Ironisnya Demokrasi Indonesia

Tue, 22 Jan 2008 | Stuff | 334 views | Email This Post

Beberapa hari ini saya memperhatikan pilkada di Tangerang di mana pasangan Ismet Iskandar-Rano Karno menduduki peringkat tertinggi dalam perolehan suara.

Saya tidak mempermasalahkan pasangan tersebut ataupun hasil yang diperolehnya. Hanya saja saya melihat ada perkembangan yang menarik untuk diamati.

Perkembangan pemilihan umum di negeri ini menurut saya masih menyedihkan. Partai politik kini beramai-ramai merekrut para selebritis untuk meraih simpati rakyat. Kampanye-kampanye yang dilakukan pun cenderung  lebih berbentuk enterntainment show dan mengabaikan faktor  edukasi kepada calon pemilih.

Dengan menggunakan selebritis sebagai daya tarik, tentunya ini mengajak calon pemilih untuk memilih secara tidak rasional. Karena para pemilih yang bersimpati kepada seorang selebritis akan lebih memperhatikan nilai keselebritisannya di banding program-program yang ditawarkan oleh para kandidat.

Selebritis berpolitik memang tidak ada larangannya. Presiden Ronald Reaganpun seorang selebritis, dan begitu pula dengan Joseph Estrada. Keduanya merupakan contoh-contoh yang mempunyai latar belakang sama, namun mempunyai akhir yang berbeda.

Ronald Reagan berkampanye di depan rakyat yang pendidikan politiknya sudah lebih maju. Sedangkan Joseph Estrada berkampanye di depan rakyat yang pengetahuan politiknya tidak berbeda jauh dengan kondisi di Indonesia sekarang ini.

Kemenangan Joseph Estrada sebagai presiden yang kemudian digulingkan karena kasus korupsi bisa digunakan sebagai indikasi bahwa rakyat Filipina kurang menggunakan rasionya dalam memilih. Mereka cenderung untuk mengutamakan nilai selebritis Estrada dibanding kemampuan dirinya sebagai pemimpin.

Saya khawatir hal ini akan berulang di Indonesia. Seorang selebritis memang bisa mendatangkan suara, namun bukan berarti mereka mempunyai kecakapan sebagai pemimpin.

Kalau kita mengangkat seorang pemimpin hanya karena dia seorang yang sering muncul di TV dan infotainment show, bukankah ini sebuah kenyataan yang ironis?

Bila partai politik masih saja tertarik menggunakan selebritis, saya khawatir perkembangan politik di Indonesia akan jalan di tempat. Partai politik tidak lagi mendidik rakyat untuk pandai berpolitik, tapi malah membodohi rakyat untuk terus mau dieksploitasi untuk kepentingan-kepentingan politik, yaitu dengan mempengaruhi mereka untuk memilih tanpa menggunakan rasionya.

Popularity: 20% [?]

Artikel Lainnya:

  1. Presiden Bergelar Sarjana Hari ini saya iseng-iseng membaca koran Media Indonesia tanggal 6 December 2008. Lalu saya menemukan artikel di Forum Media Indonesia...
  2. Masihkah Ada Sisa Cinta Untuk Indonesia Setelah blogwalking dan bloghopping ke beberapa blog Indonesia, saya menemukan bahwa sebenarnya para bloggers kita itu cinta sama Indonesia. Saya...
  3. Panduan Referensi Akademis untuk Tulisan Ilmiah Berbahasa Indonesia Pencantuman referensi diperlukan untuk setiap tulisan ilmiah yang dibuat oleh para akademis, termasuk di dalamnya pelajar dan mahasiswa. Tujuan...
  4. Hidup Santai, Hidupnya Indonesia Hari ini saya membaca berita di detik.com yang melaporkan bahwa pemerintah akan mengkaji kembali kebijaksanaan cuti bersama di tahun ini....
  5. Pengusaha Indonesia Sudah rutin bagi kita untuk mendapatkan berita tentang penggusuran kaki lima. Hampir tiap hari ada saja pemberitaan tentang ‘perjuangan’ para...



Comments

  1. 1
    mynameisniaNo Gravatar
    22 Jan 2008, 1:27 pm

    Democracy only leads into anarchy :d

    You can also read mynameisnia’s blog post: Kelas Mimpi

  2. 2
    adit-nya niezNo Gravatar
    22 Jan 2008, 2:47 pm

    Dengan menggunakan selebritis sebagai daya tarik, tentunya ini mengaj

    Tapi hal ini mungkin tidak berlaku buwat para pemilih “berpendidikan”… b-)

    You can also read adit-nya niez’s blog post: Si Mata dan si Hati

  3. 3
    aditNo Gravatar
    22 Jan 2008, 3:39 pm

    @Isna: You may have a point there ;)

    @Adit-nya Niez Too bad, rakyat kita masih banyak yang kurang “pendidikannya” :(

  4. 4
    ojatNo Gravatar
    22 Jan 2008, 5:06 pm

    ya, kita memang lagi dipermainkan demokrasi. oh ya, saya juga ga begitu seneng sama HAM, soalnya sering disalahgunakan, membela org yg salah atas nama HAM *hehehe OOT….

    You can also read ojat’s blog post: My Dad’s Birthday

  5. 5
    steyNo Gravatar
    24 Jan 2008, 9:02 pm

    well, saya lagi membayangkan cincha lowra jadi anggota DPR ato gubernur..kekeke..
    hemmm..saya sih g mslh klo seleb yg dipake,emg dedikasinya tinggi untuk kepentingan rakyat, angelina sondakh, sophan sophian,contoh yg saya suka. Toh g semua seleb bermasalah dgn politik, Reagan yg notabene bekas aktor,toh termasuk baik2 saja waktu memerintah..well,moral of the story : asal jangan pilih saya,kekeke…

    You can also read stey’s blog post: Heaven..

Leave a Comment

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

blank