Menikah Dengan Keluarga

 

Duck family in holidays

Saya rasa istilah “Menikah dengan keluarga” bukanlah sesuatu yang baru bagi kebanyakan pasangan yang sudah menikah. Budaya bangsa kita yang masih memandang penting nilai-nilai kekeluargaan, sepertinya akan membuat istilah tersebut lestari.

Bagi kebanyakan orang Indonesia, keputusan untuk menikah akan dipandang lebih dari sekedar menyatukan dua individu. Namun juga menyatukan dua keluarga beserta sanak saudaranya. Secara garis besar, penyatuan seperti ini bisa dipandang sebagai hal yang bagus bahkan mungkin mulia. Namun bukan berarti tanpa sisi tidak enaknya.

Menikah dengan keluarga umumnya akan terasa menyenangkan pada tingkatan sosial. Seperti pada pertemuan keluarga, arisan, atau ketika kita saling mengunjungi. Namun, menikah dengan keluarga, secara tidak langsung, juga mendatangkan resiko terhadap salah satu aspek terpenting dalam membina pernikahan: aspek finansial.

Ketika hubungan kita dengan saudara pasangan kita sudah mulai bersinggungan dengan kepentingan finansial, maka kondisi ini bisa membawa pernikahan yang bersangkutan pada situasi yang membingungkan dan bahkan tidak jarang dilematis.

Kebingungan ataupun kegundahan yang muncul umumnya berakar pada rasa tidak enak (segan/merasa bersalah kalau tidak menolong).

Rasa segan tidak serta merta negatif. Rasa segan bisa mendorong kita untuk berbuat kebaikan. Namun rasa segan juga bisa membuat kita jadi serba salah ketika sanak-saudara mulai berdatangan untuk minta “tolong”.

Susahnya lagi, permintaan tolong tersebut acapkali dibalut oleh maksud meminjam uang dan dipermanis dengan janji akan mengembalikan pinjaman tersebut dalam jangka waktu tertentu. Kalau sudah demikian, biasanya akan lebih sulit untuk menolaknya.

Jika benar janji tersebut ditepati, maka orang tersebut bisa dibilang sebagai sosok langka. Karena pada umumnya, saudara yang meminjam dan berjanji mengembalikan pinjaman memiliki gejala amnesia terhadap janjinya sendiri. Ujung-ujungnya, yang memberi pinjaman harus “mengikhlaskan” dan dipaksa memaklumi seolah-olah bahwa itulah budaya yang berlaku di Indonesia.

Pemakluman yang seperti itu, menurut saya, adalah pemakluman yang keliru.

Saya tidak bermaksud untuk mendiskreditkan pernikahan dengan keluarga. Hanya saja, banyak sanak-saudara yang justru memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan pribadinya saja.

Mereka mudah untuk datang dan meminta tolong, namun berpaling muka ketika keadaannya dibalik. Selain itu, tidak jarang pula muncul kalau ada maunya saja, dan acuh di kemudian hari walaupun sudah dibantu berkali-kali.

Menikahi seseorang berarti menikahi keluarganya adalah sebuah fakta yang boleh dibilang tidak terbantahkan di negeri ini. Oleh karenanya, kita harus punya sikap yang bisa melindungi pernikahan kita dari perbuatan-perbuatan eksploitatif yang dilakukan oleh sanak saudara.

Kita harus memiliki prioritas dalam memberi bantuan. Kita lihat kedekatan darahnya.

Prioritas nomor satu bagi seorang suami adalah kepada isteri dan anak-anaknya.  Karena itu, maka merekalah yang harus pertama kali ditolong. Jika kondisi kita masih belum mampu untuk menolong isteri dan anak-anak, maka saya pikir, tidak salah kalau kita menolak permintaan tolong yang datang dari sanak keluarga. Ini juga berlaku bagi sang isteri.

Prioritas nomor dua adalah orang tua. Baik orang tua kita sendiri ataupun mertua kita. Sebenarnya membantu orang tua juga bisa menjadi prioritas nomor satu, tergantung tingkat emergencynya.

Prioritas ketiga adalah saudara kandung. Saya melihat bahwa saudara kandung yang membutuhkan lebih patut didahulukan dibanding dengan sepupu. Namun bukan berarti saudara kandung bisa bersikap tidak tahu diri. Saudara kandung juga harus bisa memahami kemampuan yang dimintakan tolong dan sebisa mungkin untuk tidak meminta. Bagi yang ingin menikahi seseorang dengan saudara kandung yang banyak, ada baiknya untuk dipikirkan baik-baik.

Prioritas terakhir barulah saudara-saudara di luar keluarga inti. Misalnya sepupu, paman, bibi, dan sebagainya.

Menetapkan prioritas bukan berarti melatih diri kita menjadi sosok yang pelit. Namun dengan prioritas seperti ini, kita bisa melihat dengan lebih jelas siapa-siapa saja yang lebih layak didahulukan. Selain itu, prioritas seperti ini juga bisa menghindari kita dari rasa bersalah karena tidak bisa membantu.

* * *

Menikah dengan keluarga bukanlah sesuatu yang baru di negeri ini. Adalah sebuah fakta bahwa ketika kita menikahi seseorang, kita juga mengambil resiko untuk terlibat dengan berbagai problematika hidup sanak-saudaranya, termasuk di dalamnya berbagai urusan yang berkenaan dengan uang.

Untuk terhindar dari rasa segan, gundah, ataupun rasa bersalah, maka kita sebaiknya menetapkan prioritas dalam memberikan bantuan berdasarkan kedekatan ikatan darah dan tingkat emergencynya.

Dengan demikian, kita bisa menjadi lebih objektif, baik itu terhadap pasangan kita, ataupun terhadap orang-orang yang datang untuk meminta pertolongan kita.

Related Posts with Thumbnails

Related posts:

  1. Jujurlah Sebelum Memutuskan Menikah Bagi banyak orang, menikah adalah salah satu hal terbesar...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

You can leave a response, or trackback from your own site.


blog comments powered by Disqus