Bagi kebanyakan wanita, poligami adalah momok yang cukup menggemparkan. Betapa tidak, poligami acapkali dipandang oleh banyak orang sebagai pembenaran bagi kaum laki-laki untuk mengejar nafsunya. Belum lagi status sebagai isteri kesekian dan label dimadu. Menjadikan poligami sebagai hal yang sebisa mungkin dijauhi dan ditentang.
Kasus poligami yang cukup populer adalah poligaminya Aa Gym. Sebelum poligami, Aa Gym merupakan sosok figur yang dikagumi, dicontoh, dan disegani. Terutama oleh para kaum wanita yang melihatnya sebagai sosok teladan bagi suami-suami.
Namun ketika dia memutuskan untuk menikahi isteri keduanya, sontak masyarakat kaget yang kemudian menjauhi dan “memusuhi” Aa Gym. Bahkan bisa saya bilang Aa Gym diembargo secara ekonomi oleh fans-fansnya sendiri. Kepopuleran dan unit-unit bisnis Aa Gym pun perlahan merosot dan seperti menghilang.
Keputusan Aa Gym di atas banyak disayangkan oleh banyak pihak, terutama oleh kaum perempuan. Sedangkan kaum laki-laki sepertinya cuma bisa senyum saja (setidaknya yang saya temui).
Saya sendiri tidak menentang poligami. Karena menentangnya berarti menentang agama saya. Namun saya juga tidak menganjurkan untuk poligami, apalagi syarat yang harus dipenuhi dalam sebuah poligami begitu berat (harus bisa berlaku adil).
Seorang laki-laki yang memutuskan untuk berpoligami, maka dia akan memasuki ranah yang mengharuskan dirinya untuk bersikap berimbang, baik dari sisi rohani, jasmani, dan ekonomi.
Dari sisi ekonomi, poligami mewajibkan pelakunya untuk bisa memberikan hal yang seimbang kepada isteri-isterinya. Jika satu mendapatkan A, maka yang lainnya pun harus mendapatkan A. Kalau tidak bisa, maka sang suami dianggap tidak adil, dan yang demikian pertanggung jawabannya akan langsung kepada Sang Khalik.
Keputusan untuk poligami secara langsung akan memaksa para suami untuk bekerja dua sampai empat kali lebih keras untuk memenuhi kewajibannya kepada isteri-isterinya. Saya rasa kondisi ini bukanlah hal yang menarik bagi kebanyakan suami. Karena dengan satu isteri saja, memenuhi kebutuhan keluarga sudah cukup berat. Apalagi harus dua, tiga, dan empat?
Untungnya lagi, poligami ternyata bukan menjadi pilihan bagi kebanyakan laki-laki. Setidaknya dari pengamatan dan temuan saya. Kalaupun ada yang bilang tertarik poligami, biasanya itu sebatas canda saja. Jadi saya pikir menjadikan poligami sebagai momok yang harus ditentang adalah sikap yang berlebihan.
Saya akui memang ada kasus-kasus di mana poligami digunakan sebagai alat untuk mengumbar nafsu. Tapi saya pikir jumlahnya relatif kecil dan tidak sebanding dengan jumlah para suami yang memilih untuk bermonogami (isteri cukup satu).
Lebih jauh, poligami adalah hal yang sangat pribadi (urusan rumah tangga orang lain). Sebagai orang luar kita tidak berhak untuk ikut campur apalagi menghakimi keputusan untuk berpoligami. Karena poligami mungkin tidak cocok untuk pernikahan kita, tapi siapa tahu malah membawa kebahagiaan bagi pernikahan orang lain. Baik itu yang berada di sekitar kita, ataupun mereka yang di belahan dunia lain.
Tuhan tentunya tidak akan memperbolehkan poligami jika tidak membawa kebaikan bagi umat manusia.
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
October 3rd, 2009
Aditya Fajar 163 views
Posted in 





