Kutunggu Jandamu

Sat, 9 Feb 2008 | Stuff | 633 views | Email This Post

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Sejauh yang saya tahu, wanita yang menyandang gelar janda suka serba salah. Kalau seorang wanita menjadi janda di usia lanjut, masyarakat biasanya akan lebih memaklumi. Toh setiap pasangan, idealnya akan mengalami hal yang sama.

Tapi ketika seorang wanita muda yang menjadi janda, orang-orang jadi punya kecenderungan untuk memandangnya sebelah mata. Kalau dari sisi laki-laki mungkin banyak dihubungkan dengan hal-hal berbau seksual, seperti melihat sang janda-muda sebagai wanita kesepian. Sedangkan dari sisi perempuan mungkin melihat sang janda-muda sebagai sosok yang fragile.

Seorang wanita bisa menjadi janda hanya dengan dua cara, bercerai atau ditinggal mati sang suami.

Sejauh yang saya tahu, seorang janda-muda yang ditinggal mati suaminya akan diterima lebih baik oleh masyarakat dibanding dengan janda-muda yang datang dari sebuah perceraian.

Alasannya mungkin karena wanita muda yang ditinggal mati suaminya tetap dipandang sebagai sosok yang setia. Namun karena kehendak yang Maha Kuasa dia harus menjanda.

Sedangkan wanita muda yang menjadi janda karena bercerai harus berhadapan dengan berbagai prasangka. Prasangka terburuk yang mungkin dihadapi adalah ketika dia dipandang sebagai wanita yang tidak tahu bagaimana menjadi seorang isteri.

Sayangnya, profil janda-muda bisa menjadi sebuah komoditas yang mempunyai nilai ekonomi. Terutama bila sang janda-muda adalah seorang selebritis. Perceraian di kalangan selebritis dan bagaimana mereka bertingkah laku atas perceraiannya seperti lebih menyuburkan stigma negatif terhadap para janda-muda.

Terlepas dari semua itu, semua janda-muda harus memikul beban yang tidak mudah, apalagi bila mereka sudah dikaruniai keturunan. Selain harus menghidupi dirinya sendiri, sang janda muda juga harus bisa berdiri tegar untuk menghidupi anak-anaknya.

Sedangkan untuk urusan asmara, janda-muda suka dihadapkan oleh kendala penolakan dari keluarga laki-laki.

Saya sendiri suka menemukan kisah-kisah di mana para janda-muda harus rela patah hati karena keluarga pihak laki-laki menolak kehadiran mereka.

Dari berbagai alasan yang disampaikan, penolakan keluarga laki-laki atas kehadiran seorang janda-muda sedikit banyak dipengaruhi oleh bagaimana masyarakat melihat sosok janda-muda itu sendiri.

Sosok seorang janda muda mau tidak mau sering dikaitkan dengan persepsi “bekas” atau “second hand“. Akibatnya, janda-muda seperti mengalami penurunan kualitas sebagai calon pasangan hidup. Terlebih lagi bila jandanya disebabkan oleh perceraian.

Saya pribadi menolak pandangan seperti ini. Karena seorang janda muda hanyalah seseorang yang memang punya jalan hidup seperti itu, terlepas dari ditinggal mati ataupun karena bercerai.

Ketika seorang wanita muda menjanda, tidak serta merta dia jadi turun kualitasnya, dan bukan pula berarti dia jadi kurang cocok untuk jadi pasangan hidup dibanding dengan wanita-wanita yang masih lajang.

Memutuskan untuk meminang seorang janda muda memang punya kendalanya sendiri. Selain penolakan, kita juga harus mau berbesar hati menerima anak-anaknya, dan mungkin suatu saat harus berhadapan dengan mantan suami juga. Hal-hal seperti inilah yang mungkin dipandang sebagai excess baggage nya janda-muda.

Bagi seorang laki-laki, kondisi tersebut tentunya akan berdampak pada ketahanan psikologis, fisik dan ketahanan ekonominya.

Namun semua kembali pada pilihan.

Bila sang janda-muda memang bisa memberikan yang selama ini kita cari dan bisa memberikan kedamaian hati, sudah selayaknyalah kita memperjuangkan dirinya untuk dijadikan pasangan yang akan menemani kita sampai hari tua nanti. :)

Popularity: 62% [?]



Comments

  1. 1
    devari
    10 Feb 2008, 2:46 am

    film2 atau sinetron2 kita ikut meracuni pola pikir masyarakat dengan sterotype negatif janda muda, misalnya ttg ‘janda kembang’ dll

    You can also read devari’s blog post: Launching BBC, You’re Invited!

  2. 2
    dahlia
    10 Feb 2008, 11:53 pm

    seblum komen mau nanya?
    elu emang lagai suka ama janda ya, dit?

    nah ini baru komen gw,
    dit, klo elu mau melangkah maju buat merid. mau janda kek, gadis kek, gadis bukan perawan kek. tetep aja elu musti siap buat ngidupin anak anak dari bini lu, trus juga elu musti bisa trima masa lalu “cinta cintaan” bini lu, trus apapun istilah buat bini lu kelak.

    maksud gw, status bukan hal yang buat seseorang mundur atau menjadi alasan buat ga merid. ini soal kita lebih menggunakan akal ga dalam ngadepin masalah rumteng dan omongan ttg rumteng.

    getoh…dooooh dit, elu banyak teori ntar jadi maju mundur dah keingian merid lu.

    *serius mode off*

  3. 3
    adit-nya niez
    11 Feb 2008, 9:05 pm

    Kirain gy nunggu jandanya Rahma Azhari lagi… ;))

    You can also read adit-nya niez’s blog post: Yeah, Ke Dufan!

  4. 4
    adit
    11 Feb 2008, 10:22 pm

    @Devari: I’m not sure if meracuni is a right word though :)

    @Dahlia: Posting ini sekedar analisa aja kok dan ngga ada hubungannya dengan suka sama janda, buat teori baru, ataupun keinginan untuk married :)

    @Adit-nya niez: Weeeh kalau yang itu mah ngga mau ah ;)

  5. 5
    avartara
    12 Feb 2008, 8:12 am

    :-?,…janda juga manusia,..punya rasa punya hati,..sama seperti gadis perawan lainnya,..hehehe:)>-

    You can also read avartara’s blog post: Tuhan Sembilan Senti

  6. 6
    aNdRa
    12 Feb 2008, 9:02 am

    Sebagian lelaki tampaknya lebih memilih janda cerai-hidup daripada meminang seorang gadis lajang, mungkin karena kalo udah pernah menikah, sedikit banyak sudah belajar berbagi ego dengan pasangan, mungkin lebih bisa nrimo gitu. Kalo gadis lajang kan ego-nya masih gede, lebih sulit untuk mengalah. Meskipun ada juga gadis lajang yang lebih gampang mengalah daripada janda yang mungkin banyak tuntutan ditambah ada anak dsb, tapi sepertinya kemungkinan bahwa janda lebih bisa berkompromi pada pasangan, lebih besar.

    Nyanyi dong.. “kau masih gadis atau sudah janda…” :D

  7. 7
    dian
    12 Feb 2008, 9:10 am

    eh padahal belom janda juga banyak yg bekas kok ya hihihi:)>-

    You can also read dian’s blog post: cuih cuih

  8. 8
    astrid
    12 Feb 2008, 6:43 pm

    konstruksi sosial memang simalakama, dituruti kok beda prinsip..gak dituruti banyak kerugian sosialnya, pdhal cinta sama sekali gak rasional! uniknya di barat, widow hanya diberikan utk mrk yg ditinggal mati sm pasangannya, sedangkan yg bercerai meski ada status formal divorce tp jarang dipakai..malah mrk bilangnya; I’m single..

    You can also read astrid’s blog post: Compliments

  9. 9
    Asta Qauliyah
    13 Feb 2008, 2:09 am

    :)
    Nyari janda aja ah…..:d/

  10. 10
    stey
    13 Feb 2008, 9:19 am

    Yang jadi pertanyaan saya, kalo status “JANDA” di pasar perjodohan agak berat, bagaimana dengan status “DUDA”?

    You can also read stey’s blog post: lagi aneh..[bukannya dari dulu-said iblis ]

  11. 11
    andyfebrian
    13 Feb 2008, 9:41 am

    semoga kita sebagai laki2 lebih bijaksana lagi dalam menilai janda, ya kan mas adit…
    lagian kan kalo janda kita gak capek2 ngajarin, karena udah berpengalaman…:d
    just jokes…:)

  12. 12
    naninunenon
    13 Feb 2008, 1:42 pm

    duuh dit topik lo deeehhh…

    You can also read naninunenon’s blog post: starbucks terapung

  13. 13
    phenom
    10 May 2008, 8:55 pm

    ealah ndoro ato nyai??? gw sih g peduli janda ato gadis ato janda1/3dis ato bla bla bla…(asal wanita asli), yang penting ca’em, baek & kalo bisa sih beruang he..he..he.. :d

  14. 14
    adit
    10 May 2008, 9:01 pm

    @Phenom: Beruang tajir maksudnya? hehehehe..

Leave a Comment

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

blank