Ketika itu saya dalam perjalanan menuju Australia untuk kuliah di sana. Saya berangkat melalui bandara Timika-Papua bersama ayah saya. Sebelum mendarat di Brisbane, pesawat transit dulu di Cairns, sebuah kota di ujung negara bagian Queensland.
Perjalanan dalam pesawat relatif lancar. Semuanya sesuai dengan rencana di mana saya tiba di Cairns sekitar pukul 11 siang. Karena pesawat penghubung ke Brisbane masih tiga jam lagi, saya pun menunggu sambil melihat-lihat keadaan sekeliling. Waktu itu adalah perjalanan ke Australia yang pertama kali bagi saya.
Setelah beberapa saat, kami memutuskan untuk duduk-duduk di lounge. Saya dan ayah saya berbincang-bincang tentang situasi di Australia dan rencana kuliah saya nanti. Waktu berjalan perlahan, namun hal itu tidak bisa menghilangkan rasa gugup lantaran berada di negeri orang untuk pertama kalinya. Terlebih lagi saat itu bahasa Inggris saya masih minim sekali.
Sejam berlalu dan saya, masih menunggu. Saya dan ayah saya masih duduk di lounge airport sambil sesekali bercerita ini dan itu. Kemudian tiba-tiba saja terdengar suara pengumuman di airport, memanggil nama seseorang yang terdengar familiar. “Mr. Superman, would you please come to Qantas info desk… Mr. Superman…”
Tak perlu lama bagi saya dan ayah saya untuk mengenali Mr. Superman. Karena itu adalah nama keluarga saya (Suparman). Terus terang saya jadi malu sendiri karena seluruh orang yang duduk di lounge tertawa mendengar pengumuman tadi. Saya mencoba untuk tidak beranjak dari duduk saya, berhadap pengumuman tadi berhenti dengan sendirinya. Oh no. Ternyata pihak Qantas terus saja memanggil-manggil Mr. Superman, dan orang-orang mulai mencari-cari siapakah gerangan Mr. Superman.
Akhirnya dengan menahan malu, saya pergi menuju tempat yang dimaksud. Ayah saya hanya senyum-senyum saja dan tidak menghiraukan pandangan orang-orang yang menatap dengan penuh tawa. Setibanya di sana, pegawai Qantas pun cengar-cengir melihat kedatangan kami. Mereka memberitahu bahwa ada penerbangan menuju Brisbane, sehingga kami tidak perlu menunggu lebih lama. Namun karena jemputan saya di Brisbane tidak bisa dihubungi (saat itu HP belum ada), akhirnya kami terpaksa menolak.
Setelah itu saya dan ayah saya harus kembali lagi lounge di mana orang-orang di sana kembali cengar-cengir melihat kedatangan kami. Walau masih malu, saya berusaha cuek dan kembali menunggu pesawat penghubung yang dimaksud datang.
Selama di Australia, nama saya memang suka jadi bahan olokan. Ah, tapi lama-kelamaan saya jadi kebal juga, yang ada saya malah ikut tertawa dengan mereka. Malah saya bilang ke teman-teman, universitas seharusnya bangga karena ada Superman kuliah di kampus mereka ![]()
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
May 4th, 2009
Aditya Fajar 497 views
Posted in 





