Kampanye Visit Indonesia 2008 sejak awal sudah menuai kontroversi. Mulai dari website yang menelan biaya milyaran rupiah sampai dengan tata bahasa Inggris yang salah pada slogan kampanye tersebut.

Memalukan memang, tapi yang lebih memalukan adalah sikap pemerintah yang sepertinya acuh-acuh saja. Walaupun sudah ada beberapa perbaikan, namun pemerintah bersikukuh untuk tetap mempertahankan iklan-iklan yang sudah terlanjur tersebar. Saya menduga ini terkait dengan terbatasnya dana.

Yang sudah terjadi memang tidak bisa diputar balik. Menyalahkan proses pembuatan kampanye menurut saya tidak lebih produktif dari kesalahan kampanye itu sendiri. Yang bisa dilakukan pemerintah sekarang adalah damage control. Pemerintah harus meminimalisir efek negative yang ditimbulkan dari kesalahan elementer tersebut.

Idealnya memang pemerintah mengganti seluruh iklan yang sudah tersebar dengan iklan yang sudah diperbaiki. Karena iklan-iklan ini akan tampil untuk waktu yang lama dan selama itu pula akan menunjukkan keteledoran pemerintah. Tapi menuntut pemerintah untuk melakukan itu rasanya sia-sia saja. Toh apabila pemerintah bersikukuh biasanya mereka akan pasang muka tembok.

Tidak berbeda dengan menteri pariwisatanya, Jero Wacik. Pak Wacik setahu saya hanya muncul sekali-sekali saja di media untuk mempromosikan kampanye ini. Sekalinya muncuk Pak Wacik juga lebih sering bicara marketing dibanding menjelaskan langkah-langkah yang diambil pihaknya untuk memperbaiki kesalahan yang memalukan tersebut. Pak Wajik mungkin saja pernah membahas tentang hal ini, tapi saya rasa belum optimum.

Bukti nyatanya adalah media influential seperti Liputan 6 masih saja menghadirkan isu ini dalam pemberitaan mereka. Hal ini setidaknya menunjukkan bahwa media belum melihat langkah-langkah pemerintah sebagai sesuatu yang positif. Padahal untuk kampanye sekelas ini media merupakan partner penting bagi pemerintah. Apabila media melihat kampanye ini lebih sebagai sebuah kesalahan, maka mereka akan memberitakan kampanye ini lebih pada nilai negatifnya. Bayangkan kerugian yang harus ditanggung kita semua lantaran pemerintah yang tidak tanggap.

Pemberitaan di Liputan 6 menurut saya sudah merupakan lampu kuning untuk pemerintah. Pemerintah harus segera merespon issue ini sebelum berkembang lebih jauh. Pemerintah masih punya waktu untuk memperbaiki, karena saat ini media dan masyarakat cenderung untuk lebih memfokuskan diri kepada kesehatan Suharto.

Namun apabila berita Suharto sudah meredup dan pemerintah tetap pada sikapnya sekarang ini, kampanye Visit Indonesia 2008 bisa-bisa menjadi kampanye dagelan.

Kampanye turisme adalah kampanye yang bersifat menjual image, dan ironisnya kampanye kita dimulai dengan memberikan image sebuah kecerobohan. Untuk itu saya mengharapkan pemerintah tidak terlalu berdalih soal terbatasnya budget (kalau memang benar adanya). Ini karena potensi kerugian yang dialami jauh lebih besar dibanding dengan jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk memperbaiki kesalahan ini.

Pemerintah harus menyadari bahwa kampanye ini tidak semata-mata akan berakhir di penguhujung tahun, tapi akan terus diingat oleh para turis yang sudah datang dan yang merencanakan untuk datang.

Apabila para wisatawan melihat kampanye ini juga sebagai kampanye dagelan, bukankah kita juga yang harus menanggung malu? Ayo dong Pak Wacik jangan cuma bisa cuap-cuap tentang hebatnya kampanye ini. Perhatikanlah juga keluhan-keluhannya.

Popularity: 34% [?]

Artikel Lainnya:

  1. Indonesian Ads on TV are Boring Kalau saya perhatikan, iklan-iklan di TV itu sudah membosankan. Terutama jenis iklan yang mengajukan pertanyaan. Contohnya, “Mau ini dan itu?...
  2. Apakah Wartawan Kita Sudah Lebih Cerdas? Tidak dipungkiri bahwa pertumbuhan dan perkembangan media di Indonesia sedikit banyak telah memberikan banyak alternatif bagi masyarakat dalam mendapatkan informasi....
  3. The English Side of Me After a careful consideration, I’ve decided to reinvent Pancaroba.com to become my English based blog. Why doing this? Well, I...



Comments

  1. 1
    ojatNo Gravatar
    10 Jan 2008, 8:53 pm

    Pemerintah selalu punya alasan ya. Hm, coba aja liat situs http://www.my-indonesia.info, biaya ratusan juta rupiah cuma buat situs yang ga diurus. :D

    You can also read ojat’s blog post: Upgrade Pidgin 2.2.1 ke 2.3.1 dari Source

  2. 2
    aditNo Gravatar
    10 Jan 2008, 9:00 pm

    @Ojat: bukannya milyaran ya? :-?

  3. 3
    PradityaNo Gravatar
    10 Jan 2008, 10:08 pm

    Wah, orang komunikasi mulai bicara… :D

    You can also read Praditya’s blog post: Sekedar Ocehan Saja…

  4. 4
    niezNo Gravatar
    11 Jan 2008, 12:49 am

    salam kenal…
    *ketauan dah klo fast reading… :D

    You can also read niez’s blog post: Sms Itu Datang

  5. 5
    aditNo Gravatar
    11 Jan 2008, 10:17 am

    niez » Fast reading itu apa ya *ngga ngerti* hehehehe :)

  6. 6
    eckyNo Gravatar
    14 Jan 2008, 4:31 pm

    Benernya ya dana untuk revisi materi advertising gak seberapa dibanding impactnya kita jadi dagelan oleh bangsa lain dan juga bangsa sendiri.

    Ok mereka udah produksi sekian ribu POS material, or udah apply logonya di semua pesawat Garuda, but negara should manage to get the money to revise it, ya mungkin daripada uangnya masuk kantong sendiri mendingan disisihkan untuk revisi kali ya :))

    Tapi untuk logonya udah direvisi kok gw liat, itu udah salah satu langkah yang tepat.

    check out my post about this http://cisayong-girl.blogspot.com/2007/12/indonesia-scurries-to-fix-blunder-in.html

    You can also read ecky’s blog post: Five Breakup Signs

  7. 7
    aditNo Gravatar
    14 Jan 2008, 6:15 pm

    @Ecky: Kalau lihat kasus kayak begini emang keliatan bahwa menteri itu cenderung jalan sendiri-sendiri aja. Udah gitu mereka juga seperti tidak punya visi. Visit Indonesia relatively goes unnoticed.

    The fixes that they do are a good thing, I hope they will continue to do so and improve on it so this campaign can benefit us all.

  8. 8
    dodotNo Gravatar
    26 Jan 2008, 8:36 am

    kesuksesan tidak akan dapat diraih tanpa memperhatikan hal sekecil apa pun:-\

    You can also read dodot’s blog post: Internet tanpa batas?

  9. 9
    Pena BudayaNo Gravatar
    2 Feb 2008, 3:15 am

    Yakin nih dana-nya gak di-korupsi? Sebenarnya iklan-nya udah ada belun sih? Lagian target-nya itu siapa sebenarnya?
    Gw termasuk rajin nonton CNN & National Geographic (Eropa) dan gak pernah ngeliat iklan pariwisata Visit Indonesia untuk tahun 2008 (mestinya kalu mau dikunjungin tahun 2008, ya mesti mulai dari Desember-Januari ini toh? orang Eropa biasanya yang rencanain liburan panjang sekitar awal tahun). Gw ngeliatnya malah iklan pariwisata Afrika Selatan, Malaysia, Kroasia, Bosnia, Turki. Temen-temen gw yg non Asia di sini malah pada mikirnya mau ke Malaysia tahun ini. Alasannya gak mampir ke Indonesia, takut kena banjir!

Leave a Comment

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

blank