Empati Dengan Hewan Dagangan

Mother and ducklingsDua hari yang lalu yang bersama Tarie, isteri saya, jalan-jalan ke Jatinegara untuk mencari beberapa keperluan. Setelah menemukan yang dicari, saya kemudian bersiap-siap pulang ke rumah.

Ketika sampai di area parkir, saya melihat seorang pedagang bebek membawa muatannya. Pertama kali melihatnya, saya berdecak kagum. Begitupun dengan Tarie. Karena dalam satu motor ada banyak sekali bebek yang diangkut. Mirip-mirip pedagang ayam yang bisa membawa puluhan ekor dalam satu kali angkut.

Sambil naik motor pulang, saya dekati motor pedagang bebek tersebut untuk bisa melihat lebih jelas.  Namun tak lama kemudian rasa kagum saya berubah menjadi rasa iba kepada bebek-bebek tersebut, karena saya merasa mereka sedang menderita.

Bahkan saya lihat ada bebek yang terkulai lemas (sepertinya sudah mati), karena kepalanya berada tepat di samping mesin motor. Saya hanya bisa membayangkan apa yang dirasakan sang bebek. Kasihan sekali melihatnya.

Lebih jauh, kalau memang benar bebek tersebut mati dengan cara seperti itu, maka haram hukumnya untuk dimakan karena sudah menjadi bangkai.

Kalau saya ingat-ingat lagi, ternyata banyak juga pedagang yang memperlakukan hewan dagangannya hanya sebatas komoditas. Sehingga perlakuan mereka terhadap para hewan tersebut juga seadanya saja. Bahkan tidak beda dengan sekardus mie instan.

Satu hal yang perlu diingat adalah, ketika kita bisnis hewan, maka kita berurusan dengan mahluk hidup yang seperti halnya kita manusia, bisa merasakan sakit dan menderita.

Saya tidak mempunyai pengetahuan tentang handling ternak, tapi saya pikir dengan common sense saja kita bisa memperlakukan hewan dagangan dengan lebih baik. Misalnya, menghindari menumpuk bebek untuk dekat-dekat dengan knalpot ataupun mesin. Atau jangan menumpuk terlalu banyak karena akan berat bagi bebek yang paling bawah dan bisa mati lemas karena susah bernapas.

Kalau kita mau berpikir lebih jauh lagi, bagaimana kalau hewan dagangan yang tersiksa berdo’a kepada Allah dan doa’nya di jawab? Bisa-bisa yang kita dapatkan malah kerugian bukan sebaliknya.

Jadi pikir saya, silakan saja berdagang hewan, tapi perlakukanlah hewan-hewan dagangan kita dengan baik. Jangan hanya karena ingin menghemat atau ingin mendapatkan profit yang lebih tinggi, kita membiarkan hewan dagangan kita tersiksa. Karena ingat, hewan juga layaknya kita manusia, bisa merasakan sakit dan menderita.

Related Posts with Thumbnails

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

You can leave a response, or trackback from your own site.


  • Aditya Fajar
    Kalau dipikir-pikir lagi, memperlakukan hewan dagangan semena-mena sebenarnya sama saja memperlakukan produk kita semena-mena pula.
  • saya pencinta binatang, jadi makanya saya vegetarian...
    nice post pak
    salam kenal
  • interesting thought, pak...
    emang kadang kasian gt liat ayam yg dibawa pake motor (blm pernah liat bebek si)...
  • Bicara soal merawat hewan, minggu yang lalu saya nonton Oprah, di Amerika sedang ada pro kontra UU cara beternak hewan; antara dikandangin satu per satu dengan 'diumbar' atau dilepas dalam ruangan bebas.

    Saya kadang juga kasihan dengan hewan yang kondisinya mengenaskan, padahal itu adalah barang dagangan...
blog comments powered by Disqus