Bagi mereka yang sering melewati jalan Prof. Dr. Satrio, Jakarta-Selatan, tentunya sudah tahu betul kemacetan yang kerap terjadi di sana. Efeknya pun luar biasa, terutama pada jam-jam sibuk.
Jika kita datang dari arah Tebet, biasanya macet sudah bisa dirasakan mulai dari jalan Casablanca. Sedangkan jika kita datang dari Tanah Abang, maka macet ini bisa dirasakan mulai dari jalan Kyai Haji Mas Mansyur. Begitupula dengan kendaraan yang datang dari arah Sudirman, tidak jauh berbeda keadaannya.
Kalau kita amati bersama, kemacetan ini berasal dari tersendatnya arus lalu lintas di depan Mall Ambasador dan di depan komplek Mega Kuningan.
Tersendatnya arus lalu lintas sebagian besar disebabkan oleh banyaknya pejalan kaki yang menyeberang dari kawasan Mega Kuningan menuju Mall Ambasador dan sebaliknya. Banyaknya para penyeberang tersebut membuat aliran kendaraan menjadi tertumpuk di titik tersebut (Titik Macet #1).
Selain itu, banyaknya kendaraan yang keluar dari kawasan Mega Kuningan (Titik Macet #2) juga berperan sebagai titik penghambat kedua setelah melewati Titik Macet #1 dari arah Casablanca.
Lebih jauh, arus kendaraan yang datang dari jalan Sudirman ataupun yang dari jalan K.H. Mas Mansyur, biasanya terhadang oleh kendaraan yang ingin masuk ke parkiran ITC Kuningan (Titik Macet #3A). Kemudian, antrian kendaraan yang ingin masuk ke jalur lobi Mall Ambasador (Titik Macet #3B) juga memperparah keadaan.
Tidak sampai di situ, setelah terhadang di Titik Macet #3A dan #3B, arus kendaraan juga kembali terhadang oleh Titik Macet #1. Kalau begini, lengkap sudah penderitaan!
Anehnya, kondisi ini sepertinya tidak pernah mendapat perhatian dari pihak-pihak yang terkait. Sejauh ini, “solusi” yang terlihat hanya dengan mengerahkan petugas penyeberangan saja. Ini jelas solusi seadanya dan berguna hanya untuk para penyeberang, dan bukan untuk para pengguna jalan.
Sebuah pemberitaan di Kompas sudah menyatakan betapa perlunya jembatan penyeberangan di daerah ini, dan menurut saya, jembatan penyeberangan tersebut merupakan sebuah kebutuhan yang mendesak.
Tapi seperti biasa, Pemerintah bersikap pasif dan hanya menunggu. Berikut jawaban dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta ketika di tanya Kompas:
"Bikin jembatan sih kami bisa. Gampang, asal ada permintaan dari warga sekitar kalau warga resah karena enggak ada jembatan, atau dari Mal Ambasador-nya. Nanti kami survei. Kalau memang perlu, bangun"
Ayolah, be reasonable. Lokasi sumber kemacetan bukanlah sebuah lokasi di mana banyak warga tinggal ataupun tahu bagaimana caranya menyampaikan keberatan ke Dinas Perhubungan. Mengharapkan pihak Mall Ambasador dan Mega Kuningan sama saja bohong. Karena sangat mungkin mereka akan bersikap bahwa itu bukan tanggung jawabnya (walaupun secara etika mereka seharunya juga proaktif).
Dinas Perhubungan DKI Jakarta sudah sepantasnya bersikap dan berpikir cerdas, bukan dengan menjawab asal-asalan seperti itu.
Bayangkan saja, sebuah masalah yang sudah jelas penyebab dan efek yang ditimbulkan malah dibiarkan begitu saja hanya karena Pemerintahnya belum menerima laporan keberatan. Perlu separah apakah kemacetan di daerah tersebut agar Pemerintah DKI bisa melihat dan tersadar bahwa masalah ini perlu segera ditangani?
* * *
Jika anda sering melewati Jl. Prof. Dr. Satrio dan merasa terganggu dengan kemacetan di depan Mall Ambasador dan Mega Kuningan, silakan bergabung dengan Facebook Group: Bangun Jembatan Penyeberangan di Depan Mega Kuningan dan Mall Ambasador. Suarakan pendapat dan keinginan Anda!
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
April 10th, 2010
Aditya Fajar 767 views
Posted in 





