Selingkuh dan Selingkuh
Mon, 28 Jan 2008 | Relationships | 541 views | Email This Post
Setia. Setiap tikungan ada. Hehehehe… Well, katanya sih selingkuh itu salah satu dosa yang enak. Kalau tidak enak, mana mungkin banyak orang yang melakukannya kan?
Selain poligami, kata selingkuh sepertinya sudah menjadi salah satu kata yang dimusuhi oleh kebanyakan wanita. Bukan berarti pria jadi kebal terhadap kata ini (pria setia tentunya), tapi kata selingkuh memang lebih banyak dikaitkan dengan pria yang berhubungan lagi dengan wanita lain.
Dalam penilaian saya, perselingkuhan adalah sebuah trust in crisis. Karena dengan berselingkuh, seseorang telah meruntuhkan sebuah kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Kepercayaan ini tidak terbatas kepada kepercayaan yang didapatkan dari pasangannya, tapi juga kepercayaan yang diberikan oleh Tuhan (dengan kita menikah, kita diberi kepercayaan oleh-Nya untuk membina sebuah rumah tangga).
Apabila kita memberikan kepercayaan kepada seseorang, kemudian orang itu merusak kepercayaan kita, tentu kita merasa tersakiti dan merasa dihina (tidak dihargai).
Nah begitu pula dengan berselingkuh. Apabila seorang suami atau seorang istri melakukan perselingkuhan, tidak hanya dia menghina pasangannya, tapi dia juga telah mencemooh Tuhannya.
Lalu siapakah yang paling dirugikan sebenarnya dengan berselingkuh? Tidak lain diri kita sendiri.
Seorang peselingkuh yang telah menikah adalah orang yang tidak bisa dipercaya. Orang yang tidak bisa dipercaya, adalah orang yang dipandang hina. Oleh siapa? Oleh mereka-mereka yang telah memberi kepercayaan kepadanya, dan dalam hal ini termasuk sang Khalik, sang Pemberi kepercayaan nan Mulia.
Oleh karenanya, sebelum kita selingkuh, pikirkanlah siapa yang akan kita sakiti. Pikirkanlah siapa yang akan kita cemooh. Pikirkanlah siapa yang akan merasa tidak dihargai. Pikirkanlah siapa yang akan direndahkan.
Kepercayaan tidaklah didapatkan begitu saja. Kepercayaan harus didapatkan dengan usaha. Janganlah kepercayaan yang kita sudah dapatkan, menjadi sebuah usaha yang sia-sia.
Popularity: 41% [?]




28 Jan 2008, 11:40 pm
waduh… lagi2 a matter of trust…. emang susah
You can also read naninunenon’s blog post: gugur SATU tumbuh SERIBU
29 Jan 2008, 8:07 am
Aku lebih setuju selingkuh, sebab bisa dilakukan kedua belah pihak — laki2 dan perempuan. Kalo poligami kan cuma bisa (dan sah) dilakukan oleh laki2 — lha perempuan rugi dong! Jadi hidup selingkuh!
You can also read astrid’s blog post: INDOGLISH
29 Jan 2008, 10:35 am
Selingkuh atau tidak dan apakah suka menyelingkung rasanya sudah menjadi kebutuhan, mungkin karena desakan psikologis untuk mau diperhatikan membuat sebagian penyelingkuh suka menyelingkuh kali ya….:”>
29 Jan 2008, 11:55 am
Ya ya.. Saya mengerti ini…
You can also read adit-nya niez’s blog post: Sedikit Asa…
29 Jan 2008, 4:42 pm
Mo nggoreng buaya dan buayi darat
seseorang (pria/wanita) yang telah selingkuh, sesungguhnya telah kehilangan harga dirinya sendiri. Kalau memang sudah tidak cocok dengan pasangan, selesaikan dulu satu-persatu hubungan, baru menjalin hubungan baru. Untuk yg sudah menikah memang sebuah pilihan berat misalnya sampai harus bercerai, apalagi bila ada anak. Saya pribadi sih males, ilfil, dan jijik aja sama laki2 yg udah selingkuh.
Padahal ini jaman dimana selingkuh dimudahkan oleh teknologi ya….makin sulit cari lelaki yang setia-tidak-selingkuh.
29 Jan 2008, 4:50 pm
Dit,
Selingkuh itu gak hanya masalah kaum lelaki, in my case I’ve witnessed infidelity tapi dari pihak perempuan. So this is not the matter of gender, but more to individual.
Sad isn’t it.
You can also read ecky’s blog post: Better late than never…
29 Jan 2008, 6:01 pm
@Nanin: Yup, it’s not an easy matter, and we often take it for granted.
@Astrid: Iya dooong kudu seimbang kan ya?
@Dodot: Mungkin lebih kepada ketidak puasan dibanding dengan kebutuhan.
@Adit-nya Niez:
@Andra: Saya setuju tuh tentang harus menyelesaikan dulu satu-persatu, jangan langsung main embat aja.
@Ecky: I completely agree, still, it appears to me that more men are cheating than women do.
29 Jan 2008, 7:52 pm
sebenernya kedua gender ada potensi untuk selingkuh. tapi suka atau nggak, perempuan emang punya kecenderungan untuk lebih “monogami” dibanding laki2. kalo udah sayang sama 1 orang, susah buat perempuan untuk bagi2 perasaan, laki2 biasanya lebih gampang “bagi2″ perasaan gini. ga adil ya?
You can also read gurlinterrupted’s blog post: Colin Farrell, Jakarta youngsters, and Arab men
30 Jan 2008, 7:05 am
Sebuah analisa yang matang dan runtun. Saya agak tersentil dengan “crisis in trust”, dan saya menyetujuinya…dari banyak pengalaman teman, sekali kita merusak rumah tangga dengan perselingkuhan, susah sekali membangun lagi seperti sedia kala. Ibaratnya tulang patah yang susah normal lagi dan gampang “nyeri”.
Dalam pengertian negara, kita sudah terlalu sering diselingkuhi politisi dan wakil kita di DPR, tapi ya masih tetep antusias ikut pemilu…ternyata selingkuh ada obatnya, Harapan! IMHO
You can also read Noe’s blog post: Album Foto: The Smiling General
30 Jan 2008, 11:49 am
Hmmmm selingkuh.. menyenangkan tapi ujungnya menyedihkan.. makanya mending pikir pikir lagi
You can also read tarie’s blog post: Aku punya 16 adik
3 Feb 2008, 2:41 am
jangan sampai selingkuh en amit2 diselingkuhi..anti sangadh!!!
You can also read stey’s blog post: Ga banyak yang diceritain..
22 Mar 2008, 12:28 am
Adit ngerti betul ttg perselingkuhan.
Maklumlah, jd selingkuhan=peliharaan=gigolo
enak ga ada risiko.