Kemarin sekembalinya dari kantor, saya berkunjung ke Ayam Bakar Mas Mono di daerah Tebet, Jakarta selatan. Tidak ada yang luar biasa di hari itu. Saya memesan, lalu makan, dan setelahnya membayar. Namun pengalaman makan yang seharusnya memuaskan, jadi sedikitFruit_Hard_Candy mengecewakan karena uang kembalian saya ada yang diganti dengan permen.

Saya tidak tahu asal muasal praktek ini dari mana, tapi menurut saya, kembalian permen merupakan salah satu tindakan curang dalam perdagangan. Memang kalau dilihat dari jumlahnya tidak seberapa, tapi dengan pengunjung yang ramai, nilai kecil tadi tentunya akan jadi tambah besar dengan sendirinya. Bayangkan saja betapa si pedagang akan meraup keuntungan yang berlipat-lipat hanya dari sebuah kecurangan macam ini.

Salah satu penyebab hal ini bisa terjadi karena pedagang memasang harga yang menggunakan kelipatan kurang dari Rp500, yang ujung-ujungnya malah merugikan konsumen. Contohnya total pembayaran seperti Rp.9,800, Rp. 13,700 dan sebagainya. Saya yakin konsumen yang seharusnya mendapatkan kembalian Rp200 atau Rp1,000+Rp300  malah diberi permen sebagai pecahan kembalian.

07b4_1 Lebih jauh, ada anggapan bahwa sebuah permen otomatis harganya adalah Rp100, padahal belum tentu begitu. Saya yakin pedagang membeli permen tidak satuan tapi satu kantong sekaligus. Nah, kalau dihitung-hitung, maka harga satuan permen dalam kantong tersebut sangat mungkin kurang dari Rp100. Dan tentunya si pedagang akan memilih kantong permen yang paling murah. Ujung-ujungnya? Si pedagang untung dua kali (dari harga permen yang paling murah dan dari praktek kembalian permen). Sedangkan konsumen? Hmm.. tidak diuntungkan sama sekali.

Permen bukanlah alat pembayaran yang sah, namun permen menjadi sebuah alat pembayaran yang “lumrah” bagi pedagang untuk menggantikan kembalian. Sayangnya hal ini tidak berlaku kepada konsumen. Konsumen yang ingin membayar dengan permen karena uangnya kurang, tentu akan ditolak oleh si pedagang.

Perniagaan yang membawa berkah adalah perniagaan yang memberikan rasa keadilan kepada kedua pihak. Berdasarkan pemikiran ini dan melihat banyaknya praktek kembalian perman, maka sebenarnya banyak perniagaan yang tidak barokah lantaran kecurangan-kecurangan kecil seperti yang dilakukan oleh Ayam Bakar Mas Mono tadi.

Popularity: 50% [?]



Comments

  1. 1
    titiw
    12 May 2008, 1:20 pm

    Akh.. you speak my mind.. (apa tuh artinya?) pokoknya.. kau meneriakkan suara hatiku.. saya juga sering ngerasa gitu. Pernah asertif sekali, eh antrian belakang jadi panjang trus orang2 yang antri malah misuh2 “Aduh.. cuman kembalian cepek aja diminta”. But hey. coba kalo 10 orang, 100 orang, atau 1000 orang?! Lumayan banget tuh.. Yah intinya kalo toko atau supermarket atau apalah itu mbok ya cari recehan, jangan ngeles dengan bilang “Maaf mbak gak ada receh”, lah elu pan toko.. Pegimane sih?!! *ngoss.. ngoss..*

    You can also read titiw’s blog post: Belah Duren dan Kawan-kawannya

  2. 2
    adit
    13 May 2008, 5:05 am

    @Titiw:Yup, dan sialnya lagi kemarin saya bilang ke kasirnya, “lain kali saya bayar pake permen ya?” trus dia jawab “Ngga papa pak, kumpulin aja”. Wah, that’s it. Jawaban itu adalah jawaban yang membuat saya berhenti ke ayam bakar mas mono lagi.

  3. 3
    ian
    17 Jul 2008, 5:51 pm

    waaahh…. kemaren makan di dunkin donats di bekasi cyber park kembaliannya kurang Rp.100,- kasirnya cewek cakep sih jadi tengsin minta kekurangannya. dipikir pikir di kali pelanggan yg kesitu dah berapa ya. mana makanannya muahal,.. ((kekeke… dah tau mahal kok kesitu?)abisan bawak cewek sih)

    You can also read ian’s blog post: Convert an older Ubuntu installation

Leave a Comment

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

blank