Menyikapi Industri Belas Kasihan

Humanis

Faktor ekonomi, rendahnya pendidikan, dan minimnya lapangan kerja sering ditunding sebagai penyebab meningkatnya jumlah pengemis. Selain itu, bertambahnya jumlah pengemis juga sering dipandang sebagai bentuk kegagalan pemerintah dalam melindungi dan mensejahterakan rakyatnya.

Melihat kondisi pengemis secara umum memang menyedihkan, terlebih bila melibatkan anak-anak. Berulang kali hati menjadi tidak tega dan terenyuh untuk memberi.

Namun kemudian keikhlasan tersebut berubah menjadi pamrih ketika kita mengetahui bahwa dunia meminta-minta sudah sedemikian teroganisir. Lebih jauh, para pelakunya pun kini telah menjadikan mengemis sebagai sebuah profesi.

Saya tidak mengetahui secara pasti, tapi pertumbuhan kelompok-kelompok pengemis sepertinya makin subur. Sehingga tidak berlebihan kalau saya bilang bahwa meminta-minta sekarang ini sudah menjelma menjadi sebuah industri.

Ketika sejumlah industri mengeluhkan tentang dibukanya keran perdagangan bebas dengan China,  industri belas kasihan nampaknya menjadi salah satu industri yang bisa bertahan dan punya potensi untuk terus bertambah besar.

Industri belas kasihan tergolong industri dilematis. Dari sisi orang mampu, mereka yang bergelut di industri ini acapkali dipandang sebagai kaum terpinggirkan dan bahkan tidak jarang dianggap sebagai “sampah” masyarakat. 

Sedangkan dari sisi para pelaku, menjadikan mengemis sebagai ladang bisnis yang terorganisir membuat operasi mereka semakin efektif. Peluang untuk meraup untungpun semakin besar. Tak hanya itu, mengemis yang terkelompokkan dengan baik juga terbukti ampuh untuk melindungi eksistensi mereka dari berbagai ancaman “ketertiban” yang dilakukan oleh pemerintah.

Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, bagaimana menghadapi kaum pengemis yang telah begitu berhasil menciptakan sebuah kekuatan bisnis dari rasa iba?

Cara menghadapi yang paling rasional, menurut saya, adalah dengan memberdayakan badan-badan amal dan zakat. Selain itu juga mendoakan para pengemis supaya dimudahkan pintu rejekinya, dan tersadarkan untuk segera meninggalkan industri bermodal iba tersebut.  Mengambil sikap memusuhi atau bahkan memerangi bukanlah pilihan yang bijak dan tidak pula konstruktif.

Saya tidak bisa menyalahkan mereka yang memberi dan saya tidak bisa pula menuding mereka yang tidak mau memberi sebagai tindakan yang tidak manusiawi. Karena saya beranggapan masing-masing mempunyai alasan yang didasari oleh cara pandang yang berbeda-beda.

Pada akhirnya yang terpenting adalah niat kita.

Jika kita memang berniat untuk sedekah, maka lakukanlah tanpa harus pusing apakah para pengemis itu jujur atau memang sebagai professional. Jika niat kita menolong dengan tidak memberi, maka salurkanlah pertolongan kita ke badan-badan yang bergerak dalam bidang sosial.

Karena sekecil apapun perbuatan kita, bila itu dilandasi oleh niatan yang baik, maka Insha Allah, akan menghasilkan hal-hal yang baik pula. :)

Related Posts with Thumbnails

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

You can leave a response, or trackback from your own site.


  • dian
    Bener..bener....

    Kalo di Batam saat bln puasa, penghasilan pengemis berlipat-lipat karena pd berlomba mencari pahala hehe
blog comments powered by Disqus