihat posisi saldo usaha. Yaitu selisih antara uang yang disetor oleh Pos Penjualan dan uang yang dikeluarkan untuk Pos Belanja. Dan di akhir bulan, kita bisa menyimpulkan apakah usaha di bulan ini untung atau merugi.

Berikut saya ilustrasikan apa yang saya maksud:
pembukuan-sederhana

Saya menyarankan setiap pos setidaknya memiliki satu buku kas per bulannya. Jadi kita punya  satu buku untuk Januari, satu untuk Februari, dan seterusnya.

Pembukuan untuk usaha kecil dan rumahan tidak perlu rumit ataupun mahal. Dengan modal yang relatif murah, pemilk usaha bisa memiliki pembukuan sederhana untuk mencatat transaksi keuangannya.

Karena usaha kecil dan rumahan umumnya masih terfokus pada aliran uang tunai, maka pembukuan sederhana usaha bisa diawali dari pencatatan arus kas.

Ini merupakan sebuah langkah menuju sistem pembukuan yang lebih baik dan kelak dapat memudahkan pemilik usaha dalam menerapkan sistem akuntansi yang lebih lengkap.

Bagaimana dengan usaha Anda? Apakah sudah/akan menerapkan sistem pembukuan?

photo credit: Dave Dugdale via photopin cc

Comments

comments

Ijin bookmark dulu gan hehe..

Berarti uang masuk itu sama dengan debit, dan uang keluar sama dengan kredit,. ya??

  • nice info, mudah dipelajari dan diingat.. kalo boleh, minta dikasih contoh catatan transaksi di masing-masing pos.. terima kasih..

  • gan berarti setidaknya kita perlu tiga buku ya,,satu buku catatan pembelian barang kedua buku catatn penjualan dan yang ke tiga buku kas yaitu buku untuk mencatat pengeluaran baik berupa pebelian bahan atau yang lainnya dan untuk mencatat uang hasil penjualan yang sudah di rinci di buku catatan penjualan, di buku kas berarti yang dicatat nilai akhir pada hari tersebut yg sudah dicatat dibuku pembelian ataupun buku penjualan..betul tidak gan,,?
    My recent post Serba hello kitty

  • makasih mas atas infonya berguna banget untuk saia karena sudah lama usaha saia tidak memiliki pembukuan sekali lagi makasih……………..

  • saya masih bingung dengan pembukuan saya, saya sudah buat pos kasir, pos penjualan dan pos belanja, namun rugi labanya saya tidak tau karena barang saya di hutangkan ada yang tepat bayarnya dan ada juga yang terlambat bayarnya bahkan ada yang kabur… alias tidak mau bayar hutangnya ke saya…. tolong bantu saya bagaimana cara pembukuannya supaya saya tetap tau rugi labanya. TERIMAKASIH sebelumnya untuk Aditya Fajar…

    • Utang diberikan kepada orang lain dan belum terbayar bisa dikategorikan sebagai "Pendapatan yang tertunda" (Piutang). Sehingga dalam akuntansi biasanya ini dimasukkan sebagai pendapatan.

      Selama belum dihapuskan, maka tetap dianggap sebagai kekayaan. Ini perlu pos tersendiri.

      Secara riil memang uangnya belum ada. Tapi secara pencatatan sudah dianggap sebagai kekayaan.

    • Stok barang bisa dikategorikan sebagai aset. Jadi bisa ditambahkan amplop baru. Tapi untuk stok barang biasanya ditetapkan tenggat waktu. Misalnya 1 tahun. Apabila sudah melewati 1 tahun maka harus dicatat nilai deprisasinya. Begitu pula untuk tahun berikutnya.

  • mas kan sya jualan jaket kulit, bahan bakunya itu kulit domba tpi kulit itu kita produksi sendiri dan kulit itu tidak untuk dijual apakah harus buat lagi catatan atu enggak???

  • Mas admit yg baik.
    Klo buat usaha dagang yg produknya di beli tunai tapi jualnya di utangin. Enaknya gimana ya…
    Makasi sbelumnya.

  • Halo Mas/Mba Beb,
    Pada dasarnya sama seperti ilustrasi di atas. Tapi untuk model bisnis spt itu, akan lebih baik kalau pakai amplop yang judulnya "piutang". Piutang sudah bisa dianggap sebagai penjualan tapi uangnya belum diterima.

    Misalnya barang dibeli tanggal 1 dengan dicicil 2x, tanggal 10 dan tanggal 20. Maka di amplop piutang ditulis tanggal 10 sebesar Rp.X (cicilan 1) dan tanggal 20 sebesar Rp. X (cicilan 2)

    Ketika tanggal 10 tiba dan benar-benar ada pembayaran, di amplop piutang di tulis pengeluaran untuk masuk ke kasir, dan di kasir ditulis sebagai pemasukkan. Begitupula untuk pembayaran tgl 20.

    Sebenarnya bisa saja pakai amplop penjualan, tapi amplop ini lebih untuk pembayaran tunai, bukan di cicil.

    Demikian semoga membantu :-)

    • Pada dasarnya sama Mba Debbie. Tapi ada baiknya di catat ke dalam buku non-tunai. Ada baiknya akun di bank tidak dicampur dengan keperluan pribadi. Jadi benar2 terpisah khusus untuk usaha.

      Setiap pemasukan ke rekening tersebut dicatat dan begitu pula pengeluaran.

      Untuk dicatat sebagai pemasukan ke uang kas maka, ditarik dulu uangnya, dicatat sebagai pengeluaran oleh buku non tunai, dan masukan uangnya ke amplop kas dan dicatat sebagai pemasukan oleh buku kas.

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>