Boleh Kenalan?
Thu, 21 Feb 2008 | Relationships | 617 views | Email This Post
Seorang teman baik bercerita kepada saya tentang pengalamannya diajak kenalan oleh seorang laki-laki. Waktu itu dia sedang naik angkot dan dalam perjalanan pulang dari kantor. Tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang mengikuti angkot tersebut dan berulang kali memberi klakson dan lampu.
Karena mobil itu terus saja mengikuti, teman saya jadi bertanya-tanya juga siapa dalam mobil itu. Dia mencoba melihat siapa di balik kemudi. Tapi menurut teman saya, dia tidak bisa memastikan siapa orangnya. Bahkan seorang ibu di samping teman saya berpikir itu adalah pacar teman saya.
Semuanya menjadi jelas ketika teman saya turun dari angkot. Tiba-tiba saja mobil itu berhenti persis di depan angkot dan tidak lama turun seorang pria yang datang menghampiri dan serta merta mengajak berkenalan.
Terman saya bilang, “terus terang aja aku tersinggung. Apa-apaan coba ngajak kenalan seperti itu?! Ngga sopan banget. Dia pikir semua perempuan mau diajak kenalan seperti itu? Emang aku cewek cantik apaan?!”
Mendengar penuturannya, saya menyetujuinya. Karena menurut saya teknik berkenalan seperti itu tidaklah layak, apalagi dilakukan diantara kerumunan orang. “Kalau temen sih ngga papa. Wajar aja kalau dia ngasih klakson dan lampu, mungkin dia mau ngajak pulang bareng. Tapi ini? Ngajak kenalan kayak begitu. Pede banget. Kesannya aku perempuan apa emangnya?!” tambah teman saya masih dengan nada kesal.
Bagi laki-laki, mengajak kenalan seorang wanita memang gampang-gampang susah. Banyak diantara laki-laki yang ragu untuk mendekati, namun tidak jarang pula yang pasang muka tembok untuk mengajak berkenalan.
Pada kasus teman saya tadi, mungkin si laki-laki berpikir kesempatan tidak datang dua kali. Makanya dia nekat berbuat seperti itu. Tapi dari sisi teman saya, tindakan laki-laki tersebut malah mempermalukan dirinya. Mungkin juga si laki-laki sudah berulang kali berbuat yang sama, makanya dia tidak malu-malu lagi untuk mengajak berkenalan sekenanya.
Yang saya suka sayangkan adalah banyak laki-laki yang bila sudah punya ini dan itu, kepercayaan dirinya untuk mendekati wanita suka terkesan tanpa pertimbangan, dan bahkan cenderung mengeneralisir perempuan, yaitu berpikiran bahwa perempuan mudah silau dengan apa yang dimiliki oleh sang laki-laki. Jadi seperti mengajak berkenalan sekenanya di pinggir jalan pun tidak masalah.
Tidak dipungkiri memang ada wanita yang bisa diajak kenalan seperti itu dan mungkin malah menjadi terpesona, tapi ini seharusnya diperlakukan kasus per kasus. Wanita per wanita, dan tidak main pukul rata saja. Karena tidak ada yang lebih memalukan bagi seorang wanita selain diperlakukan seperti seseorang yang gampangan dan murahan.
Popularity: 52% [?]
Artikel Lainnya:
- Nanti Aja Ya?! Berkenalan melalui chatting di Internet menurut saya, gampang-gampang susah. Apalagi kalau lawan bicara kita sudah mempunyai pemikiran bahwa kita hanya...
- Kasih Lihat Foto Ngga Ya? Beberapa teman wanita saya bercerita bahwa mereka mengalami pengalaman tidak enak ketika berkenalan melalui chatting. Pengalaman tidak menyenangkan tadi bermula...
- Playboy Kabel Kemarin sore saya menonton acara Playboy Kabel di SCTV. Seperti biasa isinya tentang menguji kesetiaan laki-laki terhadap pasangannya. Dan seperti...
- Selama Belum Ada Janur Kuning Sahabat saya bercerita tentang perjuangan laki-laki mendapatkan wanita. Dia bilang, laki-laki itu memang banyak akalnya. Selama wanitanya memberi jalan, sang...
- Cowok Bule Lebih Mengerti Wanita? Saya suka nyengir sendiri kalau mendengar ada wanita Indonesia yang maunya sama cowok bule saja. Menurut mereka cowok bule itu...





21 Feb 2008, 7:40 am
yups, setuju..

kurang simpatik bila harus berkenalan lewat cara seperti itu..
jauh lebih elegan berkenalan dengan modus ‘blogwalking’..bukan begitu mas adit..??
You can also read tehaha’s blog post: itu bencana alam..!! titik.
22 Feb 2008, 1:35 pm
ih itu laki2 kurangajar!!
You can also read aNdRa’s blog post: DagDigDug DHueeRRR
24 Feb 2008, 7:47 am
dodot kalau manggil laki-laki yang kayak ginian dengan sebutan: “pejantan tak laku”, dengan modal muka tembok semuanya dilawan