Tidak Pernah Ada Kata Siap
Thu, 1 May 2008 | Relationships | 153 views | Email This Post
Dalam perjalanan setiap manusia, pasti akan ada saat-saat di mana dirinya akan membutuhkan dan mencari pasangan hidupnya. Hal ini tidak terlepas dari fitrah penciptaan manusia sendiri yang dirancang untuk hidup saling berpasang-pasangan.
“Mau apalagi?” Itu adalah pertanyaan standar yang akan muncul ketika seseorang sudah bisa menghidupi dirinya sendiri dan sudah dipandang mampu untuk berumah tangga.
Namun untuk menjawab pertanyaan tersebut tidaklah selalu mudah. Biasanya akan banyak pertimbangan yang harus dipikirkan sebelum seseorang tiba pada sebuah jawaban. Salah satunya adalah masalah “kesiapan.”
Saya yakin banyak diantara kita yang menggunakan dalih “belum siap” sebagai jawaban untuk menunda pernikahan. Dan dalih “belum siap” pada umumnya hanya ada dua: belum siap materi dan belum siap mental.
Belum siap materi adalah situasi di mana kita merasa kepemilikan atau penghasilan kita dinilai belum mencukupi untuk hidup “layak”, atau belum mencukupi untuk mensupport keluarga.
Sedangkan belum siap secara mental adalah situasi di mana secara kejiwaan kita merasa masih belum cukup matang untuk membina sebuah rumah tangga. Alasan yang suka saya temukan adalah “gue masih pengen bebas”, “gue masih belum dewasa nih”, “masih ngga yakin sama yang sekarang”, bahkan ada yang bilang “gue emang ngga pengen nikah kok.”
Sayangnya tidak ada patokan standar soal kesiapan. Siap menurut si A belum tentu sama dengan siap si B. Pandangan si B mengenai cukupnya materi belum tentu sama dengan nilai kecukupan materi si A.
Karena kesiapan merupakan hal yang relatif, maka tidak heran bila kata “siap” menjadi sebuah hal yang membingungkan. Hal yang membingungkan cenderung membuat kita berhati-hati, dan ketika kita bersikap berhati-hati biasanya ada tendensi untuk “takut salah.”
Faktor kesiapan memang penting, karena logikanya dengan bersiap-siap kita akan lebih bisa mengurangi resiko “hidup tidak enak”, baik secara materi maupun kejiwaan.
Tapi pernikahan dan hidup berumah tangga tidak selamanya soal perhitungan. Kita juga perlu mempertimbangan peranan Ilahi di dalamnya.
Sudah banyak contoh yang membuktikan bahwa setelah menikah kehidupan dua insan menjadi lebih baik. Mereka jadi lebih teratur, penghasilan meningkat, dan menemukan kedamaian. Padahal ketika ditanya kesiapan, mereka menjawab “tidak siap” atau “tidak pernah ada kata siap.”
Secara hitung-hitungan tentunya hal tersebut tidak akan masuk, tapi kenyataannya pernikahan mereka tadi berjalan dengan baik. Tentunya ini terjadi karena campur tangan Ilahi dan usaha kedua insan tadi.
Persiapkanlah materi dan mental kita semampunya. Jangan terlalu hitung-hitungan. Dan ingatlah untuk menaruh kepercayaan lebih kepada Ilahi. Karena hanya dengan ijin dan bantuan-Nyalah pernikahan akan bisa berjalan dengan baik.
Popularity: 53% [?]



2 May 2008, 10:13 am
Asal jangan mengharapkan bini/laki org aja, bisa repot urusannya, benar ga Dit?
2 May 2008, 3:51 pm
@Lidya: Iya
2 May 2008, 4:18 pm
berarti siap selalu nie, iya sie soalny gk ad patokannya… tinggal mau apa gak aja
You can also read ketela’s blog post: PHOTOCOPY
4 May 2008, 9:12 pm
Bini/laki orang juga gpp.
Soal nanti sudah nikah masing2
berubah persepsi, urusan nanti.
Yang penting skrng enak diembat!
Hajar aja Dit!
5 May 2008, 1:49 pm
Ga usah nikahin bini orang dit, aku juga sigle kok
5 May 2008, 8:00 pm
@Ketela: Mau doong
@Lista:
@Tarie:
7 May 2008, 9:56 am
Selingkuhan juga manusia yang punya hak
untuk berharap dinikahi oleh yg piara.
9 May 2008, 8:24 pm
hmmm,,,,topik ini nih yang lagi anget2nya diangkatan tika yang notabene masih ngurusin TA,,,yeah,,entah karena stress jadi berupaya menghibur diri dengan berimajinasi menikah muda,atau memang dasarnya ngebet pengen cepet2 kawin,,,..hmm..jelas kalo masalah kesiapan,dari kasat mata mungkin kita2 ga siap secara materil atau mental,…cuma kalo pertimbangan positif lebih banyak dibanding pertimbangan negatifnya,,knp ga dijadiin pembenaran?ehehehehehehehehehe…..hmmm,,,berdasarkan survey sebuah lsm,tingkat kriminalitas di indonesia berbanding lurus dengan jumlah lajang yang ada,,,kesimpulan terdekat?menikah = mengurangi jumlah lajang,,dan akhirnya jumlah lajang yang tersisa sepadan dengan tingkat kriminalitas,,,a.k.a menikah = mengurangi angka kriminalitas??..hehe,,silakan berasumsi,….
bener siy adit bilang,,,diantara kita masih banyak yang terlalu khawatir,terlalu banyak ngitung,..pdhl Allah kan udah janji dalam AlQuran,,”Janganlah kamu takut melarat,,karena Allah yang akan memberi makan anak2mu”,,,duh lupa surat apa,intinya gitu,,,terlalu banyak hal2 yang udah Allah atur porsinya,pembagiannya,,kalau kita percaya bahwa Allah Yang Maha Mengatur Segala Urusan,,…
Sempet bingung juga siy kalo ada yg bilang “emang gw ga pengen nikah”,,nah lho,,gada keturunan dong?tar kalo mati siapa yg doain?jelas2,,kalo mati yang dibawa cuma 3,,amal jariyah,ilmu yang bermanfaat,sama doa anak saleh untuk orang tuanya,(pelajaran agama jaman smp,tumben gw inget,,hehe…,selebihnya?jabatan ditinggal,istri secantik luna maya?masa mu diajak juga?,,porsche terbaru?yakin?ditandu kalee kalo mu masuk liang lahat,,,hmm…atau apartemen mewah,,,?kapling 1×2 doang kayanya muat,,,…
So?so?so?Sudah siapkah?….(*ketauan banget yang males bikin kesimpulan),,,hahahahahahaha……
You can also read Tika’s blog post: Kalo gajadi TA,,hmmm…hmmm….
10 May 2008, 7:11 am
@Tika:Insha Allah siap