Tidur, Pengangguran, dan Tagihan Listrik
Thu, 7 Feb 2008 | Stuff | 236 views | Email This Post
Ketika umur saya lebih muda, saya bisa tuh melek dari siang sampai pagi di keesokan harinya, dan ternyata saya tidak sendirian. Banyak dari teman-teman sebaya saya yang juga melakukannya. Waktu itu siklus tidur seperti sudah tersetting untuk tidur telat dan bangun terlambat.
Seiring dengan berjalannya waktu dan meningkatnya kesibukan, jam tidur saya makin lama makin maju. Kecuali di saat-saat libur, saya sudah tidak bisa lagi terjaga sampai pagi.
Tidur pun sudah berubah menjadi sebuah kemewahan yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Saya jadi berpikir, selain faktor usia, mungkinkah kemampuan kita untuk terjaga sampai pagi juga dipengaruhi oleh banyaknya waktu luang yang kita miliki?
Contoh saja ketika masih menjadi mahasiswa. Waktu kuliah dulu saya tidak menanggap tidur sebagai sesuatu yang terlalu berharga, terlebih lagi kalau jadwal kuliah semester saat itu relatif longgar. Saya tidur sengantuknya dan seenaknya saya saja. Saat-saat saya menganggur pun demikian. Siklus tidur terbalik, malam melek, siang merem.
Lalu kemarin sore saya membaca sebuah artikel di koran yang menyatakan bahwa angka pengangguran yang berlatar belakang pendidikan S1 meningkat tajam. Saya lupa koran apa dan jumlah pastinya, tapi seingat saya yang berasal dari kisaran 100 ribuan meningkat ke kisaran 400 ribuan orang.
Meningkatnya pengangguran dapat diartikan sebagai makin banyaknya orang yang punya waktu luang. Banyaknya waktu luang yang dimiliki seseorang dalam usia muda akan mendorong orang tersebut untuk menjalani siklus tidur terbalik. Dalam aplikasinya mereka kemungkinan besar akan menyalakan televisi, radio, ataupun komputernya untuk mengisi waktu luang mereka di malam hari.
Nah, semakin banyak pengangguran muda yang melakukan itu maka semakin meningkat pula pemakaian listriknya, dan ini berujung pada melonjaknya tagihan listrik yang harus dibayarkan.
Efek pengangguran memang multidimensional. Terlepas dari efek sosial dan ekonomi secara makro, pengangguran juga ikut mempengaruhi keadaan sosial dan ekonomi skala mikro.
Sebuah rumah tangga yang ada pengangguran di dalamnya, mau tidak mau, akan menanggung beban psikologis dan ekonomi yang bila dibiarkan terlalu lama dapat berakibat buruk pada keharmonisan keluarga tersebut.
Adalah tanggung jawab kita semua untuk mencari jalan keluarnya. Tanggung jawab terbesar memang terletak pada pemerintah, namun kunci solusi tetaplah berada di diri tiap-tiap individu.
Kita bisa berharap pemerintah akan melakukan perubahan-perubahan positif untuk membuka lapangan kerja, namun kita juga harus lebih semangat untuk berpikir kreatif, harus lebih berani untuk mengambil resiko, dan harus lebih giat untuk mencari jalan keluar.
Popularity: 24% [?]
Artikel Lainnya:
- Bye-bye Mati Listrik, Welcome Listrik Gratis Selang beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke Cooperative Fair 2008 yang diadakan di lapangan Gasibu Bandung dari tanggal 3...
- Polisi Tidur Selain macet, jalan bolong, polisi tidur merupakan salah satu hal yang suka membuat perjalanan menjadi tidak nyaman. Di Bandung misalnya,...
- Bunga-Bunga Tidur Setiap orang pasti pernah bermimpi. Baik itu mimpi buruk ataupun mimpi yang baik. Jenis mimpi pun ada bermacam-macam, bahkan...
- Tidur Siang Untuk Karyawan Kalau siang-siang, apalagi habis makan bawaannya sering ngantuk… gimana kalau karyawan boleh tidur siang pada jam-jam tertentu? Ayo suarakan pilihan...
- Mengantuk Setelah Makan Siang Salah satu godaan terbesar dalam hidup menurut saya adalah rasa mengantuk di siang hari. Apalagi kalau suasana yang mendukung, seperti...





Leave a Comment