Susah Berjodoh
Sat, 26 Jan 2008 | Repost, Tips | 262 views | Email This Post

Dari sekian orang teman wanita saya, masih banyak diantara mereka yang masih belum menemukan pasangan hidupnya. Kalau bicara soal keinginan sih mereka sudah menyatakan ingin menikah, malah ada yang bilang makin cepat makin baik.
Kalau mendengar curhatan mereka pada umumnya mereka merasa bimbang ketika bertanya atau ditanya “apa iya dia jodoh saya?” atau simply menjawab “akunya ngga sreg” atau “akunya ngga berminat”
Saya rasa kebimbangan macam ini wajar-wajar saja. Kita memang perlu memilah dan memilih sebelum memutuskan untuk menuju ke tingkatan selanjutnya. Pola reaksi terhadap jawaban-jawaban itu biasanya “kamunya terlalu milih-milih kali?”, “mungkin belum jodoh aja”, atau “sabar ya, nanti juga ketemu.”
Reaksi-reaksi tadi menurut saya sah-sah saja. Mungkin mereka punya alasan kenapa bereaksi seperti itu. Tapi kali ini saya tidak mau membahas hal itu. Saya lebih tertarik melihat salah satu penyebab susahnya wanita mendapat pasangan: Pria.
Teman-teman wanita saya suka merasa “off” atau ill-feel pada awal-awal perkenalan dengan para pria karena sikap para pria sendiri.
Kasus yang paling sering diceritakan kepada saya adalah si pria terlalu mengandalkan “keberhasilannya” sebagai alat promosi. “Keberhasilan” dalam hal ini tidak pernah jauh dari soal materi maupun pekerjaan.
Pada awalnya teman-teman wanita saya merasa nyaman dan menyambut baik kedatangan para pria tersebut. Namun ketika para pria mulai menggunakan “keberhasilan” sebagai lampu pesona mereka, teman-teman wanita saya malah merasa tidak tertarik lagi. Parahnya lagi ini terjadi dalam waktu yang relatif cepat.
Saya pun bertanya kenapa. Kesimpulan yang saya dapatkan adalah teman-teman wanita saya tidak melihat keberhasilan dalam materi dan pekerjaan sebagai tolok ukur kebahagiaan. Keberhasilan dalam materi dan pekerjaan memang sebuah daya tarik bagi mereka, namun sebaiknya tidak diposisikan oleh para pria sebagai alat promosi yang utama.
Kalau diibaratkan makan malam, “keberhasilan” itu sebagai makanan pembuka saja (appetizer), sedangkan makanan utamanya (main dish) adalah kepribadian pria itu sendiri. Apakah si pria bisa memberikan kasih sayang, rasa aman, rasa nyaman, dan rasa melengkapi. “Keberhasilan” pun akhirnya lebih berfungsi sebagai kendaraan untuk membantu sang wanita mencapai tujuan akhir pernikahannya: hidup bahagia.
Saya sebagai laki-laki bisa memahami mengapa para pria berbuat seperti itu. Banyak diantara kami yang dipengaruhi oleh anggapan bahwa wanita itu materialistis dan/atau wanita itu tertarik dengan pria dengan jabatan tinggi. Singkatnya terpengaruh dengan “status”.
Saya juga tidak menyalahkan pria kalau berpikir seperti ini. Karena dalam banyak kejadian “status” digunakan sebagai tolok ukur dalam pencarian jodoh. Istilah Bibit, Bebet, dan Bobot mungkin contoh yang bisa mewakili tentang pentingnya “Status” dalam perjodohan di budaya kita.
Langkah yang mungkin bisa diambil oleh para pria adalah lebih mengedepankan kepribadian yang bisa memberikan kasih sayang, rasa aman, rasa nyaman, dan rasa melengkapi sebagai daya tarik utama. Gunakan “Keberhasilan” hanya sebagai embel-embel yang bisa membuat daya tarik utama lebih bercahaya.
Hindari untuk menggunakan “keberhasilan” sebagai daya tarik utama karena akan memberi kesan bahwa wanita hanya tertarik kepada materi dan jabatan.
Menurut pendapat saya, kedamaian hati bagi seorang wanita lebih utama daripada seluruh harta yang bisa dikumpulkan dan lebih berharga dari semua jabatan yang bisa diraih.
Popularity: 52% [?]




26 Jan 2008, 6:39 pm
lebih asik lagi kalo berhasil dan bisa memberi kasih sayang
hohoho….
You can also read ojat’s blog post: Senangnya..
26 Jan 2008, 10:15 pm
Klo mas Adit sndiri gmana??
You can also read adit-nya niez’s blog post: Sedikit Asa…
27 Jan 2008, 10:01 am
@Ojat: Untuk berhasil butuh optimisme dan usaha dong hehehe
@Adit: Kalau saya sih jadi pendengar yang baik aja deh *ngga nyambung ya?*
28 Jan 2008, 1:12 pm
Yups, saya ilfil sama seseorang yang pedekate gara2 dia akhir2 ini terlihat ingin menunjukkan kesuksesannya dalam hal karir dan materi. That’s the end of the ‘PDKT’ hahahah…
28 Jan 2008, 7:01 pm
I have to admit that I did have that panic attack. I got married when I was 30 and I met my husband a year earlier. I have dated a lot of men before and still nothing came out of the dramas.
I don’t think that we should rush ourselves into that kind of decision. Take your time. It will come, eventually. Nothing worse than making the wrong choice. There’s no turning back. All the drama and heartache .. really doesn’t worth it.
I would recommend living together. Just to make sure. There are a lot of surprises. Someone is not who you think he/she is until you live with them. I would recommend that you turn all the stones to see what’s under it. Its a bit unorthodox and some parents will die if they find out about it.
I thought I have turned everything, but still surprises are shocking! But nothing else left to do but to accept one graciously, the good and the bad
You can also read Andie Summerkiss’s blog post: Driving Medan Style
29 Jan 2008, 5:43 am
@Andra: Tul, emang nanti disangka cewek matre apaan ya? hahaha.. sorry just kidding, tp bener sih banyak temen cewek yang emang jadi ill-fill kalau cowok itu berusaha “menyilaukan” dengan harta dan jabatan.
@Andie:I guess marriage is an adventure in its own right. You’ll keep discovering new things, and like any other adventures, there are some good, and there are some bad. The most important thing, in my opinion, is to keep the balance between the two
— of course we must put more weigh on the good — I think 