Tepatkah Bisnis “Loe Mau Gue Ada”?

Good morning BrandenburgKetika kita memupuk niat untuk berwirausaha, maka akan tumbuh dalam diri kita dorongan untuk melihat dunia dalam perspektif yang berbeda.

Yang tadinya berkutat di seputar gaji atau mencari lowongan pekerjaan, berubah menjadi sebuah dunia yang penuh dengan peluang. Kita pun akan termotivasi untuk mencari informasi dan mengolah akal untuk bisa mewujudkan peluang-peluang tersebut menjadi sebuah bisnis yang menguntungkan.

Peluang layaknya sebuah harapan yang memberi kita semangat untuk maju. Namun kita perlu menyikapi peluang dengan lebih berhati-hati. Karena dengan jumlah peluang yang begitu banyak, kita bisa kehilangan fokus dan dapat merubah orientasi kita dalam berwirausaha.

Dari pengalaman pribadi dan kisah orang-orang yang pernah saya temui, terbukanya berbagai peluang terkadang membuat kita menjadi terlalu “semangat”. Dalam artian, peluang ini diambil, peluang itu diambil, tanpa pertimbangan yang baik akan kemampuan untuk menggarap peluang-peluang tersebut. Kalau sudah begini, biasanya kita akan masuk ke dalam model bisnis Lumugada, Loe Mau Gue Ada.

Saya berpendapat bahwa jika ada sebuah usaha kecil menerapkan model bisnis Lumugada, maka motivasi terbesarnya adalah untuk cepat-cepat kaya. Padahal kalau kita perhatikan, bisnis-bisnis besar yang sustainable bukanlah bisnis yang menjadi besar secara instan. Semuanya dimulai dan melalui berbagai proses dan tahapan.

Model bisnis Lumugada tidak hanya membuat kita kehilangan fokus, tapi juga membuat bingung konsumen. Ini karena konsumen akan menemui kesulitan untuk mengasosiasikan usaha kita dengan produk/jasa tertentu. Padahal bagi usaha kecil, hal tersebut merupakan faktor penting dalam menjalankan dan mengembangkan usaha.

Pencitraan yang terbentuk dari model bisnis Lumugada adalah sebagai broker atau middle person. Sah-sah saja jika memang itu bidang usaha yang akan ditekuni. Tetapi bagi seorang broker sekalipun, dia perlu menentukan bidang yang akan digeluti. Saya pikir seorang broker yang menclak-menclok kesana-kemari adalah broker yang tidak akan efisien dalam menggunakan sumberdayanya.

Jika ada yang beranggapan model bisnis Lumugada sebagai diversifikasi usaha, saya pikir itu hanya mengada-ada, terlebih bagi usaha kecil. Diversifikasi umumnya dimungkinkan jika kita sudah memiliki sumber dana yang memadai untuk ekspansi. Jika belum, maka fokus pada satu bidang usaha merupakan pilihan yang terbaik.

Memasuki dunia wirausaha adalah memasuki dunia yang penuh dengan peluang. Peluang layaknya sebuah harapan yang memberi kita semangat untuk maju. Namun kita juga perlu cermat dalam menyikapi peluang agar kita tidak kehilangan arah dalam menjalankan bisnis.

Model bisnis Loe Mau Gue Ada bukanlah model bisnis yang tepat bagi usaha kecil karena model ini cenderung membuyarkan orientasi bisnis yang sedang dibangun. Bagi usaha kecil, fokus pada satu bidang usaha merupakan langkah awal dalam membangun sebuah fondasi yang kuat untuk melakukan diversifikasi bisnis di kemudian hari.

Related Posts with Thumbnails

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

You can leave a response, or trackback from your own site.


  • Menarik sekali pak, oh iya, ada saran untuk bisnis kredit gak pak, gimana cara pembukuannya misal ?
  • Aditya Fajar
    Sebelum memutuskan untuk memasuki bisnis kredit, ada baiknya untuk mempelajari dulu seperti apa bisnis ini beroperasi. Seperti kebutuhan permodalan, peralatan, manajemen, sdm, dan peraturan. Namun yang paling penting, setidaknya bagi saya, adalah untuk tidak melibatkan riba (bunga/ursury).

    Menurut saya, usaha kredit bisa dilakukan tanpa melibatkan riba, yaitu dengan menaikkan harga jual barang dari harga pasar namun bisa dicicil dalam tenor tertentu.

    Apabila tenor sudah terlewati tetapi masih belum lunas, maka barang bisa diambil sampai bisa dilunasi tapi tidak membebankan bunga keterlambatan. Oleh karenanya, Kita akan perlu orang-orang yang capable untuk menilai kemampuan bayar debitur untuk mencegah gagal bayar.

    Selain itu, sebisa mungkin, minimum pembayaran untuk sebuah cicilan adalah harga modal beli barang tersebut. Misalnya, kalau harga beli sebuah kompor gas adalah 200 ribu, maka down payment untuk kredit kompor tersebut adalah 200 ribu. Dengan demikian setidaknya kita bisa balik modal terlebih dahulu.

    Mengenai pembukuan, pada dasarnya sama seperti bisnis lainnya. Bisa menggunakan accrual basis atau cash basis. Accrual basis adalah akuntansi yang menghitung "uang di luar" sebagai pemasukkan. Sedangkan cash basis adalah baru menghitung pemasukkan berdasarkan jumlah uang yang masuk.

    Untuk bisnis kredit, maka jenis akuntansi yang lebih tepat adalah accrual basis.

    Semoga membantu :)
  • Aditya Fajar
    @Isnuansa: Yang pertama lebih cocok jika kita sudah punya basis dana yang kuat, yang kedua lebih masuk akal untuk usaha kecil. Semakin banyak jenis usaha kita, maka secara otomatis kebutuhan atas kapital semakin besar. Dan ini biasanya tidak dimiliki oleh usaha kecil.
  • Kalo saya lebih sering denger PaluGada, apa yang lu minta gw ada ;)

    Jadi, mending dapat $1 dari 10 jenis bisnis, atau dapat $10 dari satu jenis bisnis?
blog comments powered by Disqus