5 Alasan Untuk Tidak Suka Sinetron

The Soap Opera

Kali ini saya ingin menulis sesuatu yang sedikit menyimpang dari topik-topik saya sebelumnya, yaitu soal sinetron.

Sebenarnya saya tidak  pernah terlalu memperhatikan sinetron, apalagi sampai sengaja menontonnya. Namun belakangan ini saya sedikit ingin tahu, jadi saya menyempatkan diri untuk menonton beberapa episode dari berbagai judul sinetron yang ada.

Dari apa yang saya lihat, saya menemukan setidaknya lima alasan untuk tidak menyukai sinetron. Bahkan menurut saya, kita tidak perlu waktu lama untuk bisa menyimpulkan mengapa sinetron lebih baik dihindari saja.

Berikut adalah lima alasan kenapa saya tidak menyukai sinetron:


1. Tema yang Monoton

Beberapa hari saja saya mengikuti sinetron, saya merasa menjadi lebih bodoh. Alur cerita yang selalu dibuat-buat lagi dipaksakan memaksa kita untuk menerima pemikiran yang tidak logis dan cenderung emosional.

Jalan cerita yang tidak pernah jauh dari percintaan konyol, harta, dan perebutan kekuasaan, dalam pandangan saya, adalah bukti betapa minimnya kemampuan para pelaku sinetron untuk menghasilkan sesuatu yang baru, kreatif, dan bermutu. Akhirnya, dari satu sinetron ke sinetron lain hanyalah pengulangan dari tema yang monoton dan itu-itu saja.

Andai saja pelaku sinetron mau membuka mata, maka mereka bisa melihat betapa banyak bahan cerita yang bisa digunakan untuk memperbaiki kualitas tayangan-tayangan mereka.

 

2. Dikelilingi Oleh Karakter-Karakter Superfisial

Saya tidak mengerti mengapa sinetron selalu menampilkan karakter-karakter antagonis yang begitu jahat lagi pendendam dan karakter-karakter protagonis yang kelewat baik dan sabar.

Karakter antagonis punya rasa jahat yang begitu dalam  untuk membenci, menghina, dan mencelakakan. Yang menyedihkannya lagi, karakter-karakter jahat seperti ini berada di lingkungkan keluarga seperti ibu mertua, ayah, saudara, paman, dan sebagainya. 

Apakah ini cerminan keluarga di masyarakat kita? Saya harap bukan.  Lebih jauh, penggambaran anggota keluarga yang begitu jahat sama saja menyarankan kita untuk selalu curiga dan berburuk sangka kepada mereka.

Sedangkan untuk karakter protagonis, kebaikan dan kesabaran yang luar biasa malah membuat mereka menjadi korban, tidak berdaya, cengeng, menerima-saja, dan seperti tidak punya harga diri.  Lalu siapakah yang biasa diposisikan seperti itu? Yap, para wanita. 

Sungguh, karakter-karakter antagonis dan protagonis dalam kebanyakan sinetron merupakan gambaran betapa malasnya para pelaku sinetron untuk mengolah karakter yang lebih manusiawi.

 

3. Selera Musik Yang Rendah

Saya berpendapat musik yang ada dalam sinetron adalah musik kelas kacangan. Coba kita perhatikan betapa “hinga-bingarnya” musik yang menyertai sebuah alur cerita. Hanya bertemu muka saja, bisa diiringi oleh musik yang seolah-olah terjadi gempa bumi yang dahsyat. Belum lagi dengan adegan yang diperlambat (slow motion) untuk mendapatkan kesan dramatis.

Lagi-lagi saya tidak mengerti mengapa sinetron menghamba sekali pada dramatisasi semacam itu. Kalau saya perhatikan drama Jepang atau Korea, iringan musiknya sederhana saja (bahkan kadang tidak ada sama sekali). Paling hanya diiringi oleh satu atau dua instrumen dengan nada yang lembut, dan ini cukup efektif untuk membuat penonton meresapi alur cerita.

Coba bandingkan dengan sinetron. Hampir setiap detiknya diiringi oleh musik yang bombastis. Seolah-olah ada marching band yang selalu mengiringi. Membuat pekak telinga saja bukan?

 

4. Akting Picisan

Saya bukan orang seni, tapi saya tahu akting yang bagus dan yang bukan. Dan kalau kita bicara soal akting di Sinetron? Saya bisa bilang kebanyakan adalah akting murahan.

Ada juga memang yang bagus, tapi bisa dihitung dengan jari dan biasanya tidak jauh-jauh dari akting menangis. Sedangkan sisanya? Hmm.. silakan tonton saja sendiri.

Ada pertanyaan yang muncul di benak saya. Kira-kira komunitas pentas dan drama merasa dilecehkan tidak ya dengan kualitas akting sinetron? Saya jadi ingin tahu apa kata sekolah-sekolah dan fakultas-fakultas seni tentang hal ini.

Kalau dipikir-pikir lagi, untuk bisa dianggap “akting” di sinetron itu mudah saja kok. Persyaratannya cuma lima: bisa pura-pura kaget, bisa pasang tampang sedih, bisa bentak-bentak, bisa pasang muka licik, dan bisa bicara dengan diri sendiri. Mudah bukan? Anak kecil saja bisa kok.

 

5. Pemaksaan Budaya Bollywood

Kalau diperhatikan lebih dalam, gaya dan tema yang ditampilkan sinetron merupakan replikasi (imitasi) yang kental dari drama atau film-film Bollywood. Saya tidak bermaksud mengecilkan budaya Bollywood, namun menjejali sinetron dengan gaya dan tema model Bollywood membuat dunia sinema kita seperti kehilangan identitas.

Jika memang budaya sinema Indonesia adalah budaya yang adaptif, mengapa budaya Bollywood terasa begitu mendominasi? Saya pikir ini tidak mungkin terjadi kalau tidak ada “pemaksaan” budaya Bollywood secara terus-menerus ke dalam dunia sinetron kita.

Kalaupun benar budaya Bollywood itu berdampak positif, namun mengapa begitu banyak suara kritis dan miring tentang sinetron-sinetron Indonesia? Mengapa begitu banyak suara-suara prihatin dari masyarakat yang menginginkan perbaikan kualitas sinetron?  Bukankah ini sebuah signal bahwa apa yang ditawarkan oleh sinetron sebenarnya kurang diterima?

Suatu malam saya pernah menonton sebuah drama di SCTV, judulnya Dalimun Terjerat Cinta. Setting drama tersebut ada di yogyakarta dan saya menyukai tayangan tersebut. Kenapa? Karena dalam tayangan tersebut tidak ada dramatisasi berlebihan, dialog yang ringan dan cukup santun, serta iringan musik yang secukupnya. Tidak hingar-bingar seperti di sinetron pada umumnya.

Saya kemudian berpikir, mengapa sinetron sekarang ini tidak bisa dibuat seperti itu? Saya rasa jika sinetron bisa dibuat lebih “membumi” dan lebih “Indonesia”, maka sinetron akan lebih disukai bahkan dicintai. Lihat saja sinetron Si Doel. Sampai sekarang masih terkenang manis diingatan kita.

 

* * *

Sinetron sudah menjadi bagian yang erat dengan dunia sinema dan industri pertelevisian Indonesia. Sayangnya kualitas sinetron sekarang ini masih dipertanyakan. Tema yang monoton, karakter-karakter superfisial, selera musik yang rendah, akting yang buruk, dan dominasi budaya sinema tertentu adalah beberapa alasan, yang menurut saya, membuat sinetron lebih baik dihindari.

Bagaimana menurut anda?

Related Posts with Thumbnails

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

You can leave a response, or trackback from your own site.


  • tegu
    (edited by admin) sinetron
  • zee
    Yang paling menyebalkan buat saya adalah karaktet superfisila.
    Itu influence yang jelek untuk penonton apalagi klo anak2 remaja yg nonton.
  • betul....yg lebih parah lagi, byk sekali anak-anak yg disodori dengan adegan untuk meniru gaya, model BORJU dan kadang dg sikap, yg menurut saya tidak menghormati sama orang lebih gede,thdp pembantu misalnya.....dan secara dididik untuk berani ngeyel, ngotot terhadap ortu..waduuuuh....lantas tugas siapakah ini selain orang tua ?
    Maaf juga utk layar background knp dengan barang yg mewah, rmh, interior, mobil dsb. yg jauh dari tema dan itu Maaf membuat para ibu-ibu menjadi emosional tuk memiliki he..he...dan lebih kerasan tuk nonton ( nggathok) bhs jawanya..
    untuk para produsen film sinetron:
    bagaimanapun kami tetap berapresiasi ,Lebih ditingkatkan ,yg lebih selektif dan menghibur.selamat berkarya...
    aku juga film siDoel A.S. sangat manusiawi he...he...
  • bener..sinetron itu busuk..
    merusak moral bangsa..
    ceritanya yah perebutan harta..diculik..lupa ingatan..artisnya juga itu2 aja..
    dan mau gimana sinetron terasa bollywood..lah sutradaranya aja keturunan india..kelompok punjabi..
  • Yups setuju sekali, sinetron Indonesia terlihat begitu merendahkan wanita, anehnya sinetron ini ditujukan untuk konsumsi para wanita, hmmm what do you think?? :-(
  • Iya, kasian jadinya para wanita, seperti "dibodohi" saja oleh sinetron.
blog comments powered by Disqus