Kembang Desa di Sudut Kota

Wed, 30 Jan 2008 | Stuff | 314 views | Email This Post

Kalau dulu istilah kembang desa mungkin hanya bisa didapati di daerah pedesaan saja. Tetapi seiiring berubahnya waktu dan meningkatnya arus urbanisasi, kembang-kembang desa bisa juga ditemui di area perkotaan, bahkan di lingkungan perumahan kita sendiri.

Contohnya saja kemarin, ketika menuju arah pulang. Saya tidak sengaja melihat seorang gadis manis yang sedang duduk-duduk di depan warung nasi. Saya pun berpikiran dia adalah anak si pemilik warung. Usianya sekitar 18-20 tahun, rambutnya sebahu, memakai kaos warna krem dan celana panjang dari bahan katun. Sekilas kulitnya juga terlihat bersih. In general, not so bad lah.

Lagi ada lagi satu. Anak pemilik warung yang dekat dengan kosan saya. Kata teman satu kosan yang suka beli rokok di situ, si anak pemilik warung sudah bercerai. Terus terang saya kaget, karena dia masih terlihat masih sangat muda. Mungkin tidak lebih dari 22 tahun.

Hmm…

Tidak, tidak, ini bukan cerita tentang hasrat saya dengan kembang desa atau pun dengan daun muda :^O heehehe…

Saya hanya berpikir, banyak anak perempuan yang berada di keluarga kurang mampu sering berada di posisi yang sulit. Di usia 18-19 tahun mereka sudah dinikahkan. Mungkin karena mereka tidak punya keahlian dan pekerjaan lain, maka sang orang tua memutuskan untuk menikahkan saja.

Kalau melihat anak pemilik warung yang bercerai, kemudian anak pemilik warung yang manis, nasib-nasib mereka sepertinya tidak akan terlalu jauh berbeda dan mereka adalah salah satu contoh dari sekian banyak contoh yang kita bisa dapati.

Saya juga banyak mendengar bahwa keputusan untuk menikah lebih karena terpaksa, dan sering kali para perempuan tadi malah menikahi suami yang menyakiti mereka (baik fisik maupun mental). Miris rasanya kalau mendengar kasus-kasus seperti itu. 

Entahlah mungkin ini lebih kepada prasangka, tapi saya mencurigai salah satu penyebab kekerasan dalam rumah tangga adalah penafsiran yang keliru atas istilah laki-laki sebagai pemimpin keluarga. Istilah ini mungkin ditafsirkan sebegitu rupa sehingga laki-laki dianggap sebagai penguasa di rumah tangga.

Sebagai penguasa seseorang akan beranggapan bahwa dia mempunyai hak dan power untuk mendominasi, dan bahkan memungkinkan untuk berbuat tidak adil. Apalagi kalau dihubungkan dengan fakta bahwa laki-laki sebagai pencari nafkah, seorang suami bisa menjadi begitu egois dan menuntut perlakukan berlebih.

Saya tidak akan pernah bisa membenarkan perlakuan suami yang kasar terhadap isterinya. Dalam Islam sendiri, laki-laki memang diposisikan sebagai pemimpin dalam rumah tangga, tapi tidak pernah dianggap sebagai penguasa, apalagi yang bisa berbuat seenaknya. Nabi (SAW) pernah berucap dalam pidato terakhirnya yang mengatakan bahwa bahwa laki-laki terbaik itu adalah laki-laki yang berbuat baik kepada isterinya. Karena pada isterinya lah laki-laki bisa menemukan rasa aman, rasa cinta, rasa kasih sayang, dan rasa damai.

Kekerasan dalam rumah tangga, terutama yang dialami oleh para wanita di kalangan kurang mampu sedikit banyak disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan. Terlebih lagi dengan semakin sulitnya memperoleh akses ke sekolah, membuat lebih banyak perempuan dalam posisi terpojok.

Saya setuju bahwa pendidikan merupakan salah satu solusi meng empower perempuan untuk mendapatkan perlakuan yang lebih layak. Namun yang penting di sini adalah pendidikan yang tidak menyalahi fitrah penciptaan perempuan dan fungsi perempuan itu sendiri.

Popularity: 23% [?]

Artikel Lainnya:

  1. Karena Saya Memang Matre Terlepas dari berbagai perbedaan yang ada pada setiap individu, manusia tercipta dengan membawa sifat-sifat alamiah yang dapat ditemui pada setiap...
  2. Ketika Warung dan Toko Kecil Masih Berjaya Kemarin saya belanja di sebuah toko kecil di pasar Balubur, Bandung. Saya membeli barang-barang plastik untuk keperluan kantor. Terus terang...
  3. Foto Di Dompet Selain jadi tempat penyimpanan uang, dompet juga sering kali difungsikan sebagai foto album. Saya sendiri kurang tahu kapan dimulainya kebiasaan...
  4. Playboy Kabel Kemarin sore saya menonton acara Playboy Kabel di SCTV. Seperti biasa isinya tentang menguji kesetiaan laki-laki terhadap pasangannya. Dan seperti...
  5. Hidung Belang dan Doyan Kawin Dalam menjalani hidup kita sehari-hari, terkadang ada kisah-kisah yang membuat kita geleng-geleng kepala atau bahkan tercengang. Dan dari sekian banyak...



Comments

  1. 1
    endangNo Gravatar
    30 Jan 2008, 12:53 pm

    yg paling penting juga adalah pendidikan yg merujuk pada EQ ( emotional quotient )…..sehingga, dari sudut pandangku sbg perempuan, bahwa perempuan pun mawas diri utk mampu bersikap yg selayaknya bisa benar2 memberi kenyamanan pada suami dan anak2…( kenapa jadi gue yg pidato ????:-")

    btw, bukan saya lho yg di depan warung nasi itu..

    You can also read endang’s blog post: Nikmat Duduk Disini

  2. 2
    Andie SummerkissNo Gravatar
    31 Jan 2008, 10:29 pm

    Have you found the one yet? Or is there anyone in mind?

    You can also read Andie Summerkiss’s blog post: Handwriting and Character

  3. 3
    dodotNo Gravatar
    2 Feb 2008, 7:50 pm

    Mas, nama tuch gadis siapa?

    Lagi-lagi permasalahan biangnya pendidikan, kapan pendidikan kita bisa berubah, dan tapi yang perlu dirubah dahulu apa ya? Pendidikan atau … itu tuch:-?

  4. 4
    aditNo Gravatar
    4 Feb 2008, 8:53 pm

    @Dodot:Ew.. kurang tahu kalau itu sih, soalnya belum kenalan :D

Leave a Comment

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

blank