Apa Masih Perlu Emansipasi Wanita?

Equal?

Hari ini saya menemukan sebuah tulisan menarik oleh Mira. Dalam blognya Mira menuliskan artikel berjudul Wanita dan Emansipasinya. Di sini Mira berkata,

Kadang saya suka sebel sama kata emansipasi. Sama cewek-cewek juga. Mereka selalu menyorak-nyoraikan emansipasi dimana-mana. Menuntut hak mereka disamakan dengan laki-laki. Menuntut supaya mereka tidak lagi dibedakan dan didiskriminasi. Tapi sadar ngga sih kalo cewek-cewek ini mau enak nya aja. Menuntuk hak yang sama tapi kewajiban ngga.

Menurut Mira, emansipasi wanita itu cenderung berat sebelah karena tidak adil terhadap kaum laki-laki. Jika memang emansipasi merupakan tuntutan sebuah persamaan hak, maka sudah sepantasnya kaum perempuan juga memberikan proporsi yang berimbang dalam menjalankan persamaan haknya tersebut.  Dalam hal ini Mira memberikan gambaran:

Contoh: Kalo cewek sama cowok makan bareng, pasti ada etika dimana si cowok yang harus bayar. Cewek enak-enakan makan, yang kering dompetnya yang cowok. Contoh lain, kalo ada cewek bawa barang berat terus ada temen cowok nya liat ngga bantuin, pasti si cowok ini bakal dijelek-jelekkin. Ngga punya perasaan lah, ngga gentle lah. Banci lah. Lah katanya emansipasi? Belom lagi kalo dari segi hukum. Suami kalo punya duit, duit bersama. Istri kalo kerja, ga ada kewajiban duitnya harus dibagi ke suami. Istilahnya milikmu milikku, milikku ya milikku. Berasa ga sih kalo disini justru para pria yang di diskriminasi kan?

Kalau dipikir-pikir, emansipasi wanita merupakan sebuah pergerakan wanita yang rancu, bahkan mungkin egois. Sebuah persamaan hak yang malah membuat para wanita dalam posisi dilematis. Di satu sisi dia disamakan posisinya seperti pria, namun di sisi lain dia tidak bisa terlepas dari fitrahnya.

Kalau kita mengambil contoh dari ucapan Mira, maka seorang wanita yang sudah teremansipasi seharusnya dibiarkan saja mengangkat yang berat-berat, toh sudah dianggap sama dengan pria bukan? Para pria tidak perlu merasa kasihan, karena antara dia dan sang wanita sudah sejajar posisinya.

Selain itu, menurut saya, emansipasi wanita sebenarnya malah membuat ketidakadilan terhadap kaum wanita itu sendiri. Saya kembali mengambil contoh yang diberikan Mira. Mira mengatakan, “Suami kalo punya duit, duit bersama. Istri kalo kerja, ga ada kewajiban duitnya harus dibagi ke suami. Istilahnya milikmu milikku, milikku ya milikku.”

Kalau kita mengikuti logika emansipasi, maka uang hasil usaha isteri otomatis harus dibagi ke suaminya juga. Tentu ini bertentangan dengan fitrah seorang isteri. Karena dalam pandangan Islam, seorang isteri berhak untuk tidak membagi harta hasil usahanya kepada suami. Justru suamilah yang berkewajiban memberikan sebagian hartanya untuk menghidupi sang isteri.

Nah, marilah kita berpikir rasional dengan berlandaskan kepada fitrah penciptaan laki-laki dan perempuan. Mari kita gunakan panduan Ilahi sebagai petunjuk bagaimana kita memposisikan diri sebagai seorang pria dan sebagai seorang wanita.

Jika ada yang bilang hak laki-laki dan perempuan disamakan, maka hak tersebut haruslah sesuai dengan fitrah penciptaan, seperti hak terhadap edukasi, kesehatan, perlindungan hukum, dan sebagainya.

Dengan demikian, janganlah kita mendukung gerakan yang justru menutup mata terhadap fitrah perempuan yang pada akhirnya malah merugikan kaum perempuan itu sendiri.

Mira pun diakhir tulisannya berkata,

…Intinya, wahai kalian para gadis. Kalo benar-benar mau disamain sama cowok, jangan cuma enaknya doang dong. Buktiin sama cowok-cowok itu kalo kalian emang bisa. Jangan manja. Jangan cengeng. Kalo perempuan masih aja menye-menye, manja, suka nangis, suka nuntut, gimana cowok-cowok itu mau percaya kalian mampu? Lah apa-apa masih ngarep dari cowok ini.

:)

Related Posts with Thumbnails

Related posts:

  1. Tips Membeli Sepatu Wanita Wanita itu indah, termasuk kakiknya. Nah, hari ini saya iseng-iseng...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

You can leave a response, or trackback from your own site.


  • kayanya masih perlu dech
  • emansipasi wanita rasanya sudah gak diperlukan kok memang, saolnya jaman sekarang ini kan semua sudah setara
blog comments powered by Disqus