Asumsi Hilang, Ide pun Datang

Fri, 23 May 2008 | Tips | 245 views | Email This Post

Ketika saya masih di negeri kangguru, teman-teman kampus dari Indonesia suka berkumpul. Suatu saat kita membahas tentang membuka bisnis dan berawang-awang mempunyai usaha bersama. Ide-ide pun bermunculan. Ada yang menyarankan untuk buka butik, membuka toko kue, dan ada pula yang menyarankan untuk buka taman kanak-kanak. Ketika giliran saya ditanya, saya menjawab, bisnis biro jodoh saja.

Saat itu teman-teman mentertawakan dan malah meledek bahwa ide itu lebih karena saya sedang cari pacar. Ada benarnya juga sih he..he..he.. tapi kalau ditelaah lagi, ide saya itu sebenarnya berdasarkan analisa saya tentang jumlah wanita yang akan lebih banyak daripada jumlah laki-laki.

Adalah fakta kalau jumlah perempuan akan terus bertambah melebihi jumlah laki-laki. Dan kondisi ini tentunya akan menciptakan sebuah permintaan (demand) di mana para wanita akan saling berkompetisi mendapatkan mahluk yang jumlahnya makin berkurang, laki-laki.

Dari kacamata usaha ini adalah celah yang bisa dijadikan peluang bisnis. Dan benar saja, sekembalinya saya dari Australia, banyak layanan jasa biro jodoh bermunculan di Indonesia.

Well, walapun saya tidak meneruskan dan tidak mewujudkan ide biro jodoh saya, tapi dari situ saya belajar sesuatu: Jangan pernah takut untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan walau terdengar atau terlihat bodoh sekalipun.

Saya yakin ide-ide bisnis akan selalu bermunculan ketika kita bisa membebaskan pikiran dan hati kita dari belenggu asumsi. Karena asumsi akan mengkerdilkan kreatifitas dan mematahkan semangat.

Lalu apa sebenarnya asumsi itu? Asumsi tidaklah lebih dari sebuah kesimpulan yang terburu-buru. Seseorang yang berasumsi akan cenderung meyakini hasil akhir tanpa mau menelaah lebih jauh hal-hal yang ada di depannya. Contohnya dengan bilang usaha itu perlu modal besar. Ini adalah asumsi. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, setiap orang sebenarnya sudah punya modal terbesar untuk jadi entrepreneur. Apakah itu? Ya kepalanya sendiri.

Punya uang ratusan juta tidak akan bisa dijadikan modal usaha kalau orang tersebut tidak mau berpikir bagaimana mengelola uangnya dengan baik. Seseorang yang tidak punya uang tidak akan punya penghasilan kalau dia tidak mau menggunakan kepalanya untuk mencari-cari ide kreatif untuk dijadikan produk yang bisa dijual. Dan seseorang bisa dipastikan mentok di jalan kalau belum apa-apa sudah bilang susah atau tidak bisa.

So, stop, atau setidaknya kurangilah, berasumsi. Jangan biarkan ide-ide kita dicap sebagai ide-ide tidak berguna lantaran asumsi yang dibuat oleh diri kita sendiri. Jangan biarkan kreatifitas kita terbelenggu dengan anggapan-anggapan yang nantinya malah membuat kita jadi malas untuk mandiri.

Biarkan saja pikiran kita menjelajahi segala kemungkinan. Biarkan saja pikiran kita berusaha menggali potensi, menilik setiap celah, dan berkreasi mencari solusi.

Siapa tahu dari penjelajahan, penggalian, penilikan, dan dari kreatifitas tadi kita bisa menemukan satu ide brilliant yang bisa memberikan kita kepuasan batin dan juga kepuasan finansial.

Yuk berpikir untuk mencari ide-ide baru?! Yuk mencoba untuk menjadi seorang entrepreneur?! Yuk mencoba untuk jadi orang yang tidak lagi berasumsi?! :)

Popularity: 76% [?]



Comments

  1. 1
    Lia Marpaung
    27 May 2008, 8:51 am

    Khususnya bagi mahasiswa S2, membangun asumsi itu sangat diperlukan. Karena mereka dituntut untuk banyak melakukan penelitian yang didasari oleh adanya asumsi. Misalnya pada penelitian kualitatif yang tidak menggunakan model2 matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian akan dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi mengenai tesis yang diajukan.

    Pengembangan ilmu pengetahuan sendiri juga dimulai dengan menetapkan postulat-postulat, yaitu asumsi yang dianggap benar tanpa harus dibuktikan. Selanjutnya disusun logika, yaitu aturan berpikir yang berlaku dalam cabang ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Logika tersebut diterapkan dengan sistematis untuk membangun tesis (pendapat) atau teori tentang hubungan sebab-akibat yang dijabarkan dari fakta2 yang diamati dari fenomena yang diteliti. Dan inilah yang kemudian dikatakan bahwa ilmu pengetahuan itu harus ada landasan metode ilmiahnya.

    Jadi jangan takut berasumsi. Jadikan asumsi itu justru untuk memperkuat kebenaran ide-ide [baru] kita. Siapa tahu malah bisa menjadi suatu ilmu pengetahuan baru yang bermanfaat ;)

    Adit: Lia, dalam konteks akademis tentu penting berasumsi. And I completely agree with you on this matter. Tapi dalam masalah menghadapi kesulitan hidup (yang berasal dari faktor ekonomi), manusia cenderung untuk berasumsi negatif yang akhirnya malah memandulkan kreatifitas dan semangat untuk mencari solusi. Ujung-ujungnya berkeluh kesah terus. :)

    You can also read Lia Marpaung’s blog post: “Warna-Warni” Hari Ini

Leave a Comment

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

blank