Pelajaran dari Sebuah Kesederhanaan
Thu, 10 Jan 2008 | Myself | 187 views | Email This Post
Belum lama saya melihat acara berita di Lativi. Menjelang segmen akhir acara, ditampilkan kisah seorang penyanyi Sinten, penyanyi tradisional Jawa Timur. Di situ diceritakan si Ibu beserta suaminya harus menempuh waktu sekitar 2 jam naik angkutan umum menuju pekerjaannya. Yaitu melantunkan lagu-lagu tradisional dari satu rumah makan ke rumah makan lainnya.
Dengan segala kesederhanaannya, menurut saya si Ibu merupakan seorang seniman Jawa yang professional. Lantunan lagunya bagus dan permainan musiknya juga enak untuk didengar. Saya sendiri bukan orang Jawa Timur tapi saya bisa menikmati musik beliau. Si Ibu tampak anggun dengan kebayanya dan tegar untuk berjalan kaki di tengah-tengah hiruk pikuknya Jakarta.
Setiap kali menyanyi beliau harus dalam posisi jongkok, sehingga beliau terlihat lebih rendah dibanding dengan para pengunjung rumah makan yang duduk di atas kursi. Biarpun begitu, si Ibu tidak kendur semangatnya. Beliau bilang, “kalau gengsi sudah saya buang jauh-jauh. Karena kalau gengsi nanti malah repot, apalagi kalau tidak punya keahlian lain.”
Andaikan kita rela meluangkan sedikit waktu untuk berpikir dan menelaah hidup kita sendiri, saya yakin kita bisa mengambil pelajaran dari kisah-kisah hidup seperti ini.
Melihat kisah hidup si Ibu saya seperti tersadarkan bahwa saya adalah orang yang masih harus banyak belajar. Dengan segala keterbatasannya, si Ibu telah memberikan teladan tentang semangat hidup dan ketabahan dalam menjalani tantangan.
Saya mungkin bisa berbangga hati dengan apa yang saya miliki dan dengan apa yang saya bisa lakukan, namun saya ragu apakah saya bisa setegar dan setabah beliau. Saya malah tambah ragu apakah saya bisa setabah dan setegar mereka yang harus bisa bertahan hidup dari penghasilan yang kurang dari 20 ribu sehari. Benarlah kiranya ucapan yang bilang bahwa kita bisa pintar dengan melihat ke atas, namun kita bisa menjadi bijaksana dengan melihat ke bawah.
Memang hidup tiap orang akan berbeda-beda. Kita tidak bisa menyalahkan si ini dilahirkan sebagai orang kaya dan si itu dilahirkan sebagai orang kurang mampu. Apalagi sampai mengatasnamakan kemiskinan untuk mengambil keuntungan dari orang-orang yang lebih mampu, dan tentu juga sebaliknya. Tidaklah layak orang-orang yang lebih mampu menempuh berbagai cara untuk mengambil keuntungan dari orang-orang yang kurang mampu.
Apa yang ada pada diri kita sekarang ini, baik berupa kelebihan dan kekurangan, tentu sudah ada ketetapannya dari Ilahi. Sebagai manusia kita cuma bisa berusaha dan mengolah pemberian-Nya. Mudah-mudahan apa yang kita telah lakukan juga bisa memberikan manfaat untuk orang lain.
Si Ibu penyanyi Sinten telah diberikan keahlian untuk menjadi seorang seniman dan beliau menggunakan sebaik-baiknya keahlian tersebut sebagai sumber penghidupan. Dengan kegigihannya beliau tidak hanya bisa bertahan hidup, tapi juga memberikan manfaat bagi orang lain melalui lantunan-lantunannya yang menghibur. Namun keutaman yang mungkin kita bisa petik adalah semangat pantang menyerah dan ketabahan beliau dalam menjalani berbagai tantangan hidup.
Popularity: 19% [?]
Artikel Lainnya:
- Jangan Jadikan Perceraian Sebuah Pilihan Belakangan ini saya sering mendengar kisah tentang orang-orang yang tumbuh di lingkungan keluarga yang orang tuanya bercerai. Kisahnya pun beragam,...
- Rasa Sayangi Kemarin saya bertemu dengan sahabat dekat. Selepas petang kami menonton BandungTV dan di sana ditayangkan kisah seorang tukang becak yang...





10 Jan 2008, 2:47 pm
pantang menyerah, maju terus, badai pasti berlalu *lho?*
You can also read ojat’s blog post: Upgrade Pidgin 2.2.1 ke 2.3.1 dari Source
10 Jan 2008, 5:41 pm
@Ojat: yoi, tapi jangan bilang sengsara membawa nikmat, itu mah pesimis banget…