<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.3.1" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>Aditya Fajar</title>
	<link>http://adityafajar.com</link>
	<description>My thoughts, my voice</description>
	<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 04:01:16 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Bye-bye Mati Listrik, Welcome Listrik Gratis</title>
		<link>http://adityafajar.com/2008/07/09/bye-bye-mati-listrik-welcome-listrik-gratis/</link>
		<comments>http://adityafajar.com/2008/07/09/bye-bye-mati-listrik-welcome-listrik-gratis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 04:01:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Public Relations]]></category>

		<category><![CDATA[Stuff]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adityafajar.com/2008/07/09/bye-bye-mati-listrik-welcome-listrik-gratis/</guid>
		<description><![CDATA[Selang beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke Cooperative Fair 2008 yang diadakan di lapangan Gasibu Bandung dari tanggal 3 sampai 7 Juli. Event ini merupakan ajang pameran bagi berbagai koperasi usaha kecil dan menengah (KUKM) dari seluruh Indonesia. Bersamaan dengan pameran ini, ada pula Halal Fair yang memamerkan berbagai produk makanan halal.
Cooperative Fair 2008 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://adityafajar.com/wp-content/uploads/2008/07/kukm.jpg"><img style="border-top-width: 0px; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin: 5px 10px 0px 0px; border-right-width: 0px" height="244" alt="kukm" src="http://adityafajar.com/wp-content/uploads/2008/07/kukm-thumb.jpg" width="220" align="left" border="0"></a>Selang beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke <em>Cooperative Fair 2008 </em>yang diadakan di lapangan Gasibu Bandung dari tanggal 3 sampai 7 Juli. <em>Event</em> ini merupakan ajang pameran bagi berbagai koperasi usaha kecil dan menengah (KUKM) dari seluruh Indonesia. Bersamaan dengan pameran ini, ada pula <em>Halal Fair</em> yang memamerkan berbagai produk makanan halal.</p>
<p><em>Cooperative Fair 2008</em> boleh dibilang cukup menarik walau barang-barang yang dipamerkan masih berkisar pada makanan, pakaian, dan kerajinan tangan. Hanya sedikit <em>stand </em>yang menawarkan produk-produk teknik dan industri.</p>
<p>Salah satu <em>stand</em> yang menarik bagi saya adalah <em>stand </em>dari <a href="http://www.chromaintegrated.com">Chroma Bima Sapta</a> yang memamerkan generator listrik tenaga angin dan air. Ketertarikan saya dengan generator listrik tersebut karena generator-generator tersebut menggunakan teknologi sederhana yang dapat digunakan oleh siapa saja, terutama&nbsp; oleh mereka yang tinggal di daerah-daerah perdesaan. </p>
<p><a href="http://adityafajar.com/wp-content/uploads/2008/07/kincir.jpg"><img style="border-top-width: 0px; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin: 0px 0px 0px 15px; border-right-width: 0px" height="214" alt="kincir" src="http://adityafajar.com/wp-content/uploads/2008/07/kincir-thumb.jpg" width="244" align="right" border="0"></a>Generator listrik tenaga angin misalnya, adalah generator yang&nbsp; menggunakan energi tidak terbatas dan selalu terbaharui. Tidak mengotori lingkungan dan gratis. Cara kerjanya pun sederhana, angin memutar kincir, kincir menghasilkan listrik yang disimpan dalam baterai, dan baterai menghidupkan lampu. Tergantung ukurannya, kincir ini mampu menghasilkan listrik sampai ratusan watt.</p>
<p>Yang terpikir oleh saya saat itu adalah teknologi ini dapat digunakan untuk penerangan jalan di pedesaan, di perkampungan nelayan atau untuk menerangi kandang. </p>
<p>Tapi saya pikir lagi, kincir angin juga bisa digunakan untuk menyalakan lampu taman. Bagi pengembang perumahan atau mereka yang mempunyai taman yang luas, menggunakan kincir angin untuk menyalakan lampu taman merupakan ide yang unik dan menarik. Cukup sekali pasang, kita bisa mendapatkan listrik gratis, yang boleh dibilang, selamanya.</p>
<p>Selain kincir angin, ada pula generator listrik tenaga air. Konsepnya pun mirip dengan kincir angin hanya saja digerakkan oleh air. Menurut saya generator model seperti ini bagus untuk di daerah pegunungan di mana air biasanya dibiarkan mengalir begitu saja. Bagi pemilik villa atau mereka yang punya saudara di daerah pegunungan, generator listrik tenaga air menurut saya cukup menarik untuk dipertimbangkan. </p>
<p> <center>
<p><a href="http://adityafajar.com/wp-content/uploads/2008/07/air.jpg"><img style="border-top-width: 0px; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-right-width: 0px" height="241" alt="air" src="http://adityafajar.com/wp-content/uploads/2008/07/air-thumb.jpg" width="341" border="0"></a>&nbsp; </p>
<p></center>
<p>Membaca berita tentang parahnya kondisi listrik di negeri ini dan makin mahalnya harga, saya berpendapat bahwa dengan beralih ke energi alternatif masyarakat bisa tetap untung sambil melakukan penghematan.</p>
<p>Contoh saja bila kincir angin di pasang di pinggir pantai untuk menerangi warung-warung milik masyarakat sekitar. Mereka tidak harus lagi bergantung kepada PLN dan usaha mereka bisa tetap berjalan walau ada pemadaman bergilir. </p>
<p>Memang untuk membeli kincir angin relatif tidak murah (di atas 10 juta rupiah). Tapi harga ini relatif kecil untuk pemerintah daerah atau pun perusahaan yang mau menjalankan program CSR. Toh uang yang terpakai tidak akan terbuang percuma karena penggunanya tidak lagi harus bayar iuran listrik bulanan ke PLN&#8230; dan byar pet! pun akan menjadi sesuatu di masa lalu. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adityafajar.com/2008/07/09/bye-bye-mati-listrik-welcome-listrik-gratis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sapu Bersih</title>
		<link>http://adityafajar.com/2008/07/04/sapu-bersih/</link>
		<comments>http://adityafajar.com/2008/07/04/sapu-bersih/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 03:09:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Stuff]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adityafajar.com/2008/07/04/sapu-bersih/</guid>
		<description><![CDATA[Pengalaman bertahun-tahun menjadi anak kos membuat saya menyadari pentingnya sebuah sapu. Tanpa kehadirannya bisa dibayangkan betapa akan kotornya kamar dan sangat mungkin menjadi sarang penyakit.
Sapu terbagi menjadi beberapa varian. Ada sapu lidi, sapu ijuk, dan sapu plastik. Tiap-tiap varian ini ditujukkan untuk berbagai keperluan. Sapu ijuk misalnya, ada yang untuk di dalam rumah, dan ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengalaman bertahun-tahun menjadi anak kos membuat saya menyadari pentingnya sebuah sapu. Tanpa kehadirannya bisa dibayangkan betapa akan kotornya kamar dan sangat mungkin menjadi sarang penyakit.</p>
<p>Sapu terbagi menjadi beberapa varian. Ada sapu lidi, sapu ijuk, dan sapu plastik. Tiap-tiap varian ini ditujukkan untuk berbagai keperluan. Sapu ijuk misalnya, ada yang untuk di dalam rumah, dan ada pula yang untuk teras. Begitu pula sapu lidi, ada untuk merapihkan tempat tidur dan ada untuk menyapu sampah.</p>
<p>Bicara tentang menyapu kamar, pemilihan sapu adalah penting. Karena kualitas sapu akan menentukan kebersihan kamar selain teknik penyapuan itu sendiri. Saya pribadi selalu memilih sapu ijuk untuk menyapu. Sifatnya yang lentur dan terbuat dari bahan alami menjadikannya nyaman untuk digunakan dan mampu membersihkan debu di lantai dengan baik.</p>
<p>Sayangnya keberadaan sapu ijuk makin terancam dengan maraknya sapu plastik di pasaran. Padahal kalau dicermati sapu plastik tidak bisa membersihkan sebersih sapu ijuk karena sifat sapu plastik yang kaku. Selain itu menggunakan sapu plastik juga tidak senyaman sapu ijuk. Ujung-ujungnya malah buang-buang energi dan waktu, dan hasil yang dicapai pun tidak sebersih yang diharapkan.</p>
<p>Karena sifatnya yang alami, sapu ijuk lebih ramah lingkungan. Sapu ijuk terbuat dari serat ijuk yang bila dibuang akan secara natural terurai oleh alam. Karakteristik ini tidaklah dimiliki oleh sapu plastik yang malah mencemari lingkungan.</p>
<p>Sapu ijuk biasanya lebih mudah ditemukan di pasar tradisional, sedangan di supermarket atau hypermarket lebih banyak sapu plastiknya. Harga sapu ijuk juga bervariasi dan untuk mendapatkannya akan bergantung kepada kelihaian kita menawar.</p>
<p>Saya yakin sapu ijuk akan selalu lebih baik daripada sapu plastik. Warna ijuk yang hitam merupakan warna netral yang dapat masuk ke macam-macam warna gagang sapu. Tentunya ini membuat membuat koleksi sapu kita tidak monoton dan penuh warna <img src='http://adityafajar.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /> Lebih jauh, sapu ijuk dapat dipergunakan dalam jangka waktu yang relatif lama selama digunakan secara wajar.</p>
<p>Dengan bahan yang terbuat dari bahan alami, sapu ijuk merupakan pilihan utama untuk menyapu kamar atau ruangan. Selain nyaman untuk digunakan, sapu ijuk juga mampu membersihkan lebih bersih dibanding sapu-sapu sintetis seperti sapu plastik. Nah, sudah sewajarnya lah bila kita lebih memperhatikan sapu ijuk, karena dalam dunia sapu menyapu, sapu ijuk terbukti lebih unggul. <img src='http://adityafajar.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adityafajar.com/2008/07/04/sapu-bersih/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Renungan di Hotspot</title>
		<link>http://adityafajar.com/2008/06/30/renungan-di-hotspot/</link>
		<comments>http://adityafajar.com/2008/06/30/renungan-di-hotspot/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 10:04:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Myself]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adityafajar.com/2008/06/30/renungan-di-hotspot/</guid>
		<description><![CDATA[Hello all! 
Wuih, sudah hampir sebulan saya tidak pernah mengupdate blog saya. Kepindahan saya ke Bandung benar-benar menyita waktu dan energi saya. Alhamdulillah sekarang semuanya sudah bisa berjalan dengan normal. Jadi Insha Allah, saya bisa kembali menulis lagi.
Ketika saya menulis posting ini, saya sedang berada di Braga Citi Walk sambil menunggu Ibu dan, ehm, istri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hello all! <img src='http://adityafajar.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Wuih, sudah hampir sebulan saya tidak pernah mengupdate blog saya. Kepindahan saya ke Bandung benar-benar menyita waktu dan energi saya. Alhamdulillah sekarang semuanya sudah bisa berjalan dengan normal. Jadi Insha Allah, saya bisa kembali menulis lagi.</p>
<p>Ketika saya menulis posting ini, saya sedang berada di Braga Citi Walk sambil menunggu Ibu dan, ehm, istri saya berbelanja he..he..he..</p>
<p>Sejauh ini saya merasa keputusan untuk pindah ke Bandung merupakan keputusan yang tepat. Suasana kota dan masyarakat Bandung terasa lebih ramah dan lebih bersahabat dan saya pun sekarang bisa merasakan suasana hidup yang lebih nyaman.</p>
<p>Selain suasana kota, kehidupan saya juga perlahan banyak berubah seiring berjalannya pernikahan. Saya akui pernikahan memang bisa membawa seseorang untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya lebih dipengaruhi oleh keraguan.</p>
<p>Tapi perlu juga diingat bahwa pernikahan bukanlah sesuatu yang harus diburu-buru, terlebih lagi bila sudah memasuki umur-umur yang katanya &#8220;terlambat&#8221;.</p>
<p>Terlambat tidaknya sebuah pernikahan sangatlah bergantung kepada cara pandang kita melihat usia. Saya rasa kita tidak perlu terlalu terpengaruh dengan &#8220;standard&#8221; umur yang dipandang layak oleh masyarakat. Toh, pernikahan adalah pilihan hidup yang standardnya ditentukan sendiri oleh kita.</p>
<p>Namun tentunya bukan berarti kita jadi acuh terhadap pernikahan. Karena acuh atau malah menjadi apriori terhadap pernikahan berarti memboikot diri kita sendiri untuk terpenuhi kebutuhannya.</p>
<p>Kebutuhan macam apa? Well, kalau kebutuhan biologis sih tidak perlu dijabarkan ya? he..he..he.. Nah, yang paling terasa adalah kebutuhan akan kedamaian hati. Dan kedamaian hati ini tidak akan pernah bisa dipenuhi oleh hal-hal lain kecuali pernikahan. Karena pernikahan seperti kunci yang akan membuka pintu di mana hati kita bisa merasa &#8220;pulang ke rumah&#8221;.</p>
<p>Btw, Ibu dan isteri sudah selesai belanja nih. Saya pamit dulu ya? <img src='http://adityafajar.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /> Nanti diterusin lagi <img src='http://adityafajar.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adityafajar.com/2008/06/30/renungan-di-hotspot/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Proposional Terhadap Pasangan Hidup</title>
		<link>http://adityafajar.com/2008/06/09/proposional-terhadap-pasangan-hidup/</link>
		<comments>http://adityafajar.com/2008/06/09/proposional-terhadap-pasangan-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 11:20:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Stuff]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adityafajar.com/2008/06/09/proposional-terhadap-pasangan-hidup/</guid>
		<description><![CDATA[Jodoh itu memang di tangan Tuhan. Kita tidak bisa memprediksi siapa yang akan nantinya bersanding dengan diri kita. Contoh saja saya. Saya dulunya berharap dapat pasangan artis, yaaa.. setidaknya macam Dian Sastro atau Luna Maya. Biar gendut, saya percaya bahwa hal tersebut tidak akan memudarkan daya tarik saya dan jadinya saya yakin kalau Dian atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jodoh itu memang di tangan Tuhan. Kita tidak bisa memprediksi siapa yang akan nantinya bersanding dengan diri kita. Contoh saja saya. Saya dulunya berharap dapat pasangan artis, yaaa.. setidaknya macam Dian Sastro atau Luna Maya. Biar gendut, saya percaya bahwa hal tersebut tidak akan memudarkan daya tarik saya dan jadinya saya yakin kalau Dian atau Luna bisa jatuh cinta sama saya.</p>
<p>Lalu saya pun bercermin. Bercermin sekali, bercermin dua kali. Di sana ada bayangan saya dan saya menjadi berpikir dibuatnya. Berpikir sekali, berpikir dua kali dan berpikir berkali-kali. Akhirnya saya menyadari bahwa saya tidaklah diciptakan untuk bersanding dengan Dian Sastro atau Luna Maya.</p>
<p>Bukan karena saya tidak yakin dengan diri sendiri atau mimpi punya Dian atau Luna itu ketinggian *pede*, tapi lebih kepada penyadaran diri bahwa pasangan saya sekarang ini adalah yang terbaik untuk saya. <img src='http://adityafajar.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Keinginan untuk memperoleh yang lebih adalah wajar dan merupakan hal yang positif. Tapi keinginan macam ini tidaklah boleh melenceng dari batas-batas kewajaran. Saya selalu memandang sesuatu itu ada proporsinya. Bila kita lapar, maka makanlah sesuai proporsinya. Bila kita bekerja, maka bekerjalah sesuai dengan proporsinya. Bila kita memutuskan untuk hidup dengan seseorang, maka bertindaklah sesuai dengan proporsinya.</p>
<p>Tingkatan proporsional memang beragam dan bergantung kepada cara pandang tiap individu. Nah, untuk urusan pasangan hidup, saya berpendapat bahwa tingkat proporsionalitas dimulai dari kesadaran kita akan arti kehadiran pasangan di hidup kita.</p>
<p>Jika kita merasa bahwa pasangan hidup kita adalah yang terbaik, yang terkasih, dan yang tersayang dalam hidup kita, maka sudah selayaknyalah kita bertindak untuk memposisikan dirinya sebagai yang terbaik, yang terkasih, dan yang tersayang. Bila kita berusaha untuk bisa seperti itu, maka kita sudah bertindak sesuai dengan proporsinya.</p>
<p>Tidaklah mudah untuk bersikap sesuai proporsi, karena godaan akan selalu merayu kita untuk bertindak dan bersikap keluar jalur.  Namun dimulai dengan niat baik dan tindakan nyata, saya yakin semuanya bisa berjalan dengan baik.</p>
<p><em>So,</em> mari kita berusaha untuk bersikap sesuai dengan proporsinya <img src='http://adityafajar.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adityafajar.com/2008/06/09/proposional-terhadap-pasangan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Berlabuh di Bandung</title>
		<link>http://adityafajar.com/2008/06/03/berlabuh-di-bandung/</link>
		<comments>http://adityafajar.com/2008/06/03/berlabuh-di-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 05:04:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Myself]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adityafajar.com/2008/06/03/berlabuh-di-bandung/</guid>
		<description><![CDATA[Saya sekarang sudah ada di Bandung dan sedang menikmati kehidupan baru saya. Sejauh ini cukup menyenangkan karena saya punya waktu lebih banyak untuk melakukan hal-hal yang saya sukai. Contoh saja ketika saya menulis blog ini,&#160; saya sedang berhotspot ria di BIP sambil menikmati segelas Ice Chocolate.  
Tetapi saya sadar ini hanyalah sementara karena sebentar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sekarang sudah ada di Bandung dan sedang menikmati kehidupan baru saya. Sejauh ini cukup menyenangkan karena saya punya waktu lebih banyak untuk melakukan hal-hal yang saya sukai. Contoh saja ketika saya menulis blog ini,&nbsp; saya sedang berhotspot ria di BIP sambil menikmati segelas <em>Ice Chocolate</em>. <img src='http://adityafajar.com/smilies/yahoo_batting.gif' alt='&#59;&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#59;&#41;' /> </p>
<p>Tetapi saya sadar ini hanyalah sementara karena sebentar lagi realitas akan kembali menghampiri. Bila saat itu tiba, saya sudah harus siap untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang muncul. </p>
<p>Salah satu realitas hidup yang sebentar lagi saya akan hadapi adalah pernikahan. He..he..he.. Ya, tidak lama lagi saya akan mengakhiri masa lajang saya. Saya meyakini bahwa tahun ini adalah tahun yang tepat bagi saya untuk menikah. Bukan karena umur, bukan karena paksaan, apalagi karena <em>accident <img src='http://adityafajar.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /> </em>tapi lebih karena panggilan hati.</p>
<p>Saya pikir panggilan hati saya untuk menikah merupakan jawaban atas pertanyaan yang sejak lama saya tanyakan, yaitu bagaimana kita tahu bahwa dia itu jodoh kita dan bagaimana kita bisa yakin untuk menikah dengan dirinya?&nbsp; </p>
<p>Lama saya bertanya tentang pertanyaan di atas dan sudah sekian orang saya tanyakan namun saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan sampai akhirnya saya merasakan sendiri panggilan hati tersebut. </p>
<p>Saya akui &#8220;panggilan hati&#8221; sulit diukur dengan logika, tapi hal tersebut akan menjadi sesuatu yang sangat masuk akal ketika saya menganalisanya dengan hati. Benar adanya bahwa dalam hal jodoh dan pernikahan, logika cenderung mendorong kita untuk menghitung untung rugi (siap/tidak siap), sedangkan hati mendorong kita untuk berserah diri terhadap kuasa Ilahi, yang pada pada akhirnya membimbing kita pada sebuah perlabuhan hidup. <img src='http://adityafajar.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p><em>Aih, aih&#8230; </em>saya sendiri tidak menyangka bisa seperti ini. Teman, do&#8217;akan saya ya?! <img src='http://adityafajar.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adityafajar.com/2008/06/03/berlabuh-di-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pindah Ke Bandung</title>
		<link>http://adityafajar.com/2008/05/31/pindah-ke-bandung/</link>
		<comments>http://adityafajar.com/2008/05/31/pindah-ke-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 May 2008 22:49:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Myself]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adityafajar.com/2008/05/31/pindah-ke-bandung/</guid>
		<description><![CDATA[ Saya memutuskan untuk pindah ke Bandung. Ini bukanlah hal yang mudah, namun setelah saya pertimbangkan dengan baik dan lama, saya berkesimpulan bahwa keputusan ini adalah keputusan yang tepat.
Kepindahan sering kali diiringi oleh perpisahan, dan kali ini saya harus berpisah dengan teman-teman baik saya di kantor. Terus terang saya tidak pernah menyukai perpisahan, apalagi ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://adityafajar.com/wp-content/uploads/2008/05/thm-jc-sto-moving-house-low.jpg"><img style="border-right: 0px; border-top: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; border-left: 0px; border-bottom: 0px" height="220" alt="thm_jc_sto_moving house_low" src="http://adityafajar.com/wp-content/uploads/2008/05/thm-jc-sto-moving-house-low-thumb.jpg" width="138" align="left" border="0"></a> Saya memutuskan untuk pindah ke Bandung. Ini bukanlah hal yang mudah, namun setelah saya pertimbangkan dengan baik dan lama, saya berkesimpulan bahwa keputusan ini adalah keputusan yang tepat.</p>
<p>Kepindahan sering kali diiringi oleh perpisahan, dan kali ini saya harus berpisah dengan teman-teman baik saya di kantor. Terus terang saya tidak pernah menyukai perpisahan, apalagi ketika kita sudah merasa dekat dengan orang-orang di sekeliling kita. Tapi hidup adalah pilihan, dan ketika kita memilih sebuah jalan, maka kita juga harus siap dengan resikonya, termasuk untuk berpisah.&nbsp; Namun ini tidak serta merta jadi putus komunikasi. Saya yakin, pertemanan baik tidak mengenal batas ruang dan waktu. Apalagi Bandung hanya selangkah dari Jakarta kan? <img src='http://adityafajar.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Rencananya di Bandung saya akan memulai usaha saya sendiri. Keinginan untuk menjadi seorang <em>entrepreneur </em>sudah lama terpendam, dan Alhamdulillah, sekarang saya punya keberanian, kesempatan, dan kemauan untuk mewujudkannya.</p>
<p>Saya belum bisa menjelaskan lebih jauh mengenai usaha saya ini. Tapi boleh kan saya minta dukungan dan doa teman-teman? <em>Doain</em> saya supaya semuanya berjalan dengan baik ya?! <img src='http://adityafajar.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Untuk beberapa hari ke depan mungkin blog saya akan vakum. Biar begitu, saya akan berusaha untuk tetap memposting. Maklum, mau <em>ngepak-ngepak </em>dulu nih he..he..he..&nbsp; </p>
<p><em>So </em>Bandung, here I come! </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adityafajar.com/2008/05/31/pindah-ke-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Akhir Bulan, Awal Si Judes Datang</title>
		<link>http://adityafajar.com/2008/05/29/akhir-bulan-awal-si-judes-datang/</link>
		<comments>http://adityafajar.com/2008/05/29/akhir-bulan-awal-si-judes-datang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 May 2008 12:42:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Stuff]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adityafajar.com/2008/05/29/akhir-bulan-awal-si-judes-datang/</guid>
		<description><![CDATA[Saya sudah bekerja di beberapa perusahaan yang lingkungan kerjanya lebih banyak diisi oleh karyawan wanita. Ada beberapa teman yang bilang saya beruntung, tapi ada pula yang mewanti-wanti. 
Bekerja dengan lawan jenis memang perlu pendekatan yang berbeda. Terutama ketika mendekati akhir-akhir bulan. Saya percaya mereka bisa tetap professional, tapi pada masa-masa ini kita harus bisa lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sudah bekerja di beberapa perusahaan yang lingkungan kerjanya lebih banyak diisi oleh karyawan wanita. Ada beberapa teman yang bilang saya beruntung, tapi ada pula yang mewanti-wanti. </p>
<p>Bekerja dengan lawan jenis memang perlu pendekatan yang berbeda. Terutama ketika mendekati akhir-akhir bulan. Saya percaya mereka bisa tetap professional, tapi pada masa-masa ini kita harus bisa lebih bersabar menghadapi mereka.</p>
<p>Tahu sendiri kan kalau setiap bulan wanita akan mengalami siklus bulanan? Nah, di masa inilah saya biasanya harus lebih hati-hati dan harus siap pasang muka tembok. Karena ucapan atau tingkah laku kita yang paling biasa sekalipun bisa berakibat kita mendapat perlakuan judes dan ucapan yang ketus.</p>
<p>Walau mungkin kita tidak terlibat secara langsung dengan kolega wanita, tapi kita tetap harus bisa menahan panasnya telinga. Terutama ketika mereka sedang dalam periode ketus-ketusnya atau judes-judesnya. Saya suka kasihan melihat kolega wanita lain yang &#8220;kena getahnya&#8221; dan jadi manyun atau sendu lantaran tidak bisa mengungkapkan kekesalannya.</p>
<p>Yang paling kasihan lagi adalah orang luar yang tidak tahu apa-apa dan kemudian kecipratan judes dan ketus. Saya mengalaminya sendiri. Hari ini saya menelepon <a href="http://www.antara.co.id">ANTARA</a> untuk mengkonfirmasikan undangan yang saya kirim. Seperti biasa saya menghubungi redaksi, tapi jawaban yang saya terima jauh dari ramah. Jawabannya pendek-pendek, ketus, dan cepat. Seperti tidak niat ditelepon. Ujung-ujungnya informasi yang diberikan jadi tidak jelas dan saya harus bertanya berulang kali. Tapi ini tentunya berakibat fatal, karena dia makin kesal dan makin ketus saja menjawabnya. </p>
<p>Rasanya wajar kalau saya juga jadi bete. <em>&#8220;Salah apa gue emangnya?&#8221; </em>ucap saya dalam hati. Tapi kemudian saya teringat bahwa ini akhir bulan. <em>So</em>, saya memilih berbaik sangka saja bahwa di akhir bulan akan ada momen-momen di mana saya akan mendapat perlakuan judes atau ketus.</p>
<p>Bekerja dengan wanita di mana mereka menjadi kaum mayoritas memang menarik untuk diamati. Selain judes dan ketus di akhir bulan, ada pula momen-momen di mana kita &#8220;dipaksa&#8221; jadi pendengar yang baik. Contoh saja ketika <em>meeting</em>. Bukan sesuatu yang aneh bila <em>meeting</em> tersebut diselingi oleh obrolan-obrolan seputar gosip, rambut, <em>make-up</em>, pakaian, dan aksesories. Lalu jangan heran pula bila tiba-tiba mereka saling cekikikan atau saling memuji dan intonasi yang di manja-manjakan.&nbsp; </p>
<p>Dari pengalaman saya, saya bisa menarik kesimpulan bahwa seprofesional apapun seorang wanita, dia tetaplah individu yang akan selalu&nbsp; dipengaruhi kodrat penciptaannya. Kita laki-laki lebih baik bersabar dan menahan diri saja. Atau seperti saya, suka bertanya-tanya apa sih ini dan itu? Maksudnya tidak lain supaya bisa lebih memahami dunia mereka yang sering kali terdengar dan terlihat aneh bagi kaum laki-laki.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adityafajar.com/2008/05/29/akhir-bulan-awal-si-judes-datang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sinetron, Favoritnya si Miskin Hati</title>
		<link>http://adityafajar.com/2008/05/25/sinetron-favoritnya-si-miskin-hati/</link>
		<comments>http://adityafajar.com/2008/05/25/sinetron-favoritnya-si-miskin-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 May 2008 00:05:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sinetron]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adityafajar.com/2008/05/25/sinetron-favoritnya-si-miskin-hati/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah beratus kali masyarakat menyuarakan keberatan atas acara sinetron yang bodoh dan membodohi. Baik itu isinya maupun pesan moral yang dibawanya. Tapi bagaikan bicara dengan tembok, Sinetron tetap berjaya karena rupanya masyarakat kita banyak yang bodoh dan mau terus-terusan dibodohi. 
Bagi pebisnis macam stasiun TV dan produsen sinetron, etika dan nilai moralitas tentu tidak lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#666666">Sudah beratus kali masyarakat menyuarakan keberatan atas acara sinetron yang bodoh dan membodohi. Baik itu isinya maupun pesan moral yang dibawanya. </font><font color="#666666">Tapi bagaikan bicara dengan tembok, Sinetron tetap berjaya karena rupanya masyarakat kita banyak yang bodoh dan mau terus-terusan dibodohi. </font></p>
<p><font color="#666666">Bagi pebisnis macam stasiun TV dan produsen sinetron<em>,</em> etika dan nilai moralitas tentu tidak lebih berharga dari kacang goreng. Jadinya mereka tetap saja memproduksi sinetron murahan karena lebih menguntungkan.</font></p>
<p><font color="#666666">Salah satu tema favorit sinetron adalah soal kemiskinan. Tema ini dieksploit sedemikian rupa sehingga membentuk kesan bahwa orang miskin itu layak untuk diinjak-injak, disingkirkan, dan kalau perlu dibasmi saja. </font></p>
<p><font color="#666666">Ketika saya menyempatkan diri untuk melihat sinetron (dengan menahan rasa muak tentunya), tidak sulit untuk menemukan dialog-dialog yang memojokkan kaum miskin. Orang miskin dibentak-bentak, dihina, dan direndahkan secara verbal dan fisik sehingga makin menegaskan bahwa orang miskin adalah orang-orang yang pantas untuk ditindas. </font></p>
<p><font color="#666666">Saya setuju dengan ucapan Warsa Tarsono, Pengurus Komite Indonesia untuk Pemberantasan Pornografi dan Pornoaksi (KIP3) di Palu 22 Mei 2008, yang diberitakan oleh <a href="http://www.antara.co.id/arc/2008/5/24/pengawasan-media-harus-diperketat" target="_blank">Antara</a>. Beliau mengatakan:</font></p>
<blockquote><p>Orang miskin itu tidak salah. Karena itu, janganlah mereka dihina dengan kata-kata yang seolah menyalahkan kenapa sampai miskin.</p>
</blockquote>
<p><font color="#666666">Tapi di sinilah letak kelicikan sinetron. Mereka menempatkan orang miskin sebagai tokok utama yang baik-baik dan sabar luar biasa yang kemudian keluar sebagai pahlawan. Pahlawan yang bagaimana? Pahlawan kaya yang dimiskinkan sementara dan dengan bantuan &#8220;takdir&#8221;, menemukan kembali kejayaannya sebagai orang kaya.</font></p>
<p><font color="#666666">Secara psikologis, cerita-cerita orang miskin yang ujungnya jadi pahlawan adalah cerita yang menawarkan romantisme dan harapan-harapan semu kepada orang miskin. Orang miskin jadi pintar untuk berkata &#8220;seandainya&#8221; dan makin pandai untuk menyalahkan. </font><font color="#666666">Menyalahkan kenapa dia miskin, menyalahkan orang kaya yang memandang sebelah mata, menyalahkan pemerintah yang tidak peduli, dan bahkan sampai menyalahkan Tuhan yang menciptakan mereka dalam kemiskinan. </font></p>
<p><font color="#666666">Salahkan mereka kalau sampai begitu? Tidak sepenuhnya. Karena dengan berbagai keterbatasan mereka, orang miskin memang lebih mudah untuk dimanipulasi. </font></p>
<p><font color="#666666">Saya pribadi berpendapat kesalahan terbesar tetap pada stasiun TV dan para produsen sinetron tersebut. </font><font color="#666666">Sebagai golongan yang lebih tahu dan lebih &#8220;pandai&#8221;, sudah sepatutnya stasiun TV dan produsen sinetron lebih tahu diri. T</font>api ternyata sampai sekarang stasiun TV dan produsen sinetron masih saja miskin hati dan mereka lebih suka membodohi karena dengan begitu profit akan lebih cepat untuk bisa dinikmati.</p>
<p>Solusinya gimana? Ah, sudah ribuan solusi disampaikan. Tapi solusi tidak akan menjadi sebuah penyelesaian selama stasiun TV dan produsen sinetron tidak mau mendengarkan. Selama mereka masih budek, maka selama itu pula solusi menjadi basi. </p>
<p><em>Baca juga posting oleh Refanidea, <a href="http://refanidea.wordpress.com/2008/03/05/global-sinetron-warning/" target="_blank">Global Sinetron Warning.</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adityafajar.com/2008/05/25/sinetron-favoritnya-si-miskin-hati/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Asumsi Hilang, Ide pun Datang</title>
		<link>http://adityafajar.com/2008/05/23/asumsi-hilang-ide-pun-datang/</link>
		<comments>http://adityafajar.com/2008/05/23/asumsi-hilang-ide-pun-datang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 May 2008 16:46:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adityafajar.com/2008/05/23/asumsi-hilang-ide-pun-datang/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika saya masih di negeri kangguru, teman-teman kampus dari Indonesia suka berkumpul. Suatu saat kita membahas tentang membuka bisnis dan berawang-awang mempunyai usaha bersama. Ide-ide pun bermunculan. Ada yang menyarankan untuk buka butik, membuka toko kue, dan ada pula yang menyarankan untuk buka taman kanak-kanak. Ketika giliran saya ditanya, saya menjawab, bisnis biro jodoh saja.
Saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika saya masih di negeri kangguru, teman-teman kampus dari Indonesia suka berkumpul. Suatu saat kita membahas tentang membuka bisnis dan berawang-awang mempunyai usaha bersama. Ide-ide pun bermunculan. Ada yang menyarankan untuk buka butik, membuka toko kue, dan ada pula yang menyarankan untuk buka taman kanak-kanak. Ketika giliran saya ditanya, saya menjawab, bisnis biro jodoh saja.</p>
<p>Saat itu teman-teman mentertawakan dan malah meledek bahwa ide itu lebih karena saya sedang cari pacar. Ada benarnya juga sih he..he..he.. tapi kalau ditelaah lagi, ide saya itu sebenarnya berdasarkan analisa saya tentang jumlah wanita yang akan lebih banyak daripada jumlah laki-laki. </p>
<p>Adalah fakta kalau jumlah perempuan akan terus bertambah melebihi jumlah laki-laki. Dan kondisi ini tentunya akan menciptakan sebuah permintaan (<em>demand</em>) di mana para wanita akan saling berkompetisi mendapatkan mahluk yang jumlahnya makin berkurang, laki-laki.</p>
<p>Dari kacamata usaha ini adalah celah yang bisa dijadikan peluang bisnis. Dan benar saja, sekembalinya saya dari Australia, banyak layanan jasa biro jodoh bermunculan di Indonesia. </p>
<p><em>Well</em>, walapun saya tidak meneruskan dan tidak mewujudkan ide biro jodoh saya, tapi dari situ saya belajar sesuatu: <em>Jangan pernah takut untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan walau terdengar atau terlihat bodoh sekalipun. </em></p>
<p>Saya yakin ide-ide bisnis akan selalu bermunculan ketika kita bisa membebaskan pikiran dan hati kita dari belenggu asumsi. Karena asumsi akan mengkerdilkan kreatifitas dan mematahkan semangat.</p>
<p>Lalu apa sebenarnya asumsi itu? Asumsi tidaklah lebih dari sebuah kesimpulan yang terburu-buru. Seseorang yang berasumsi akan cenderung meyakini hasil akhir tanpa mau menelaah lebih jauh hal-hal yang ada di depannya. Contohnya dengan bilang usaha itu perlu modal besar. Ini adalah asumsi. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, setiap orang sebenarnya sudah punya modal terbesar untuk jadi <em>entrepreneur</em>. Apakah itu? Ya kepalanya sendiri. </p>
<p>Punya uang ratusan juta tidak akan bisa dijadikan modal usaha kalau orang tersebut tidak mau berpikir bagaimana mengelola uangnya dengan baik. Seseorang yang tidak punya uang tidak akan punya penghasilan kalau dia tidak mau menggunakan kepalanya untuk mencari-cari ide kreatif untuk dijadikan produk yang bisa dijual. Dan seseorang bisa dipastikan mentok di jalan kalau belum apa-apa sudah bilang susah atau tidak bisa. </p>
<p><em>So</em>, stop, atau setidaknya kurangilah, berasumsi. Jangan biarkan ide-ide kita dicap sebagai ide-ide tidak berguna lantaran asumsi yang dibuat oleh diri kita sendiri. Jangan biarkan kreatifitas kita terbelenggu dengan anggapan-anggapan yang nantinya malah membuat kita jadi malas untuk mandiri.</p>
<p>Biarkan saja pikiran kita menjelajahi segala kemungkinan. Biarkan saja pikiran kita berusaha menggali potensi, menilik setiap celah, dan berkreasi mencari solusi.</p>
<p>Siapa tahu dari penjelajahan, penggalian, penilikan, dan dari kreatifitas tadi kita bisa menemukan satu ide <em>brilliant</em> yang bisa memberikan kita kepuasan batin dan juga kepuasan finansial. </p>
<p>Yuk berpikir untuk mencari ide-ide baru?! Yuk mencoba untuk menjadi seorang <em>entrepreneur</em>?! Yuk mencoba untuk jadi orang yang tidak lagi berasumsi?! <img src='http://adityafajar.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adityafajar.com/2008/05/23/asumsi-hilang-ide-pun-datang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Cowok Bule Lebih Mengerti Wanita?</title>
		<link>http://adityafajar.com/2008/05/22/cowok-bule-lebih-mengerti-wanita/</link>
		<comments>http://adityafajar.com/2008/05/22/cowok-bule-lebih-mengerti-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 May 2008 07:12:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Relationships]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adityafajar.com/2008/05/22/cowok-bule-lebih-mengerti-wanita/</guid>
		<description><![CDATA[Saya suka nyengir sendiri kalau mendengar ada wanita Indonesia yang maunya sama cowok bule saja. Menurut mereka cowok bule itu lebih menarik karena postur dan penampilannya lebih oke. Selain itu ada juga yang berpendapat cowok bule itu lebih memberikan jaminan ekonomi. Yang lebih lagi dibilang bahwa cowok bule lebih mengerti wanita.
Mengenai cowok bule lebih menarik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya suka <em>nyengir</em> sendiri kalau mendengar ada wanita Indonesia yang maunya sama cowok bule saja. Menurut mereka cowok bule itu lebih menarik karena postur dan penampilannya lebih oke. Selain itu ada juga yang berpendapat cowok bule itu lebih memberikan jaminan ekonomi. Yang lebih lagi dibilang bahwa cowok bule lebih mengerti wanita.</p>
<p>Mengenai cowok bule lebih menarik dan lebih memberikan jaminan ekonomi itu tergantung selera masing-masing. Tapi pemikiran yang beranggapan cowok bule lebih mengerti wanita menurut saya itu terlalu dibesar-besarkan.</p>
<p>Bukannya saya sirik. Tidak sama sekali. Namun menilai kualitas dan kemampuan seorang laki-laki dalam memahami wanita hanya karena dia seorang bule adalah pemikiran yang mengada-ada. </p>
<p>Cowok bule tentu lebih bisa diterima oleh seorang wanita yang memang mau mengadopsi cara hidup atau budaya di mana cowok bule itu berasal. Bila seorang wanita cenderung untuk menyukai cara-cara orang barat memperlakukan wanitanya, maka sang wanita secara otomatis akan menemukan kecocokan dengan cowok-cowok bule. Sedangkan seorang wanita yang ingin diperlakukan sebagaimana budaya timur memperlakukan wanitanya, tentu sang wanita akan lebih menemukan kecocokan dengan cowok-cowok Asia.</p>
<p>Semuanya akan kembali kepada pola pikir dan cara pandang wanita itu sendiri dalam menafsirkan &#8220;perlakuan layak&#8221; seorang laki-laki terhadap wanita. Kalau &#8220;perlakuan layak&#8221; model barat lebih disukai, tentunya si wanita akan mencari-cari laki-laki yang bisa memberikan &#8220;perlakuan-layak&#8221; ala budaya barat, dan begitu pula sebaliknya.</p>
<p>Menurut saya, faktor budaya tidak terlalu berpengaruh terhadap kemampuan laki-laki memahami wanita. Budaya hanya berperan dalam membentuk persepsi bagaimana seharusnya seorang laki-laki memandang dan memposisikan wanita. Sedangkan untuk memahami wanita dibutuhkan lebih dari sekedar budaya, kebiasaan, dan warna kulit.</p>
<p>Yang dibutuhkan seorang laki-laki untuk memahami seorang wanita adalah dengan memahami kodrat atau fitrah wanita itu sendiri. Tidak penting wanita itu berasal dari mana. Perbedaan yang ada hanyalah sekedar pengaruh didikan, lingkungan, dan karakter wanita itu sendiri sebagai seorang individu.</p>
<p>Saya yakin semua wanita akan merasa senang bila menemukan seorang laki-laki yang bisa menjadi pendengar yang baik. Bisa memberikan rasa nyaman dan aman. Bisa meyakinkan sang wanita bahwa dialah satu-satunya wanita yang dicintainya. Bisa memberikan perhatian pada hal-hal kecil seperti rambut baru, sepatu baru, ataupun make up baru. Bisa tetap memuji walaupun sang wanita sedang jerawatan. Bisa tetap sayang walaupun sang wanita bersikap ketus karena rasa cemburunya. Bisa tetap tersenyum dan bersabar walaupun sang wanita sedang uring-uringan karena sebentar lagi datang bulan. </p>
<p>Hal-hal di atas adalah beberapa contoh kecil yang sebenarnya diharapkan wanita dari seorang laki-laki. Ketika sang wanita menemukan laki-laki tersebut, maka anggapan yang mengatakan cowok bule lebih bisa mengerti wanita secara otomatis menjadi sesuatu yang tidak relevan.&nbsp; </p>
<p>Nah, bagi yang masih mencari, daripada mempersempit peluang untuk mendapatkan cowok, lebih baik <em>open-minded</em> saja dan tidak membatasi diri hanya kepada cowok bule. Toh, masih banyak laki-laki yang baik hatinya dan bisa memperlakukan sang wanita layaknya seorang putri. <img src='http://adityafajar.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adityafajar.com/2008/05/22/cowok-bule-lebih-mengerti-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
