Sebulan Tidak "Main"
Tue, 1 Apr 2008 | Relationships | 220 views | Email This Post
Seseorang berkata kepada saya, “Gue udah hampir sebulan loh Dit ngga maen. Soalnya gue udah kecapekan duluan. Pulang kerja udah tepar, apalagi harus ngurusin anak juga.” Lalu saya bertanya, “Loh, suami lo gimana tuh?” “Suami gue sih juga ngga nuntut banyak.” jawabnya. “He..he.he.. kasian tuh, tapi lo kan bisa tinggal terlentang aja?” Ucap saya sambil bercanda. “Ih, biar gue tinggal buka kaki aja, tapi kalau guenya ngga ada reaksi, maennya juga ngga enak kali.”
Kehidupan pernikahan memang unik. Semasa pacaran maunya berduaan terus. Bahkan tidak jarang menanti-nanti untuk bisa “kangen-kangenan”. Tetapi setelah tali pernikahan diuntai, gairah itu sepertinya malah memudar. Ada lagi yang bercerita kepada saya, “Dulu waktu pacaran, laki gue ngga bisa tuh ngeliat kulit gue kebuka sedikit. Maunya nyosor aja. Sekarang pas udah nikah, gue hampir ngga pake baju juga, dia mah cuek aja.”
Hubungan suami-isteri memang bukan yang utama dalam sebuah pernikahan. Karena biasanya setelah menikah, prioritas hidup sudah berubah. Namun ini bukan berarti hubungan suami-isteri tidak perlu dijaga.
Pernikahan layaknya sebuah rumah. Dia dibangun dengan berpondasikan ibadah kepada Ilahi, cinta, dan kasih sayang. Pilar-pilarnya adalah kemampuan finansial dan kemandirian ekonomi. Atapnya adalah komitmen untuk saling setia, dan jendela-jendelanya adalah anak-anak yang terlahir. Sedangkan pintu-pintu rumah, menurut saya, adalah hubungan suami-isteri itu sendiri.
Sebagus apapun rumah tersebut, apalah artinya kalau pintu-pintunya malah tertutup? Kita hanya bisa melihat dan mengagumi keindahannya, tapi tidak bisa menikmati kehangatannya. Tentu bukan sesuatu yang menyenangkan.
Sah-sah saja memang kalau kita merasa lelah, bosan, dan jadi kurang bergairah dengan pasangan kita. Terlebih lagi kalau kita sibuk dengan perkerjaan ataupun anak-anak.
Tapi menurut saya, jangan biarkan diri kita dan pasangan kita “nganggur” terlalu lama. Karena kalau dibiarkan seperti itu, pasangan kita hanya bisa melihat “rumah” dari luar saja. Kalau sudah begini, pasangan kita bisa merasa “kedinginan” dan jadi malas. Dan mungkin saja dia malah terinspirasi untuk mencari kehangatan di rumah lain yang pintunya lebih mudah dibuka.
Hubungan suami-isteri memang bukan yang utama, tapi tanpanya, keharmonisan pernikahan seperti sebuah rumah tanpa pintu. Hanya bisa dilihat dan dikagumi, tapi kurang bisa dinikmati.
Popularity: 53% [?]





1 Apr 2008, 10:38 am
Waah bahaya curhat sama Adit …
Kalau udah gitu kamu ambil alih peran si suami
1 Apr 2008, 1:06 pm
Ada aja alasan buat selingkuh.
Buat selingkuhan/gigolo ga mslh alasan itu benar ga,
yg plg penting bs salurkan nafsu dan dpt untung lain
dr yg piara dia. Iya kan Dit ?
1 Apr 2008, 6:57 pm
Yeah rite.. kagak usah udah kawin.. masih pacaran aja.. tapi dengn hubungan yang udh bertahun2.. gak ada lagi tuh percikan api2 asmara.. huhuhu… ati2 kebakar..
You can also read titiw’s blog post: Belah Duren dan Kawan-kawannya
1 Apr 2008, 7:27 pm
@Yeni: Itu sih sama aja ngehancurin rumah tangga orang bukan?
@Arief:Ngga tau juga ya. Saya sih ngga ada maksud untuk menyuruh orang untuk selingkuh atau untuk jadi selingkuhan. Tulisan ini cuma mengingatkan bahwa hubungan suami isteri itu juga perlu diperhatikan. Karena mau tidak mau akan berpengaruh kepada keharmonisan keluarga.
@Titiw:Maaf, tapi saya kurang mengerti maksud dari komentarnya
1 Apr 2008, 9:07 pm
itulah yang namanya sebuah keluarga, parah nih kasus nya menurut gue
You can also read quelopi’s blog post: Tontonan dewasa didalam angkot
2 Apr 2008, 8:28 am
Adit,
Klo kau hadapi bini org yg adalah atasan
di kantor dgn usia jauh lbh tua, apa yg
akan kau lakukan? Dilayani atw dinasehati?
2 Apr 2008, 7:24 pm
@Arief:Kalau saya meyakini dan berpandangan bahwa selingkuh itu adalah salah. Kalau ada kasus seperti itu saya akan menolaknya baik-baik. Masalah memberi nasehat itu lihat-lihat sikonnya aja.
3 Apr 2008, 12:21 pm
Waaah …. skrg Adit udh insaf.
Gitu donk!