Sinetron, Favoritnya si Miskin Hati
Sun, 25 May 2008 | Sinetron | 194 views | Email This Post
Sudah beratus kali masyarakat menyuarakan keberatan atas acara sinetron yang bodoh dan membodohi. Baik itu isinya maupun pesan moral yang dibawanya. Tapi bagaikan bicara dengan tembok, Sinetron tetap berjaya karena rupanya masyarakat kita banyak yang bodoh dan mau terus-terusan dibodohi.
Bagi pebisnis macam stasiun TV dan produsen sinetron, etika dan nilai moralitas tentu tidak lebih berharga dari kacang goreng. Jadinya mereka tetap saja memproduksi sinetron murahan karena lebih menguntungkan.
Salah satu tema favorit sinetron adalah soal kemiskinan. Tema ini dieksploit sedemikian rupa sehingga membentuk kesan bahwa orang miskin itu layak untuk diinjak-injak, disingkirkan, dan kalau perlu dibasmi saja.
Ketika saya menyempatkan diri untuk melihat sinetron (dengan menahan rasa muak tentunya), tidak sulit untuk menemukan dialog-dialog yang memojokkan kaum miskin. Orang miskin dibentak-bentak, dihina, dan direndahkan secara verbal dan fisik sehingga makin menegaskan bahwa orang miskin adalah orang-orang yang pantas untuk ditindas.
Saya setuju dengan ucapan Warsa Tarsono, Pengurus Komite Indonesia untuk Pemberantasan Pornografi dan Pornoaksi (KIP3) di Palu 22 Mei 2008, yang diberitakan oleh Antara. Beliau mengatakan:
Orang miskin itu tidak salah. Karena itu, janganlah mereka dihina dengan kata-kata yang seolah menyalahkan kenapa sampai miskin.
Tapi di sinilah letak kelicikan sinetron. Mereka menempatkan orang miskin sebagai tokok utama yang baik-baik dan sabar luar biasa yang kemudian keluar sebagai pahlawan. Pahlawan yang bagaimana? Pahlawan kaya yang dimiskinkan sementara dan dengan bantuan “takdir”, menemukan kembali kejayaannya sebagai orang kaya.
Secara psikologis, cerita-cerita orang miskin yang ujungnya jadi pahlawan adalah cerita yang menawarkan romantisme dan harapan-harapan semu kepada orang miskin. Orang miskin jadi pintar untuk berkata “seandainya” dan makin pandai untuk menyalahkan. Menyalahkan kenapa dia miskin, menyalahkan orang kaya yang memandang sebelah mata, menyalahkan pemerintah yang tidak peduli, dan bahkan sampai menyalahkan Tuhan yang menciptakan mereka dalam kemiskinan.
Salahkan mereka kalau sampai begitu? Tidak sepenuhnya. Karena dengan berbagai keterbatasan mereka, orang miskin memang lebih mudah untuk dimanipulasi.
Saya pribadi berpendapat kesalahan terbesar tetap pada stasiun TV dan para produsen sinetron tersebut. Sebagai golongan yang lebih tahu dan lebih “pandai”, sudah sepatutnya stasiun TV dan produsen sinetron lebih tahu diri. Tapi ternyata sampai sekarang stasiun TV dan produsen sinetron masih saja miskin hati dan mereka lebih suka membodohi karena dengan begitu profit akan lebih cepat untuk bisa dinikmati.
Solusinya gimana? Ah, sudah ribuan solusi disampaikan. Tapi solusi tidak akan menjadi sebuah penyelesaian selama stasiun TV dan produsen sinetron tidak mau mendengarkan. Selama mereka masih budek, maka selama itu pula solusi menjadi basi.
Baca juga posting oleh Refanidea, Global Sinetron Warning.
Popularity: 73% [?]




25 May 2008, 10:36 am
sinetron2 itu emg membodohi, tp ironisnya tdk hanya didukung oleh para stasiun tv dan produsen sinetron, tp juga didukung oleh masyarakat kebanyakkan bahkan yg melek pendidikan….
Krn saya sering denger tuh mrk2 yg dah duduk di kursi2 jabatan yg cukup penting di kantor, bs terbirit-birit pulang ke rmh kalo hr itu sinetron kesayangannya tayang…
Kita sendiri kayaknya dah berhasil di-hipnotized dng mrk2 yg mendapatkan keuntungan terbesar dr ini….
Gmn pun jg….kita berperan dlm membesarkan sinetron sampai skrg ini…
Dng mslh yg makin bertambah saja di neg ini, sinetron mungkin malah dijadikan pelarian atau suatu hiburan…
Krn spt anda tulis….memberikan harapan2 yg mungkin semu….tp tetap saja…namanya masih “harapan”.
Dan sepertinya, itu yg paling mewakili pandangan para penggemar sinetron2 itu, di luar gender, kemampuan finansial, pendidikan, dsbnya.
Mudah-mudahan makin banyak orang yang sadar bahwa harapan semu itu lebih baik ditinggalkan saja
25 May 2008, 10:32 pm
eh, blog saya kok direferensikan..? thanks yaw..
Adit: Sami-sami. Thanks juga udah berkunjung ya
26 May 2008, 7:28 pm
saya ja kalo nonton tv, nonton bola, doan, hhe
You can also read Fikar’s blog post: Study !
27 May 2008, 5:31 am
Trus tayangan TV yg dianggap bermutu itu spt apa? Menurutku sih penilaian ‘bermutu’ atau tidak itu tergantung dari masing-masing orang, bersama latar belakang mereka masing2.
Saya kalo pulang kerja sih udah males nonton tayangan ilmiah yg mesti mikir semacam National Geographics, juga malas nonton bola / motoGP yg suaranya monoton begitu2 aja. Mungkin lebih senang nonton acara yg ada nyanyi2nya sekalian sbg pengantar tidur. Kalo ada tayangan tentang programming/coding misalnya di senja/malam hari, saya jg ga bakalan nonton tuh, eneg udah seharian lihat program.
Adit: Memang tergantung kepada setiap individu. Tapi saya rasa cukup universal, bahwa tontonan yang menawarkan mimpi-mimpi dan prilaku kasar seperti yang ditampilkan di sinetron bukanlah termasuk kategori tontonan bermutu.
You can also read aNdRa’s blog post: Eksklusif Idola Cilik: Komentar dan Kisah Kiki di Pentas 9 Besar
27 May 2008, 4:07 pm
Ambil sisi positifnya ajah… yang baik selalu menang !!!
”
You can also read JoEy D`JuVe’s blog post: …ini adalah yang terakhir…
27 May 2008, 11:47 pm
Mungkin pendapat ini bisa agak berbeda (atau berubah) kalau anda baca “Robohnya Surau Kami” AA. Navis.