
<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AdityaFajar.com &#187; Others</title>
	<atom:link href="http://adityafajar.com/category/others/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adityafajar.com</link>
	<description>CONVERSATIONS ABOUT SMALL BUSINESS AND RELATIONSHIP</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Jun 2010 18:51:06 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Pie Susu Bali, Dari Iseng Jadi Pengen Beli</title>
		<link>http://adityafajar.com/2010/06/18/pie-susu-bali-dari-iseng-jadi-pengen-beli/</link>
		<comments>http://adityafajar.com/2010/06/18/pie-susu-bali-dari-iseng-jadi-pengen-beli/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 07:07:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aditya Fajar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Others]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[jual pie susu]]></category>
		<category><![CDATA[khas bali]]></category>
		<category><![CDATA[oleh-oleh]]></category>
		<category><![CDATA[pie]]></category>
		<category><![CDATA[pie susu bali]]></category>
		<category><![CDATA[sosis]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[titiles]]></category>
		<category><![CDATA[titiles sosis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adityafajar.com/2010/06/18/pie-susu-bali-dari-iseng-jadi-pengen-beli/</guid>
		<description><![CDATA[Wah, udah lama saya tidak menulis artikel di blog ini. Setelah kesibukan dalam mengurusi bisnis yogurt milik saya, akhirnya tiba saat untuk sedikit memanjakan diri. Ya, saatnya berselancar di dunia maya dan mencari info tentang makanan tentunya he..he..he&#8230; 
Bicara soal makanan, entah mengapa saya jadi terkenang masa-masa saya makan pie di Australia dulu. Lezatnya pie [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://adityafajar.com/2010/05/25/inspirasi-produk-dari-isteri-hamil/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Inspirasi Produk dari Isteri Hamil'>Inspirasi Produk dari Isteri Hamil</a> <small> Kali ini saya ingin bicara sedikit tentang Rumah Yogurt,...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" border="0" alt="pie susu bali" src="http://oleholehkhasbali.com/wp-content/uploads/pie-susu-coklat-close-up.jpg" width="450" height="298" />Wah, udah lama saya tidak menulis artikel di blog ini. Setelah kesibukan dalam mengurusi bisnis yogurt milik saya, akhirnya tiba saat untuk sedikit memanjakan diri. Ya, saatnya berselancar di dunia maya dan mencari info tentang makanan tentunya he..he..he&#8230; </p>
<p align="justify">Bicara soal makanan, entah mengapa saya jadi terkenang masa-masa saya makan pie di Australia dulu. Lezatnya pie di sana membuat saya selalu teringat tentang makanan lezat yang satu ini. Nah, Sambil melihat-lihat gambar pie di Internet, tiba-tiba saja pandangan saya tertuju pada pie susu dari Bali. Penasaran, sayapun menelusurinya lebih jauh. </p>
<p align="justify">Agar lebih yakin, saya mencari di Google dengan kata kunci <em>Pie susu Bali</em>. Tak lama kemudian saya di bawa ke halaman <a title="Pie susu bali" href="http://oleholehkhasbali.com/pie-susu-bali-asli-bali.html">pie susu</a> di situs OlehOlehKhasBali.com. </p>
<p> <span id="more-1334"></span>
<p>Penasaran dengan pie susu khas Bali ini, saya langsung melihat dan hm&#8230;. nyummy&#8230; jadi pengen order nih haha&#8230; <img src='http://adityafajar.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Tapi, sebelum itu saya juga sempat melihat <a title="Titiles Sosis Bali" href="http://oleholehkhasbali.com/titiles-sosis.html">Titiles sosis</a> di halaman produk yang cukup menggoda selera. </p>
<p>Saya suka dengar kalau <em>Titiles</em> juga merupakan salah satu oleh-oleh khas bali yang mmmmm…. nikmat rasanya. Waduh, saya jadi bingung mau pesan yang mana.&#160; Habis enak semua nih kayaknya! </p>
<p>Selain makanannya, ternyata situs ini membuat saya tertarik karena tampilannya yang sangat minimalis dan mudah sekali digunakan (user friendly).&#160; Informasinya jelas dan terstruktur dengan baik (SEO nya mantap juga). </p>
<p>Buat yang penasaran, langsung aja cek website OlehOlehKhasBali.com.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://adityafajar.com/2010/05/25/inspirasi-produk-dari-isteri-hamil/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Inspirasi Produk dari Isteri Hamil'>Inspirasi Produk dari Isteri Hamil</a> <small> Kali ini saya ingin bicara sedikit tentang Rumah Yogurt,...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adityafajar.com/2010/06/18/pie-susu-bali-dari-iseng-jadi-pengen-beli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemacetan yang Sengaja Dibiarkan</title>
		<link>http://adityafajar.com/2010/04/10/kemacetan-yang-sengaja-dibiarkan/</link>
		<comments>http://adityafajar.com/2010/04/10/kemacetan-yang-sengaja-dibiarkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Apr 2010 14:09:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aditya Fajar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Others]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adityafajar.com/2010/04/10/kemacetan-yang-sengaja-dibiarkan/</guid>
		<description><![CDATA[ 

Bagi mereka yang sering melewati jalan Prof. Dr. Satrio, Jakarta-Selatan, tentunya sudah tahu betul kemacetan yang kerap terjadi di sana. Efeknya pun luar biasa, terutama pada jam-jam sibuk. 
Jika kita datang dari arah Tebet, biasanya macet sudah bisa dirasakan mulai dari jalan Casablanca. Sedangkan jika kita datang dari Tanah Abang, maka macet ini bisa [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://adityafajar.com/wp-content/uploads/2010/04/macet2.jpg"><img style="border-right-width: 0px; display: block; float: none; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: auto; border-left-width: 0px; margin-right: auto" title="macet2" border="0" alt="macet2" src="http://adityafajar.com/wp-content/uploads/2010/04/macet2_thumb.jpg" width="483" height="330" /></a> </p>
</p>
<p>Bagi mereka yang sering melewati jalan Prof. Dr. Satrio, Jakarta-Selatan, tentunya sudah tahu betul kemacetan yang kerap terjadi di sana. Efeknya pun luar biasa, terutama pada jam-jam sibuk. </p>
<p>Jika kita datang dari arah Tebet, biasanya macet sudah bisa dirasakan mulai dari jalan Casablanca. Sedangkan jika kita datang dari Tanah Abang, maka macet ini bisa dirasakan mulai dari jalan Kyai Haji Mas Mansyur. Begitupula dengan kendaraan yang datang dari arah Sudirman, tidak jauh berbeda keadaannya.</p>
<p> <span id="more-1314"></span>
<p>Kalau kita amati bersama, kemacetan ini berasal dari tersendatnya arus lalu lintas di depan Mall Ambasador dan di depan komplek Mega Kuningan.</p>
<p><a href="http://adityafajar.com/wp-content/uploads/2010/04/macet3.jpg"><img style="border-right-width: 0px; display: block; float: none; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: auto; border-left-width: 0px; margin-right: auto" title="macet3" border="0" alt="macet3" src="http://adityafajar.com/wp-content/uploads/2010/04/macet3_thumb.jpg" width="472" height="342" /></a> </p>
<p>Tersendatnya arus lalu lintas sebagian besar disebabkan oleh banyaknya pejalan kaki yang menyeberang dari kawasan Mega Kuningan menuju Mall Ambasador dan sebaliknya. Banyaknya para penyeberang tersebut membuat aliran kendaraan menjadi tertumpuk di titik tersebut (Titik Macet #1).</p>
<p>Selain itu, banyaknya kendaraan yang keluar dari kawasan Mega Kuningan (Titik Macet #2) juga berperan sebagai titik penghambat kedua setelah melewati Titik Macet #1 dari arah Casablanca.</p>
<p>Lebih jauh, arus kendaraan yang datang dari jalan Sudirman ataupun yang dari jalan K.H. Mas Mansyur, biasanya terhadang oleh kendaraan yang ingin masuk ke parkiran ITC Kuningan (Titik Macet #3A). Kemudian, antrian kendaraan yang ingin masuk ke jalur lobi Mall Ambasador (Titik Macet #3B) juga memperparah keadaan.</p>
<p>Tidak sampai di situ, setelah terhadang di Titik Macet #3A dan #3B, arus kendaraan juga kembali terhadang oleh Titik Macet #1. Kalau begini, lengkap sudah penderitaan!</p>
<p>Anehnya, kondisi ini sepertinya tidak pernah mendapat perhatian dari pihak-pihak yang terkait.&#160; Sejauh ini, “solusi” yang terlihat hanya dengan mengerahkan petugas penyeberangan saja. Ini jelas solusi seadanya dan berguna hanya untuk para penyeberang, dan bukan untuk para pengguna jalan. </p>
<p>Sebuah pemberitaan di <a href="http://megapolitan.kompas.com/read/2010/04/09/18322941/Jembatan.Penyeberangan.Depan.Mal.Ambasador.Perlu.Sekali..." target="_blank">Kompas</a> sudah menyatakan betapa perlunya jembatan penyeberangan di daerah ini, dan menurut saya, jembatan penyeberangan tersebut merupakan <u>sebuah kebutuhan yang mendesak.</u></p>
<p>Tapi seperti biasa, Pemerintah bersikap pasif dan hanya menunggu. Berikut jawaban dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta ketika di tanya Kompas:</p>
<blockquote><p>&quot;Bikin jembatan sih kami bisa. Gampang, asal ada permintaan dari warga sekitar kalau warga resah karena enggak ada jembatan, atau dari Mal Ambasador-nya. Nanti kami survei. Kalau memang perlu, bangun&quot;</p>
</blockquote>
<p>Ayolah, <em>be reasonable</em>. Lokasi sumber kemacetan bukanlah sebuah lokasi di mana banyak warga tinggal ataupun tahu bagaimana caranya menyampaikan keberatan ke Dinas Perhubungan. Mengharapkan pihak Mall Ambasador dan Mega Kuningan sama saja bohong. Karena sangat mungkin mereka akan bersikap bahwa itu bukan tanggung jawabnya (walaupun secara etika mereka seharunya juga proaktif).</p>
<p>Dinas Perhubungan DKI Jakarta sudah sepantasnya bersikap dan berpikir cerdas, bukan dengan menjawab asal-asalan seperti itu. </p>
<p>Bayangkan saja, sebuah masalah yang sudah jelas penyebab dan efek yang ditimbulkan malah dibiarkan begitu saja hanya karena Pemerintahnya belum menerima laporan keberatan. Perlu separah apakah kemacetan di daerah tersebut agar Pemerintah DKI&#160; bisa melihat dan <u>tersadar</u> bahwa masalah ini perlu segera ditangani?</p>
<p align="center">* * *</p>
<p align="justify">Jika anda sering melewati Jl. Prof. Dr. Satrio dan merasa terganggu dengan kemacetan di depan Mall Ambasador dan Mega Kuningan, silakan bergabung dengan Facebook Group: <a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=104135539628705&amp;ref=mf" target="_blank">Bangun Jembatan Penyeberangan di Depan Mega Kuningan dan Mall Ambasador</a>. Suarakan pendapat dan keinginan Anda! </p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adityafajar.com/2010/04/10/kemacetan-yang-sengaja-dibiarkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pantaskah Memecat Murid Yang Mencela Gurunya?</title>
		<link>http://adityafajar.com/2010/02/16/pantaskah-memecat-murid-yang-mencela-gurunya/</link>
		<comments>http://adityafajar.com/2010/02/16/pantaskah-memecat-murid-yang-mencela-gurunya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 13:53:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aditya Fajar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Others]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adityafajar.com/2010/02/16/pantaskah-memecat-murid-yang-mencela-gurunya/</guid>
		<description><![CDATA[
Saya tergelitik untuk memberikan komentar tentang pemecatan empat murid SMUN 4 Tanjung Pinang, Riau, beberapa waktu yang lalu. Berdasarkan berita yang saya dapatkan dari OkeZone.com tanggal 14 Feb 2010, di situ dikatakan bahwa penghinaan yang dilakukan keempat siswa tersebut sudah sedemikian keterlaluan sehingga dirasa perlu untuk diambil tindakan tegas oleh pihak sekolah.
Wakil Kepala Sekolah SMUN [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Studying..." href="http://www.flickr.com/photos/94085508@N00/160696504/"><img border="0" alt="Studying..." src="http://static.flickr.com/77/160696504_0653f1dc91.jpg" width="476" height="317" /></a></p>
<p>Saya tergelitik untuk memberikan komentar tentang pemecatan empat murid SMUN 4 Tanjung Pinang, Riau, beberapa waktu yang lalu. Berdasarkan berita yang saya dapatkan dari <a href="http://techno.okezone.com/read/2010/02/14/55/303502/55/wakepsek-penghinaan-siswa-di-facebook-keterlaluan" target="_blank">OkeZone.com</a> tanggal 14 Feb 2010, di situ dikatakan bahwa penghinaan yang dilakukan keempat siswa tersebut sudah sedemikian keterlaluan sehingga dirasa perlu untuk diambil tindakan tegas oleh pihak sekolah.</p>
<blockquote><p>Wakil Kepala Sekolah SMUN 4 Tanjung Pinang Yose Rizal [mengatakan bahwa] empat siswanya [tersebut] mencela seorang guru bidang studi mata pelajaran Keterampilan bernama Yunita yang sangat menyinggung hatinya.</p>
<p>Jika boleh dikatakan, katanya, penggalan kalimat penghinaan yang ditulis dijejaring sosial Fabebook itu berbunyi &quot;Dasar wanita tua! Mampus kamu tidak laku-laku kawin. Dasar jahat!&quot;. Tak hanya itu, para siswa ini juga menghina sekolahnya sendiri.</p>
<p>&quot;Siswa ini juga mengancam membunuh guru itu (Yunita). Inikan sudah keterlaluan. Sampai-sampai sang guru menangis mengadu ke kita,&quot; kata Yose dalam perbincangan dengan <strong>okezone</strong>, Minggu (14/2/2010).</p>
<p>… Keempat pelajar yang dikeluarkan tersebut adalah siswa kelas 2 jurusan IPA. [Perbuatan] siswa yang dianggap telah menghina guru terjadi saat keempatnya siswa tersebut tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang diberikan oleh guru keterampilan.</p>
</blockquote>
<p> <span id="more-1305"></span>
<p>Pertama-tama saya harus menjelaskan bahwa saya bukanlah seorang guru, tapi seperti kita semua, saya pernah menjadi seorang murid. </p>
<p>Sebagai mantan murid, rasanya kita harus mengakui bahwa pada satu waktu dan tingkatan tertentu kita pernah “mengolok-olok” para guru. Terutama mereka yang kita pandang sebagai guru yang galak dan/atau menyebalkan.</p>
<p>Diolok-olok murid adalah salah satu resiko pekerjaan yang setiap guru harus hadapi, dan saya pikir, setiap guru mengetahui dan menyadari akan hal ini. Namun yang perlu diingat adalah, olok-olok juga mengenal batas toleransi.</p>
<p>Saya rasa kebanyakan guru masih bisa mentolerir olok-olok seputar kinerja pengajarannya. Olok-olok seperti ini bisa dianggap sebagai sebuah kritik atas profesionalitas guru yang bersangkutan.</p>
<p>Namun jika olok-olok tersebut sudah memasuki ranah pribadi, seperti yang dilakukan oleh keempat siswa SMU di atas, maka sudah sepantasnyalah mereka diberikan konsekwensi yang lebih tegas.</p>
<p>Pembelaan yang diberikan oleh Kak Seto dengan menyatakan bahwa “<em>&#8230; guru justru perlu menginstropeksi diri agar mendapat penilaian positif dari muridnya”</em> (<a href="http://news.okezone.com/read/2010/02/16/338/304063/komnas-anak-terima-100-laporan-korban-facebook" target="_blank">Okezone, 2010</a>) adalah pandangan yang kurang tepat dan sebuah pembenaran yang dipaksakan. </p>
<p>Memang benar, guru perlu terus menginstrospeksi diri.&#160; Tapi ini bukan berarti olok-olok yang sudah menyentuh ranah pribadi cukup direspon dengan “pengertian” dan “bimbingan”.&#160; Apalagi jika olok-olok tersebut dipublikasikan di tempat umum seperti Facebook, di mana sang guru dipermalukan ke khalayak ramai.</p>
<p>Anak SMU adalah manusia yang sudah mempunyai kemampuan untuk memisahkan mana yang santun, mana yang tercela. Sehingga kalau mereka melakukan sesuatu yang santun atau sesuatu yang tercela, mereka sudah cukup tahu apa akibat dari tindakan yang diambilnya.</p>
<p>Pemecatan yang dilakukan SMUN 4 Tanjung Pinang sudahlah tepat. Kalau tindakan keempat siswa tersebut harus dimaklumi dan ditoleransi oleh para guru, maka menurut saya, hal itu justru menjadi sebuah tindakan yang tidak mendidik.</p>
<p>Apa yang dilakukan SMUN 4 Tanjung Pinang merupakan sebuah pelajaran tentang konsekwensi hidup atas sebuah prilaku dan tindakan. Bahkan mungkin, pemecatan ini bisa menjadi sebuah “nasehat” terbaik yang pernah diterima oleh keempat murid tersebut.</p>
<p>Pantas tidaknya pemecatan terhadap siswa yang mengolok-olok gurunya tentu harus didasari oleh bukti dan tingkat ketidaksopanannya. </p>
<p>Apa yang terjadi di SMUN 4 Tanjung Pinang, Riau, merupakan tindakan yang cukup adil. Apa yang diucapkan (ditulis) oleh keempat murid tersebut sudah sepantasnya dihadapkan kepada konsekwensi hidup yang lebih tegas. Pembelaan terhadap tindakan mereka bisa dipandang sebagai sebuah pembenaran yang dipaksakan, dan sebagai sebuah sikap yang&#160; justru tidak mendidik.</p>
<p>Bagaimana menurut anda?</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adityafajar.com/2010/02/16/pantaskah-memecat-murid-yang-mencela-gurunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyikapi Industri Belas Kasihan</title>
		<link>http://adityafajar.com/2010/02/07/menyikapi-industri-belas-kasihan/</link>
		<comments>http://adityafajar.com/2010/02/07/menyikapi-industri-belas-kasihan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 16:49:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aditya Fajar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Others]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adityafajar.com/2010/02/07/menyikapi-industri-belas-kasihan/</guid>
		<description><![CDATA[
Faktor ekonomi, rendahnya pendidikan, dan minimnya lapangan kerja sering ditunding sebagai penyebab meningkatnya jumlah pengemis. Selain itu, bertambahnya jumlah pengemis juga sering dipandang sebagai bentuk kegagalan pemerintah dalam melindungi dan mensejahterakan rakyatnya.
Melihat kondisi pengemis secara umum memang menyedihkan, terlebih bila melibatkan anak-anak. Berulang kali hati menjadi tidak tega dan terenyuh untuk memberi. 
 
Namun kemudian [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto" border="0" alt="Humanis" src="http://static.flickr.com/2276/2292160048_e20f717282.jpg" width="477" height="318" /></p>
<p>Faktor ekonomi, rendahnya pendidikan, dan minimnya lapangan kerja sering ditunding sebagai penyebab meningkatnya jumlah pengemis. Selain itu, bertambahnya jumlah pengemis juga sering dipandang sebagai bentuk kegagalan pemerintah dalam melindungi dan mensejahterakan rakyatnya.</p>
<p>Melihat kondisi pengemis secara umum memang menyedihkan, terlebih bila melibatkan anak-anak. Berulang kali hati menjadi tidak tega dan terenyuh untuk memberi. </p>
<p> <span id="more-1290"></span>
<p>Namun kemudian keikhlasan tersebut berubah menjadi pamrih ketika kita mengetahui bahwa dunia meminta-minta sudah sedemikian teroganisir. Lebih jauh, para pelakunya pun kini telah menjadikan mengemis sebagai sebuah profesi.</p>
<p>Saya tidak mengetahui secara pasti, tapi pertumbuhan kelompok-kelompok pengemis sepertinya makin subur. Sehingga tidak berlebihan kalau saya bilang bahwa meminta-minta sekarang ini sudah menjelma menjadi sebuah industri.</p>
<p>Ketika sejumlah industri mengeluhkan tentang dibukanya keran perdagangan bebas dengan China,&#160; industri belas kasihan nampaknya menjadi salah satu industri yang bisa bertahan dan punya potensi untuk terus bertambah besar.</p>
<p>Industri belas kasihan tergolong industri dilematis. Dari sisi orang mampu, mereka yang bergelut di industri ini acapkali dipandang sebagai kaum terpinggirkan dan bahkan tidak jarang dianggap sebagai <em>“sampah”</em> masyarakat.&#160; </p>
<p>Sedangkan dari sisi para pelaku, menjadikan mengemis sebagai ladang bisnis yang terorganisir membuat operasi mereka semakin efektif. Peluang untuk meraup untungpun semakin besar. Tak hanya itu, mengemis yang terkelompokkan dengan baik juga terbukti ampuh untuk melindungi eksistensi mereka dari berbagai ancaman <em>“ketertiban”</em> yang dilakukan oleh pemerintah. </p>
<p>Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, bagaimana menghadapi kaum pengemis yang telah begitu berhasil menciptakan sebuah kekuatan bisnis dari rasa iba?</p>
<p>Cara menghadapi yang paling rasional, menurut saya, adalah dengan memberdayakan badan-badan amal dan zakat. Selain itu juga mendoakan para pengemis supaya dimudahkan pintu rejekinya, dan tersadarkan untuk segera meninggalkan industri bermodal iba tersebut.&#160; Mengambil sikap memusuhi atau bahkan memerangi bukanlah pilihan yang bijak dan tidak pula konstruktif.</p>
<p>Saya tidak bisa menyalahkan mereka yang memberi dan saya tidak bisa pula menuding mereka yang tidak mau memberi sebagai tindakan yang tidak manusiawi. Karena saya beranggapan masing-masing mempunyai alasan yang didasari oleh cara pandang yang berbeda-beda.</p>
<p>Pada akhirnya yang terpenting adalah niat kita. </p>
<p>Jika kita memang berniat untuk sedekah, maka lakukanlah tanpa harus pusing apakah para pengemis itu jujur atau memang sebagai professional. Jika niat kita menolong dengan tidak memberi, maka salurkanlah pertolongan kita ke badan-badan yang bergerak dalam bidang sosial. </p>
<p>Karena sekecil apapun perbuatan kita, bila itu dilandasi oleh niatan yang baik, maka Insha Allah, akan menghasilkan hal-hal yang baik pula. <img title=":)" alt=":)" src="http://adityafajar.com/smilies/yahoo_smiley.gif" width="18" height="18" /></p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adityafajar.com/2010/02/07/menyikapi-industri-belas-kasihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>5 Alasan Untuk Tidak Suka Sinetron</title>
		<link>http://adityafajar.com/2010/01/20/5-alasan-untuk-tidak-suka-sinetron/</link>
		<comments>http://adityafajar.com/2010/01/20/5-alasan-untuk-tidak-suka-sinetron/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 04:57:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aditya Fajar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Others]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adityafajar.com/2010/01/20/5-alasan-untuk-tidak-suka-sinetron/</guid>
		<description><![CDATA[
Kali ini saya ingin menulis sesuatu yang sedikit menyimpang dari topik-topik saya sebelumnya, yaitu soal sinetron. 
Sebenarnya saya tidak&#160; pernah terlalu memperhatikan sinetron, apalagi sampai sengaja menontonnya. Namun belakangan ini saya sedikit ingin tahu, jadi saya menyempatkan diri untuk menonton beberapa episode dari berbagai judul sinetron yang ada.
Dari apa yang saya lihat, saya menemukan setidaknya [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="The Soap Opera" href="http://www.flickr.com/photos/33988281@N00/3686040649/"><img style="display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto" border="0" alt="The Soap Opera" src="http://static.flickr.com/2512/3686040649_fb1e779c8c.jpg" width="474" height="343" /></a></p>
<p>Kali ini saya ingin menulis sesuatu yang sedikit menyimpang dari topik-topik saya sebelumnya, yaitu soal sinetron. </p>
<p>Sebenarnya saya tidak&#160; pernah terlalu memperhatikan sinetron, apalagi sampai sengaja menontonnya. Namun belakangan ini saya sedikit ingin tahu, jadi saya menyempatkan diri untuk menonton beberapa episode dari berbagai judul sinetron yang ada.</p>
<p>Dari apa yang saya lihat, saya menemukan setidaknya lima alasan untuk tidak menyukai sinetron. Bahkan menurut saya, kita tidak perlu waktu lama untuk bisa menyimpulkan mengapa sinetron lebih baik dihindari saja.</p>
<p>Berikut adalah lima alasan kenapa saya tidak menyukai sinetron:</p>
<p> <span id="more-1271"></span><br />
<h4><strong>1. Tema yang Monoton</strong></h4>
<p>Beberapa hari saja saya mengikuti sinetron, saya merasa menjadi lebih bodoh. Alur cerita yang selalu dibuat-buat lagi dipaksakan memaksa kita untuk menerima pemikiran yang tidak logis dan cenderung emosional.</p>
<p>Jalan cerita yang tidak pernah jauh dari percintaan konyol, harta, dan perebutan kekuasaan, dalam pandangan saya, adalah bukti betapa minimnya kemampuan para pelaku sinetron untuk menghasilkan sesuatu yang baru, kreatif, dan bermutu. Akhirnya, dari satu sinetron ke sinetron lain hanyalah pengulangan dari tema yang monoton dan itu-itu saja.</p>
<p>Andai saja pelaku sinetron mau membuka mata, maka mereka bisa melihat betapa banyak bahan cerita yang bisa digunakan untuk memperbaiki kualitas tayangan-tayangan mereka. </p>
<p>&#160;</p>
<h4><strong>2. Dikelilingi Oleh Karakter-Karakter Superfisial</strong></h4>
<p>Saya tidak mengerti mengapa sinetron selalu menampilkan karakter-karakter antagonis yang begitu jahat lagi pendendam dan karakter-karakter protagonis yang kelewat baik dan sabar.</p>
<p>Karakter antagonis punya rasa jahat yang begitu dalam&#160; untuk membenci, menghina, dan mencelakakan. Yang menyedihkannya lagi, karakter-karakter jahat seperti ini berada di lingkungkan keluarga seperti ibu mertua, ayah, saudara, paman, dan sebagainya.&#160; </p>
<p>Apakah ini cerminan keluarga di masyarakat kita? Saya harap bukan.&#160; Lebih jauh, penggambaran anggota keluarga yang begitu jahat sama saja menyarankan kita untuk selalu curiga dan berburuk sangka kepada mereka.</p>
<p>Sedangkan untuk karakter protagonis, kebaikan dan kesabaran yang luar biasa malah membuat mereka menjadi korban, tidak berdaya, cengeng, menerima-saja, dan seperti tidak punya harga diri.&#160; Lalu siapakah yang biasa diposisikan seperti itu? Yap, para wanita.&#160; </p>
<p>Sungguh, karakter-karakter antagonis dan protagonis dalam kebanyakan sinetron merupakan gambaran betapa malasnya para pelaku sinetron untuk mengolah karakter yang lebih manusiawi.</p>
<p>&#160;</p>
<h4><strong>3. Selera Musik Yang Rendah</strong></h4>
<p>Saya berpendapat musik yang ada dalam sinetron adalah musik kelas kacangan. Coba kita perhatikan betapa “hinga-bingarnya” musik yang menyertai sebuah alur cerita. Hanya bertemu muka saja, bisa diiringi oleh musik yang seolah-olah terjadi gempa bumi yang dahsyat. Belum lagi dengan adegan yang diperlambat (slow motion) untuk mendapatkan kesan dramatis. </p>
<p>Lagi-lagi saya tidak mengerti mengapa sinetron menghamba sekali pada dramatisasi semacam itu. Kalau saya perhatikan drama Jepang atau Korea, iringan musiknya sederhana saja (bahkan kadang tidak ada sama sekali). Paling hanya diiringi oleh satu atau dua instrumen dengan nada yang lembut, dan ini cukup efektif untuk membuat penonton meresapi alur cerita.</p>
<p>Coba bandingkan dengan sinetron. Hampir setiap detiknya diiringi oleh musik yang bombastis. Seolah-olah ada marching band yang selalu mengiringi. Membuat pekak telinga saja bukan?</p>
<p>&#160;</p>
<h4><strong>4. Akting Picisan</strong></h4>
<p>Saya bukan orang seni, tapi saya tahu akting yang bagus dan yang bukan. Dan kalau kita bicara soal akting di Sinetron? Saya bisa bilang kebanyakan adalah akting murahan.</p>
<p>Ada juga memang yang bagus, tapi bisa dihitung dengan jari dan biasanya tidak jauh-jauh dari akting menangis. Sedangkan sisanya? Hmm.. silakan tonton saja sendiri.</p>
<p>Ada pertanyaan yang muncul di benak saya. Kira-kira komunitas pentas dan drama merasa dilecehkan tidak ya dengan kualitas akting sinetron? Saya jadi ingin tahu apa kata sekolah-sekolah dan fakultas-fakultas seni tentang hal ini.</p>
<p>Kalau dipikir-pikir lagi, untuk bisa dianggap “akting” di sinetron itu mudah saja kok. Persyaratannya cuma lima: bisa pura-pura kaget, bisa pasang tampang sedih, bisa bentak-bentak, bisa pasang muka licik, dan bisa bicara dengan diri sendiri. Mudah bukan? Anak kecil saja bisa kok.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong></strong></p>
<h4><strong>5. Pemaksaan Budaya Bollywood</strong></h4>
<p>Kalau diperhatikan lebih dalam, gaya dan tema yang ditampilkan sinetron merupakan replikasi (imitasi) yang kental dari drama atau film-film Bollywood. Saya tidak bermaksud mengecilkan budaya Bollywood, namun menjejali sinetron dengan gaya dan tema model Bollywood membuat dunia sinema kita seperti kehilangan identitas. </p>
<p>Jika memang budaya sinema Indonesia adalah budaya yang adaptif, mengapa budaya Bollywood terasa begitu mendominasi? Saya pikir ini tidak mungkin terjadi kalau tidak ada “pemaksaan” budaya Bollywood secara terus-menerus ke dalam dunia sinetron kita.</p>
<p>Kalaupun benar budaya Bollywood itu berdampak positif, namun mengapa begitu banyak suara kritis dan miring tentang sinetron-sinetron Indonesia? Mengapa begitu banyak suara-suara prihatin dari masyarakat yang menginginkan perbaikan kualitas sinetron?&#160; Bukankah ini sebuah signal bahwa apa yang ditawarkan oleh sinetron sebenarnya kurang diterima?</p>
<p>Suatu malam saya pernah menonton sebuah drama di SCTV, judulnya <em>Dalimun Terjerat Cinta</em>. Setting drama tersebut ada di yogyakarta dan saya menyukai tayangan tersebut. Kenapa? Karena dalam tayangan tersebut tidak ada dramatisasi berlebihan, dialog yang ringan dan cukup santun, serta iringan musik yang secukupnya. Tidak hingar-bingar seperti di sinetron pada umumnya.</p>
<p>Saya kemudian berpikir, mengapa sinetron sekarang ini tidak bisa dibuat seperti itu? Saya rasa jika sinetron bisa dibuat lebih “membumi” dan lebih “Indonesia”, maka sinetron akan lebih disukai bahkan dicintai. Lihat saja sinetron <em>Si Doel. </em>Sampai sekarang masih terkenang manis diingatan kita.</p>
<p>&#160;</p>
<p align="center">* * *</p>
<p align="justify">Sinetron sudah menjadi bagian yang erat dengan dunia sinema dan industri pertelevisian Indonesia. Sayangnya kualitas sinetron sekarang ini masih dipertanyakan. Tema yang monoton, karakter-karakter superfisial, selera musik yang rendah, akting yang buruk, dan dominasi budaya sinema tertentu adalah beberapa alasan, yang menurut saya, membuat sinetron lebih baik dihindari.</p>
<p align="justify">Bagaimana menurut anda?</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adityafajar.com/2010/01/20/5-alasan-untuk-tidak-suka-sinetron/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Infotainment vs Luna Maya, Arogansi &#8220;Jurnalistik&#8221;?</title>
		<link>http://adityafajar.com/2009/12/19/infotainment-vs-luna-maya-arogansi-jurnalistik/</link>
		<comments>http://adityafajar.com/2009/12/19/infotainment-vs-luna-maya-arogansi-jurnalistik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 21:41:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aditya Fajar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Others]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adityafajar.com/2009/12/19/infotainment-vs-luna-maya-arogansi-jurnalistik/</guid>
		<description><![CDATA[Perseteruan antara Luna Maya dan orang-orang infotainment telah memasuki tahap yang ironis dengan digugatnya Luna Maya ke Polda Metro Jaya dengan alasan pencemaran nama baik. Landasan hukum yang digunakan oleh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jaya &#8211; Department Infotainment, adalah UU ITE yang kontroversial tersebut (tentunya kita ingat dengan kasus Prita Mulyasari).
Apa yang diucapkan Luna dalam [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="margin: 5px auto 10px; display: block; float: none" border="0" alt="ribbonninja" src="http://static.flickr.com/4044/4194583438_60bcf84cae_m.jpg" width="474" height="318" />Perseteruan antara Luna Maya dan orang-orang infotainment telah memasuki tahap yang ironis dengan digugatnya Luna Maya ke Polda Metro Jaya dengan alasan pencemaran nama baik. Landasan hukum yang digunakan oleh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jaya &#8211; Department Infotainment, adalah UU ITE yang kontroversial tersebut (tentunya kita ingat dengan kasus Prita Mulyasari).</p>
<p>Apa yang diucapkan Luna dalam Twitternya memang bukanlah perkataan yang menyenangkan, namun statement Luna adalah sebuah <strong>pernyataan emosional yang bisa dimengert</strong>i. Sikap Luna tersebut sepertinya dipicu oleh para <strike>wartawan</strike> pekerja infotainment sendiri yang biasanya profokatif dan intrusif dalam mendapatkan berita.</p>
<p>Digugatnya Luna oleh PWI Jaya – Department Infotainment, sedikit banyak telah memposisikan Luna sebagai “korban” yang telah diganggu privasinya yang kemudian harus berjuang sendirian melawan “kekuatan” infotainment. Simpati pun mengalir, dan akhirnya bermunculanlah opini-opini yang menyatakan dukungannya kepada Luna.</p>
<p> <span id="more-1218"></span>
<p>Cukup adil untuk mengatakan bahwa opini-opini tersebut umumnya dilatarbelakangi oleh ketidaksukaan terhadap kualitas pemberitaan infotainment selama ini. Bahkan bisa kita temui pendapat-pendapat yang mempertanyakan kelayakan pekerja infotainment untuk disebut sebagai wartawan, karena menurut mereka, produk yang infotainment hasilkan adalah gosip (bahkan fitnah) bukan berita.</p>
<p>Tidak dipungkiri bahwa selebriti Indonesia banyak memanfaatkan infotainment sebagai alat untuk mendongkrak popularitas. Begitu efektifnya infotainment sebagai media iklan, akhirnya membuat selebritipun seperti enggan untuk mengkritisi infotainment itu sendiri.</p>
<p>Keengganan tersebut bisa jadi disebabkan oleh kekhawatiran para artis akan “hukuman” yang akan diberikan oleh <strike>wartawan</strike> pekerja infotainment (diacuhkan yang berakibat pada meredupnya popularitas). Jika sudah begini, maka makin terbuka kesempatan bagi <strike>wartawan</strike> pekerja infotainment untuk melanggar kaidah-kaidah proporsionalitas dalam usahanya mencari informasi.</p>
<p>Saya sendiri berpendapat gugatan infotaiment kepada Luna adalah berlebihan dan mungkin tidak pada tempatnya. <strong>Agak aneh rasanya jika para <strike>wartawan</strike> pekerja infotainment merasa sakit hati dengan ucapan Luna, sedangkan keseharian mereka adalah mencari sensionalitas yang acapkali dibuat-buat, dan tidak jarang pula, meyakitkan</strong>.</p>
<p>Tindakan PWI Jaya—Department Infotainment untuk menggugat Luna bisa jadi menjadi sebuah bumerang bagi <strike>wartawan</strike> pekerja infotainment sendiri. Jika mereka terus maju dengan gugatannya, maka sangat mungkin dukungan terhadap Lunapun semakin besar. Dukungan ini dapat menjelma menjadi sebuah kekuatan yang bukan lagi semata-mata tentang Luna, namun berubah menjadi sebuah gerakan melawan arogansi <strike>wartawan</strike> pekerja infotainment.</p>
<p>&#160;</p>
<p>UPDATE:</p>
<p>Setelah menimbang dan mendapat pencerahan tentang infotainment, saya akhirnya memutuskan bahwa wartawan infotainment lebih tepat disebut sebagai pekerja infotainment saja. Selain itu, produk yang mereka hasilkan banyak menyimpang dari kaidah-kaidah jurnalistik. Oleh karenanya, judul posting inipun dirubah menjadi <em>Luna Maya vs Infotainment, Arogansi “jurnalistik”?</em> (pakai tanda kutip). Maksudnya adalah berupa kritik kepada dunia infotainment untuk lebih bisa meningkatkan mutu produk-produk infonya.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adityafajar.com/2009/12/19/infotainment-vs-luna-maya-arogansi-jurnalistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Pemerintah Melihat Bisnis Anda?</title>
		<link>http://adityafajar.com/2009/05/23/bagaimana-pemerintah-melihat-bisnis-anda/</link>
		<comments>http://adityafajar.com/2009/05/23/bagaimana-pemerintah-melihat-bisnis-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 May 2009 12:21:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aditya Fajar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Others]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adityafajar.com/2009/05/23/bagaimana-pemerintah-melihat-bisnis-anda/</guid>
		<description><![CDATA[
Punya bisnis sendiri? Termasuk usaha tingkat apakah bisnis anda di mata pemerintah?
 
Sesuai dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2008&#160; tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) :
&#160;
Pengertian UMKM
Usaha Mikro 
Usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. 

Usaha Kecil 
Usaha ekonomi produktif yang [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="2/365- questioning" href="http://www.flickr.com/photos/27275027@N08/3453339893/"><img style="display: inline; margin-left: 0px; margin-right: 0px" alt="2/365- questioning" src="http://farm4.static.flickr.com/3613/3453339893_7cce29db3b.jpg" border="0" /></a></p>
<p>Punya bisnis sendiri? Termasuk usaha tingkat apakah bisnis anda di mata pemerintah?</p>
<p> <span id="more-1147"></span>
<p>Sesuai dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2008&#160; tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) :</p>
<h4>&#160;</h4>
<h4>Pengertian UMKM</h4>
<p><strong>Usaha Mikro</strong> </p>
<p>Usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. </p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong>Usaha Kecil</strong> </p>
<p>Usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Usaha Menengah</strong> </p>
<p>Usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.</p>
<p>&#160;</p>
<h4>Kriteria</h4>
<table cellspacing="0" cellpadding="2" width="558" border="1">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="19">
<p align="center">No</p>
</td>
<td valign="top" width="181">
<p align="center">Uraian</p>
</td>
<td valign="top" width="170">
<p align="center">Aset</p>
</td>
<td valign="top" width="186">
<p align="center">Omzet</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="19">1</td>
<td valign="top" width="181">Usaha Mikro</td>
<td valign="top" width="170">Maks. 50 juta</td>
<td valign="top" width="186">Maks. 300 juta</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="19">2</td>
<td valign="top" width="181">Usaha Kecil</td>
<td valign="top" width="170">&gt; 50 juta – 500 juta</td>
<td valign="top" width="186">&gt; 300 juta – 2.5 milyar</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="19">3</td>
<td valign="top" width="181">Usaha Menengah</td>
<td valign="top" width="170">&gt; 2.5 milyar – 10 milyar</td>
<td valign="top" width="186">&gt; 2.5 milyar – 50 milyar</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: <a href="www.depkop.go.id" target="_blank">Kementrian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI</a></p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adityafajar.com/2009/05/23/bagaimana-pemerintah-melihat-bisnis-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
