Perseteruan antara Luna Maya dan orang-orang infotainment telah memasuki tahap yang ironis dengan digugatnya Luna Maya ke Polda Metro Jaya dengan alasan pencemaran nama baik. Landasan hukum yang digunakan oleh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jaya – Department Infotainment, adalah UU ITE yang kontroversial tersebut (tentunya kita ingat dengan kasus Prita Mulyasari).
Apa yang diucapkan Luna dalam Twitternya memang bukanlah perkataan yang menyenangkan, namun statement Luna adalah sebuah pernyataan emosional yang bisa dimengerti. Sikap Luna tersebut sepertinya dipicu oleh para wartawan pekerja infotainment sendiri yang biasanya profokatif dan intrusif dalam mendapatkan berita.
Digugatnya Luna oleh PWI Jaya – Department Infotainment, sedikit banyak telah memposisikan Luna sebagai “korban” yang telah diganggu privasinya yang kemudian harus berjuang sendirian melawan “kekuatan” infotainment. Simpati pun mengalir, dan akhirnya bermunculanlah opini-opini yang menyatakan dukungannya kepada Luna.
Cukup adil untuk mengatakan bahwa opini-opini tersebut umumnya dilatarbelakangi oleh ketidaksukaan terhadap kualitas pemberitaan infotainment selama ini. Bahkan bisa kita temui pendapat-pendapat yang mempertanyakan kelayakan pekerja infotainment untuk disebut sebagai wartawan, karena menurut mereka, produk yang infotainment hasilkan adalah gosip (bahkan fitnah) bukan berita.
Tidak dipungkiri bahwa selebriti Indonesia banyak memanfaatkan infotainment sebagai alat untuk mendongkrak popularitas. Begitu efektifnya infotainment sebagai media iklan, akhirnya membuat selebritipun seperti enggan untuk mengkritisi infotainment itu sendiri.
Keengganan tersebut bisa jadi disebabkan oleh kekhawatiran para artis akan “hukuman” yang akan diberikan oleh wartawan pekerja infotainment (diacuhkan yang berakibat pada meredupnya popularitas). Jika sudah begini, maka makin terbuka kesempatan bagi wartawan pekerja infotainment untuk melanggar kaidah-kaidah proporsionalitas dalam usahanya mencari informasi.
Saya sendiri berpendapat gugatan infotaiment kepada Luna adalah berlebihan dan mungkin tidak pada tempatnya. Agak aneh rasanya jika para wartawan pekerja infotainment merasa sakit hati dengan ucapan Luna, sedangkan keseharian mereka adalah mencari sensionalitas yang acapkali dibuat-buat, dan tidak jarang pula, meyakitkan.
Tindakan PWI Jaya—Department Infotainment untuk menggugat Luna bisa jadi menjadi sebuah bumerang bagi wartawan pekerja infotainment sendiri. Jika mereka terus maju dengan gugatannya, maka sangat mungkin dukungan terhadap Lunapun semakin besar. Dukungan ini dapat menjelma menjadi sebuah kekuatan yang bukan lagi semata-mata tentang Luna, namun berubah menjadi sebuah gerakan melawan arogansi wartawan pekerja infotainment.
UPDATE:
Setelah menimbang dan mendapat pencerahan tentang infotainment, saya akhirnya memutuskan bahwa wartawan infotainment lebih tepat disebut sebagai pekerja infotainment saja. Selain itu, produk yang mereka hasilkan banyak menyimpang dari kaidah-kaidah jurnalistik. Oleh karenanya, judul posting inipun dirubah menjadi Luna Maya vs Infotainment, Arogansi “jurnalistik”? (pakai tanda kutip). Maksudnya adalah berupa kritik kepada dunia infotainment untuk lebih bisa meningkatkan mutu produk-produk infonya.
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
December 19th, 2009
Aditya Fajar 665 views
Posted in 






