Tidak dipungkiri bahwa pertumbuhan dan perkembangan media di Indonesia sedikit banyak telah memberikan banyak alternatif bagi masyarakat dalam mendapatkan informasi.

Kebebasan pers yang saat ini dinikmati telah berperan dalam membentuk opini publik dan telah mampu menggerakan masyarakat untuk melakukan berbagai tindakan berdasarkan pemberitaan yang dilaporakan oleh media. Dalam konteks seperti ini, media tidak saja berperan sebagai pemberi informasi tapi juga sebagai pendidik masyarakat tentang berbagai hal yang terjadi di sekeliling kita.

Media sebagai sumber informasi dan institusi “pendidikan” masyarakat sangatlah bergantung kepada kualitas wartawan yang dimilikinya. Semakin baik kualitas wartawan, maka logikanya semakin baik pula kualitas informasi dan pendidikan yang disampaikannya.

Namun sejauh ini  Pers Indonesia masih dinilai kebablasan. Kantor berita ANTARA mengatakan,

Pers Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini dinilai kebablasan karena banyak berita yang disajikannya tidak mendidik sehingga memberikan dampak kurang baik terhadap kehidupan bermasyarakat.

“Sejumlah media massa menyajikan berita-berita unjukrasa yang anarkis dan peristiwa itu secara mudah direkam otak masyarakat,” ujar Tokoh Pers di Bali Dr Ir I Wayan Windia di Denpasar Jumat.

Demikian pula pemberitaan tentang kekerasan, sadisme dan informasi-informasi lainnya yang kurang baik bagi masyarakat.

Padahal Pers yang profesional harus mempunyai tiga elemen, yakni integritas intelektual, etik, moral dan religius. Semua itu harus diterapkan dalam kehidupan Pers Indonesia di saat menikmati kebebasan tanpa ada kontrol dari pemerintah.

Selain itu pers juga harus mempertimbangkan secara matang berita yang boleh dan tidak boleh disiarkan, dengan mempertimbangkan kepentingan nasional sehingga tidak mengorbankan masyarakat.

Hal lain yang tidak kalah penting insan Pers harus religius, yakni rendah hati dan tidak sombong dengan menyajikan berita-berita yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara

Saya pribadi menilai wartawan Indonesia sekarang ini sudah mulai menunjukkan kualitas yang lebih baik, walau di sana sini masih suka kita dapati pemberitaan-pemberitaan yang tidak bisa digolongkan sebagai pemberitaan yang cerdas.

Tanggal 9 Februari adalah hari Pers Nasional. Sehubungan dengan itu saya ingin tahu mendapat teman-teman, Apakah wartawan kita sudah lebih cerdas? :)

*berita terkait: Citra pers ternoda motivasi pengusaha dan LKM: pers sudah mulai belajar dari kesalahan.

Popularity: 30% [?]

Artikel Lainnya:

  1. Menghadapi Wartawan ‘Bodrex’ Perkembangan media di Indonesia begitu cepat dan tidak heran kalau kita suka menemui nama-nama media baru yang belum terdengar sebelumnya....
  2. Wartawan Rawan Terkena Penyakit Syaraf Ada berita kurang bagus bagi rekan-rekan wartawan Yogyakarta (ANTARA News) - Profesi wartawan yang selalu bekerja dan menjalani kehidupan di...
  3. Berita Mistik, Apa Penting? Di tengah hiruk-pikuknya pemberitaan Pak Harto, masih saja media kita menghubungkan sesuatunya dengan dunia mistik. Contoh saja berita yang ada...
  4. Apakah Selingkuhan Punya Hak? Saya yakin hampir semua kasus selingkuh dimulai dari iseng. Karena mendapat tanggapan, iseng-iseng tadi berlanjut ke tahap coba-coba. Setelah dicoba...
  5. Kategori Berita di Media Tidak semua berita adalah sama, dan jurnalis mempunyai pandangan yang berbeda tentang konsep sebuah berita. Paling tidak ada empat kategori...



Leave a Comment

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

blank