30 Something and Single

Sat, 26 Jan 2008 | Tips | 249 views | Email This Post

Ada beberapa orang yang bercerita kepada saya tentang penyesalan mereka karena menolak lamaran lelaki ketika mereka masih berumur di bawah 30 tahun.

Alasan mereka pada umumnya berkisar pada karir dan usia. Ketika itu mereka berpikir bahwa mereka masih punya banyak waktu dan lebih menganggap karir lebih penting daripada menikah. Merekapun cenderung sangat selektif dalam memilih. Laki-laki yang nampak “tidak menjanjikan” dengan mudah masuk kategori ditolak.


Kekhawatiran mulai membebani mereka ketika memasuki umur 27-28 tahun. Memasuki umur ini karir dan pekerjaan sudah berubah prioritasnya. Pernikahan yang tadinya dipandang tidak terlalu penting, berangsur-angsur berubah menjadi sebuah tujuan yang mau-tidak-mau harus terpenuhi.

Mereka seperti menyadari bahwa wanita di usia ini sering kali tidak dipandang muda dan sudah saatnya untuk menikah. Mereka pun seperti lebih terbebani karena persepsi masyarakat tentang wanita yang mendekati umur 30 dan belum menikah. Dianggap tidak laku, terlalu pilih-pilih, dan disalahkan (karena dulu selalu menolak). Belum lagi adanya “persaingan” dengan yang lebih muda untuk mendapatkan pasangan.

Ketika berumur 30 tahun dan lebih, dan belum juga mendapatkan pasangan, mereka biasanya mengambil sikap lebih pasrah. Alasan yang sering terdengar adalah memang belum ketemu saja. Atau jodoh itu di tangan Tuhan. Tentu dengan berharap Mr. Right akan segera datang.

Dalam pandangan saya, kekhawatiran ini seperti menggoncang kepercayaan diri mereka. Bukan kepercayaan diri sebagai seorang professional, tapi sebagai seorang wanita. Karena apapun pandangan kita tentang moderenitas, tetap tidak akan mampu merubah fitrah penciptaan.

Wanita yang dipandang sukses dan disegani dalam kehidupan professional, pada satu titik akan merasa vulnerable dengan kesendiriannya (begitu juga laki-laki).

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan oleh para wanita yang sudah berumur 30 atau lebih dan masih single?

Salah satu yang mungkin bisa membantu adalah dengan bersikap proaktif, yaitu dengan berinisiatif untuk melakukan pendekatan kepada pria dan tidak terpaku dengan pandangan yang mengatakan laki-laki mengejar dan wanita dikejar.

Hambatan yang mungkin muncul adalah adanya kekhawatiran dilabeli kegatelan, agresif, atau dianggap “less of a woman” karena mengejar laki-laki.

Tapi ingat, itu hanya anggapan-anggapan yang tidak berdasar. Kata siapa laki-laki tidak suka di “kejar”? Kata siapa laki-laki tidak suka wanita “agresif”? Kata siapa laki-laki akan melihat seorang wanita yang mengejar sebagai “less of a woman?”

Wanita yang berinisiatif melakukan pendekatan terlebih dahulu akan meringankan beban laki-laki untuk melakukan pendekatan.

Ketika seorang laki-laki akan melakukan pendekatan dia akan mengukur level sang wanita. Apakah sang wanita sama, di bawah, atau di atas dirinya. Perbandingan yang digunakan biasanya status sosial dan kekayaan.

Sayangnya banyak laki-laki yang tidak percaya diri untuk mendekati karena sang wanita terlihat lebih tinggi statusnya.

Laki-laki adalah mahluk visual. Ketika seorang wanita terlihat “wow” dalam penampilan dan karir, laki-laki sering jadi minder. Mereka jadi punya anggapan bahwa sang wanita tentu menginginkan laki-laki yang sama atau lebih tinggi statusnya. Padahal belum tentu begitu.

Nah, apabila wanita mau berinisiatif melakukan pendekatan, sedikit banyak akan membantu untuk mengurangi rasa “jengah” nya laki-laki. Sang lelakipun lebih bisa lebih percaya diri untuk merespon sang wanita dengan “mengejar balik”.

Tentu kehati-hatian harus tetap ada dan segala sesuatu, sedikit banyak, akan ada resikonya. Tapi kalau terlalu berhati-hati dan terlalu takut dengan resiko malah jadi susah sendiri.

Cara paling mudah dan relatif aman adalah dengan menggunakan jejaring sosial seperti Facebook atau Friendster.

Jejaring-jejaring ini memungkinkan wanita untuk menyeleksi terlebih dahulu pria-pria yang menjadi “target”. Sang wanita juga jadi punya background information tentang laki-laki yang diincarnya. Memang belum tentu merefleksikan keadaan yang sebenarnya, tapi pada umumnya informasi yang tertulis adalah sesuai dengan aslinya. Again, kehati-hatian harus tetap ada.

Setelah memutuskan mana yang mau di “kejar”, sang wanita cukup meninggalkan pesan saja. Laki-laki suka kok bila ada wanita yang meninggalkan pesan untuk berkenalan. Jangan ambil pusing kalau belum ada respon. Mungkin dia sibuk, mungkin dia tidak tertarik. Tapi ini adalah bagian dari proses. So, take it easy.

Yang terkahir yang harus diingat adalah untuk berdoa. Minta perlindungan-Nya dan minta bantuan-Nya. Karena semua tidak akan terjadi tanpa ada ijin dari-Nya.

Popularity: 33% [?]



Comments

  1. 1
    Dy
    26 Jan 2008, 7:45 pm

    makanya disarankan yah, kalau tolak ukur dalam mencari pasangan itu adalah dari agamanya,akhlaknya.. bukan kekayaan atau something else yang berhubungan dengan keduniaan..

    You can also read Dy’s blog post: buat teman-teman semua

  2. 2
    Anita
    28 Jan 2008, 10:55 pm

    Errr… saya setuju membaca posting kamu, sampai pada titik salah satu saran kamu bagaimana wanita melakukan pendekatan, lewat social networks i.e. facebook. Setahu saya beberapa kawan (cowok) saya memang sering di-poke atau dikirimi smile lewat virtual world dan beberapa kali ahirnya berhasil kopi darat. Tapi belum ada yang berhasil, setelah satu-dua kali bertemu, lenyap begitu saja.

    Parvita baru saja menulis mengenai future relationship (click here).

    You can also read Anita’s blog post: Suharto seen from Different Angles of Perspective

  3. 3
    adit
    29 Jan 2008, 6:11 pm

    Anita » Memang tidak bisa menjamin juga sih. But the effort that counts kan? ;)

  4. 4
    aNdRa
    8 Feb 2008, 9:06 am

    Sayangnya banyak laki-laki yang tidak percaya diri untuk mendekati karena sang wanita terlihat lebih tinggi statusnya.
    Laki-laki adalah mahluk visual. Ketika seorang wanita terlihat “wow” dalam penampilan dan karir, laki-laki sering jadi minder. Mereka jadi punya anggapan bahwa sang wanita tentu menginginkan laki-laki yang sama atau lebih tinggi statusnya. Padahal belum tentu begitu.
    —————————————-
    Hmm… *elus-elus dagu tak berdjenggot*… sepertinya memang begitu. Cowo memang makhluk yang aneh :d

Leave a Comment

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

blank