Credit Card, Take it or Leave it?
Sun, 20 Jan 2008 | Tips | 356 views | Email This Post
Gencarnya promosi kartu kredit di tanah air membuktikan bahwa ekonomi Indonesia memang sedang tumbuh, dan persaingan antar credit card provider dapat digunakan sebagai indikasi baik tidaknya penerimaan masyarakat atas keberadaan kartu kredit.
Dari pemberitaan-pemberitaan yang saya baca selama ini, industri kartu kredit di Indonesia sepertinya cukup baik, bahkan cenderung untuk terus tumbuh. Berbagai kemudahan pun diberikan sebagai daya tarik.
Dari segala kemudahan yang dipromosikan, daya tarik tarik utama kartu kredit tetaplah pada kemudahan berbelanja. Kita bisa membeli sesuatu lebih cepat dan membayar kemudian.
Kartu kredit seakan-akan memberikan penghasilan tambahan yang tak terlihat. Misal saja penghasilan kita Rp. 1,000, tapi dengan kartu kredit kita seperti berpenghasilan Rp. 3,000. Ini karena kita punya credit limit yang memungkinkan kita untuk berbelanja lebih dari pendapatan kita.
Menarik memang konsep berbelanja seperti ini. Bahkan kartu kredit sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan simbol status sosial.
Terlepas dari segala kemudahan dan kemewahannya, kartu kredit juga punya sisi negatif yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
Saya suka menonton Suze Orman Show di CNBC. Suze adalah seorang financial adviser yang sudah diakui secara internasional. Acara Suze memang lebih dikaitkan dengan kondisi di Amerika Serikat, tapi kita masih bisa melihat relevansinya ke kehidupan di Indonesia.
Dari setiap pertanyaan yang diajukan pemirsanya, hampir seluruhnya mempunyai tagihan kartu kredit. Mulai dari jumlah yang relatif sedikit, sampai dengan puluhan ribu dollar.
Tagihan-tagihan tadi nampak betul memberatkan dan tentunya membuat hidup pemilik kartu kredit tersebut tidak lebih mudah. Kepuasan berbelanja hanya berumur satu bulan. Karena bulan berikutnya mereka harus menghadapi kenyataan—tagihan kartu kredit.
Kalau melihat kondisi di Indonesia, sebenarnya banyak diantara kita yang nantinya akan mengalami kondisi serupa. Baik sadar ataupun tidak, mereka yang menjadikan kartu kredit sebagai gaya hidup mau tidak mau akan terbebani dengan hutang.
Saya sendiri suka terheran-heran apabila ada yang mempunyai kartu kredit bermacam-macam. Bahkan pernah saya dengar ada yang punya kartu kredit sampai lima buah. Wow!
Mungkin ada yang beranggapan saya bisa bilang seperti ini karena saya tidak berada pada posisi mereka. Mereka yang punya kartu kredit bermacam-macam tentunya punya sumber keuangan yang bisa menutupi tagihan-tagihan kartu kredit yang dimilikinya. Setuju kalau itu memang benar. Tapi kalau kenyataannya adalah sebaliknya bagaimana?
Kekhawatiran saya terhadap kartu kredit selain soal membayar tagihannya, juga sering kali menjadikan si pemilik kartu dalam kondisi yang kurang menguntungkan.
Saya berpendapat bahwa prinsip dasar kartu kredit adalah berhutang. Sebagus apapun produk kartu kredit yang ditawarkan dan terlepas dari ada tidaknya kemampuan untuk membayar, kartu kredit ujung-ujungnya mengajak kita untuk ramai-ramai punya hutang.
Walau sering terlihat glamour, punya hutang tetap saja akan membuat kita berada dalam posisi yang lebih rendah.
Sayangnya lagi, mereka yang berada di posisi lebih rendah biasanya akan lebih mudah untuk ditekan. Contoh gampangnya adalah kisah-kisah para pemilik kartu kredit yang dikejar-kejar debt collector.
Mungkin ada yang berpendapat lagi semua itu bagaimana pintar-pintarnya kita menggunakan kartu kredit. Saya setuju. Tapi kalau bisa tidak berhutang, kenapa mesti ‘memaksa’ untuk punya hutang?
Saya bukannya memusuhi kartu kredit, tapi kalau bisa hindarilah menggunakan kartu kredit seminimum mungkin. Gunakanlah kartu kredit hanya untuk keadaan yang benar-benar darurat.
Untuk kasus-kasus tertentu di mana kita mau-tidak-mau harus memakai kartu kredit, sebaiknya direncanakan dahulu pemakaiannya. Selain itu penggunaannya juga harus benar-benar teliti.
Secara pribadi saya memang menghindari punya kartu kredit. Saya lebih menyukai kartu ATM (debit), karena kartu jenis ini membuat kita lebih realistik dalam mengelola dan membelanjakan uang yang kita miliki.
Kalau kita cuma punya Rp. 1,000 di tabungan, kartu ATM tidak akan bilang kita punya Rp. 3,000. Berbeda dengan kartu kredit yang mengatakan sebaliknya.
Untuk berbelanja, sebisa mungkin gunakanlah kartu ATM (debit) atau cash saja. Selain untuk menahan prilaku konsumtif yang berlebih, juga bisa membuat kita lebih rasional dalam berbelanja.
Finally, saya cuma ingin bilang, gunakanlah common sense sebagai langkah awal sebelum memutuskan untuk mempunyai/menggunakan kartu kredit. Karena pada akhirnya semua kembali kepada pilihan.
Saya berharap pilihan apapun yang nanti akan diambil, semoga sudah benar-benar dipertimbangkan baik buruknya.
Popularity: 29% [?]
Artikel Lainnya:
- Kumpul Blogger, Take It or Leave It? Model bisnis seperti Google AdSense atau Text Link Ads memang menarik dan terbukti sukses. Mengaca pada model bisnis tersebut, Kumpul...





20 Jan 2008, 3:51 pm
kalau saya sendiri.. lebih baik pakai debit card.. prinsipnya kalau kita cuma punya uang 1000 ya hiduplah dengan uang 1000 itu
daripada stress mikirin hutang
/
hidupkan harus dinikmatin
You can also read Aprilia’s blog post: Panen Rambutan Binjai
20 Jan 2008, 4:11 pm
Pay cash selalu deh. Tapi pemasarannya sudah tidak beretika lagi tuh pak. Masa buruh pabrik bisa punya banyak kartu kredit dan dikejar2 debt collector karena kebablasan. Duuuh.
You can also read Toni Wahid’s blog post: Jangan Bawa Terasi Ke Airport
20 Jan 2008, 4:18 pm
tul!!! setujuuu…paling takut pake CC.. tapi kadang digunakan aja buat makan pizza (dapet diskon soalnya), nonton (gratis 1), beli tiket online dan guarantee kalo check in hotel di luar (kerjaan, jadi wajib deh)… selaen itu? duhhhhh ga berani pake… takuuuttt
You can also read Yuliana’s blog post: campur sari
20 Jan 2008, 9:08 pm
kartu kredit ituh cuma gaya hidup ajah..yg padahal tanpa disadari kita gak membutuhkan ituh … setelah dimesir sini..saya jd terbiasa apa2 bayar dgn cash … ternyata gak ribet tuh..seperti yg dibilang iklan2 kartu kredit
You can also read icha’s blog post: HiaTus DuLu aH
20 Jan 2008, 9:28 pm
for me personally i would say cash is better… karena kalo pake credit card, saya pasti terlena…hehehe…
kecuali kalo emang udah bener2 mampu dan perlu, it’s ok to have ONE credit card for convenience…
You can also read naninunenon’s blog post: get A life
20 Jan 2008, 9:51 pm
I saw her show at David Letterman last week. I think she gave a very reasonable argument on why we shouldn’t overcharge. The credit card system does fuel economy greatly, but it tends to be used abusively. The victims will be nobody but ourselves.
I have three credit cards. As for now, I can’t even remember why I have three to start with. I was in debt for years (as all overspending girls do) but I paid off all and always pay fully every month since then.
But cash is the best. If you don’t see it in your wallet, you can’t spend it. Don’t you think?
You can also read Andie Summerkiss’s blog post: Weekly Winners - Story of Flora
20 Jan 2008, 10:22 pm
emg fenomenal banged ya pertumbuhan kartu kredit…secara ga sedikit juga temen2ku yang bangga pake kartu kredit
my vote (walopun ga disuruh =p): LEAVE IT!, it’s so gaaayyyy! yay!…belanja kok pinjem uang orang dulu…
kalo emg perlu, seperlu2nya paling kalo berangkat ke rumah sakit tiba-tiba disaat tak ada cash untuk book kamar…mending punya insurance and atm card deh
You can also read Ajeng’s blog post: Sinetron vs Serial TV Kesukaan Saya
21 Jan 2008, 8:34 am
@Aprilia: Untuk kasus-kasus tertentu memang diperlukan, tapi harus hati-hati tuh pemakaiannya, jangan sampe kebablasan kan? hehehe
@Toni Wahid: Masak sih sampe segitunya Mas?
@Yuliana: mau dong pizzanya
@Icha: He eh, kitanya memang harus smart juga, jgn terlalu mudah kemakan iklan
@Nanin: Yup, I agree. ONE is enough
@Andie: Yup yup yup! Cash is always better in my opinion
21 Jan 2008, 11:30 am
hmm kl robert kiyosaki bilang, kartu kredit adalah teman setia Anda menuju kemiskinan.. hehehe. sepertinya memang benar ya.. kecuali pendapatan kita sudah mencapai 13-14 digit rupiah.. di Jakarta, semuanya serba konsumtif, kl ditambah dgn adanya kartu kredit.. hmm.. bisa2 makan sehari-hari aja ngutang.. blom lagi kl cewe liat sale.. bisa menggila.. pake debit aja bisa mpe mutung, apalagi pake kartu kredit.. ngutang sepanjang taun!
21 Jan 2008, 8:44 pm
credit card…kayaknya saat ini saya belum butuh, tapi kalo bisa ga mending ga de, hutang soalnya
You can also read Riadi’s blog post: Kata - kata mutiara
21 Jan 2008, 11:05 pm
aku juga paling suka pake debit card
soalnya belum punya credit card
eh, tapi punya credit card (terutama yg populer) banyak untungnya juga
misalnya nonton di 21, beli 2 bayar satu
trus bisa upsize gratis kalo beli minuman di starbucks
hayoo tebak, kartu kredit apa??
You can also read Andre’s blog post: Met dua bulan
21 Jan 2008, 11:43 pm
Apa ini bisa masuk ke kategori jebakan mas????
You can also read adit-nya niez’s blog post: Si Mata dan si Hati
22 Jan 2008, 2:59 am
teteuph, debit card.. blom punya credit card sih.. tapi kalo ke pizza hut atau tempat-tempat yang nawarin diskon kalo pake credit card sih langsung sajah saya merayu bapak saya untuk meminjamkan credit card beliau.. hho..
You can also read azka,,’s blog post: when i’m gone
22 Jan 2008, 3:33 pm
@Azalea: Itu dia, kudu hati-hati bener kalau udah punya CC.
@Riadi: Yup, setuju
@Andre: Kalau bener ditraktir Starbucks ngga?
@Adit-nya Niez Istilahnya itu invisible income, um.. tipuan atau bukan tergantung gimana kita melihatnya ya. Yang penting jangan sampai diabuse. Ehm… ngomong2 udah ngga jomblo lagi ya Dit?
@Azka: Kalau mau ke pizza hut lagi kasih tau dong, jangan lupa ajak Bapak hehehehe
12 Feb 2008, 10:38 am
Saya punya 1 CC. Dipakai utk bayar langganan IM2 broadband (soale kalo mesti datang & ngantri ke counter Indosat, malas luar binasa). CC juga kadang dipake utk beli barang yang agak mahalan, tapi takut bawa uang cash banyak. Bisa juga sih pake kartu debit, tapi kadang kan saldonya kurang dikit
hehehe.. setelah gajian buru-buru dilunasi, jadi ngga kena bunga pinjaman.
Kebanyakan pembayaran pakai kartu (baik CC maupun debit), sama2 mengenakan charge 4% dari jumlah nominal transaksi.
Gw pengen apply CC gold, supaya bisa duduk santai di lounge VIP di bandara..heheheh..gak dipakai belanja, cuma buat dapetin fasilitas2 VIP ajah.
Gw sih cenderung takut melakukan transaksi pakai kartu (CC / debet), takut disalahgunakan ama tokonya. Bayar pakai cash tetep pilihan utama sih.