Bagi banyak orang, menikah adalah salah satu hal terbesar dalam hidup. Terlebih bagi kaum perempuan. Menikah acapkali menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu oleh mereka. Namun demikian, menikah bukanlah tanpa tantangan dan harus diusahakan. Karena menikah adalah sebuah perjalanan menuju keberkahan, restu, dan kasih sayang dari yang Maha Kuasa.
Tantangan yang sering muncul, dan mungkin pula yang terberat, adalah ketika kita menghadapi rasa ragu. Saya pikir ini terjadi pada hampir setiap individu yang ingin menikah. Keraguan ini umumnya disebabkan oleh ketidaktahuan kita akan masa depan. Sehingga kita menjadi tidak yakin apakah benar dia jodoh kita, apakah dia akan cocok dengan kita, atau apakah benar langkah kita menikahinya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu saya rasa wajar-wajar saya. Karena sebagai manusia, tentunya kita menginginkan pasangan yang benar-benar sesuai dengan hati kita. Namun perlu diingat, janganlah rasa ragu tersebut dipelihara sehingga mempengaruhi kemampuan kita dalam berpikir rasional dan beretika.
Berpikir rasional adalah dengan menyadari bahwa kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Sehingga kita tidak perlu berkutat dengan keragu-raguan tersebut. Dimulai dengan berdoa kepada-Nya, teguhkanlah hati, dan beranikan diri untuk mengambil resiko bersama dirinya.
Sedangkan soal beretika adalah berani mengungkapkan isi hati yang membebani pikiran, sehingga orang-orang di sekeliling kita tidak merasa bingung dengan niatan kita untuk menikah.
Saya ilustrasikan. Ada satu perempuan yang sebenarnya masih ragu dengan kekasihnya. Entah mengapa, dia malah meminta kekasihnya tersebut untuk melamarnya. Sang kekasihpun menyanggupi, dan kemudian dia meminta kedua orang-tuanya untuk memulai pembicaraan menikah dengan orang-tua sang perempuan.
Dari pembicaraan tersebut dibicarakanlah tanggal pernikahan. Setelah melalui sejumlah negosiasi, maka sebuah tercapailah kesepakatan soal tanggal.
Ketika tanggal sudah disepakati, langkah berikutnya adalah soal biaya pernikahan. Orang-tua dari pihak laki-laki memanggil sang perempuan dan menjelaskan bahwa kemampuan sang kekasih adalah sekian rupiah. Sang perempuan menjawab tidak apa-apa dan menerima. Bagi keluarga pihak laki-laki, hal ini sudah jelas dan disepakati.
Tapi apa yang terjadi kemudian? Sang perempuan memutuskan untuk mengundur tanggal pernikahan secara sepihak. Pihak keluarga laki-lakipun bertanya-tanya. Alasan yang diberikan adalah ingin bekerja lebih dahulu, membahagiakan orang tua, ingin “mendidik” sang kekasih agar lebih dewasa, dan sebagainya, dan sebagainya.
Setelah diusut lebih jauh, ternyata sang perempuan mengakui bahwa dia masih ragu terhadap sang kekasih. Selain itu, dia juga punya “idaman lain” yang acapkali dijadikan pembanding. Sehingga tak aneh kalau sang perempuan selalu berkilah dan beralasan kalau ditanya perihal keputusannya tersebut.
Jika masih dalam tahap pacaran, keraguan dan sikap seperti itu bisa dipahami. Namun ketika keluarga sudah dilibatkan dan sudah menyetujui soal lamaran dan menikah, keputusan sepihak sang perempuan untuk menunda itu semua, tentunya menjadi sebuah tindakan yang miskin etika.
Sehingga wajar kalau pihak keluarga laki-laki akhirnya merasa disepelekan dan dipermalukan.
Nah, dari kisah di atas kita bisa melihat bahwa keragu-raguan yang terus dipelihara tanpa ada keberanian untuk mengungkapkannya malah membuat semua orang yang terkait menjadi susah. Tidak hanya membuat malu keluarga laki-laki, tapi juga membuat nama baik keluarga perempuan jadi tercoreng. Tak ayal, imej sang perempuan pun menjadi kurang baik.
* * *
Ragu-ragu sebelum menikah adalah wajar. Namun janganlah kita memelihara keragu-raguan itu. Karena dengan terus meragu, langkah yang diambilpun menjadi setengah hati.
Bersikaplah jujur terhadap diri sendiri dan ungkapkan keragu-raguan yang ada di hati. Jika ada yang kurang pas, utarakan, sehingga calon pasangan kitapun bisa memperbaiki sesuai kemampuannya. Selain itu, dengan mengungkapkan keraguan hati, kita juga bisa terhindar dari tindakan yang memalukan keluarga, baik keluarganya maupun keluarga kita sendiri.
Hadapi keraguan dengan berbagi, bukan dipendam sendiri. Karena keragu-raguan yang dipendam sendiri hanya membuat pernikahan itu tak jadi.
Related posts:
- Menikah Dengan Keluarga Saya rasa istilah “Menikah dengan keluarga” bukanlah sesuatu yang...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
June 18th, 2010
Aditya Fajar 483 views 
Posted in 





