Bemper Hidup

Thu, 3 Jan 2008 | Stuff | 241 views | Email This Post

Saya sering merasa takjub dengan orang-orang yang berkendara di negeri ini. Entah karena kagum atau karena terheran-heran dengan tingkah mereka. Namun yang jelas saya suka geleng-geleng kepala kalau melihat para pengemudi kendaraan yang begitu menganggap enteng keselamatan berkendara. Tidak pakai helm, membawa beban berlebih, saling serobot, dan menempatkan anak-anak di bagian depan.

Dari semua itu yang menurut saya paling parah adalah menempatkan anak-akan di bagian depan, baik itu di motor atau pun di mobil. Walau mungkin tidak akan terjadi apa-apa, namun resiko kecelakaan terhadap anak-anak tersebut tidaklah sebanding dengan kenyamanan/kesenangan yang didapat.

Menaruh anak-anak di posisi depan secara langsung akan menjadikan mereka bemper hidup. Kalau di motor anak beresiko tinggi terpelanting atau terbentur stang kemudi. Sedangkan di mobil anak-anak seperti airbag hidup yang beresiko membentur dashboard dan kaca depan. Ngeri kalau membayangkan seperti itu.

“Ah, kalau begitu jangan membayangkan seperti itu, lagi pula kalau hati-hati kan ngga akan apa-apa?” Tidak juga. Menurut saya membolehkan hal seperti itu dengan alasan asal hati-hati adalah anggapan yang sembrono.

Selain itu saya juga suka melihat anak-anak usia 10-12 tahun yang mengendarai sepeda motor dengan cepat. Mereka biasanya naik beramai-ramai dan tidak jarang mereka terlihat bersusah payah untuk berpijak lantaran kaki mereka kurang panjang.

Saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan, tapi dari sekian kasus yang saya temui, anak-anak kecil yang mengendarai sepeda motor sepertinya datang dari keluarga yang berlatar belakang ekonomi lebih lemah dan kurang memahami tentang pentingnya keselamatan berkendara.

Saya sendiri masih suka bertanya kenapa mereka membiarkan anak-anak mereka dalam posisi bahaya seperti itu. Apakah karena rasa sayang atau ada rasa bangga? Ataukah mereka belum menyadari bahwa tindakan seperti itu beresiko terhadap keselamatan sang anak dan orang lain?

Entahlah, sejauh ini saya cuma bisa melihat dan berharap tidak akan terjadi apa-apa terhadap anak-anak tersebut. Baik yang ditaruh di depan maupun yang diperbolehkan mengendarai sepeda motor.

Namun menurut pendapat saya, tidak sepantasnya kita menanggap remeh keselamatan, apalagi bila menyangkut keselamatan anak-anak. Anak-anak akan tetap mencari kesenangan tanpa memikirkan konsekuensi perbuatannya.  Sebagai orang yang sudah bisa berpikir lebih baik dari anak-anak, tidak selayaknya kita bersikap lugu dan membahayakan hidup seorang anak hanya untuk sebuah kesenangan/kenyamanan. Janganlah rasa sayang kita terhadap anak mengalahkan keutaman untuk menjaga keselamatan dalam berkendara.

Popularity: 8% [?]

Artikel Lainnya:

  1. Hentikan Knalpot Bising! Saya bisa mengerti kalau sepeda motor sudah menjadi kebutuhan sehari-hari dari kebanyakan masyarakat Indonesia. Saya sendiri menggunakan sepeda motor karena...
  2. Curhat dan Makna Hidup Banyak yang bilang, hidup itu indah. Termasuk saya. Terlepas dari segala tantangan dan kesulitan yang kita hadapi, diberi hidup tetaplah...
  3. Hidup Santai, Hidupnya Indonesia Hari ini saya membaca berita di detik.com yang melaporkan bahwa pemerintah akan mengkaji kembali kebijaksanaan cuti bersama di tahun ini....
  4. Enak Hidup Di Negeri Pemaaf Enak hidup di negeri pemaaf Jadi wakil rakyat bisa korupsi semena-mena Enak hidup di negeri pemaaf Jadi penguasa bisa kibuli...
  5. Wajah Bule, Hidup Memble? Banyak yang beranggapan kalau punya figur bule atau seperti bule (indo) itu lebih baik.  Apalagi figur-figur populer seperti para selebriti...



Comments

  1. 1
    dodotNo Gravatar
    4 Jan 2008, 1:29 am

    pertamax:”>

    terkadang ada yang memikirkan :
    “gaul kagak gua sech boss?:-?” (digauli baru tau:d)

    tetapi sebelum mereka mendapatkan ganjaran ya gitu dech:d/

    You can also read dodot’s blog post: Jadi juga akhirnya “gudang” barang bekas

  2. 2
    dodotNo Gravatar
    4 Jan 2008, 1:33 am

    wah care banget nech ama keselamatan di tuyul (gua manggil anak kecil dengan sebutan “tuyul”)

    tuyul die atu jadi seribu sekarang Dit, beda ama duloe, sekarang banyak yang hobbi kawi… jadi tuyul banyak n ditambah dengan bemper tembal kagak masalah:)>-

    You can also read dodot’s blog post: Jadi juga akhirnya “gudang” barang bekas

  3. 3
    aditNo Gravatar
    4 Jan 2008, 8:04 am

    @Dodot: Lah Dot, ini kan masalah nyawa, ngga bisa segampang itu analoginya /:)

  4. 4
    Andie SummerkissNo Gravatar
    4 Jan 2008, 10:50 am

    We always like to say that these people are definitely made from steel. My staff get into motorcycle accidents maybe a couple of times a month. But it never fails to make me squinch everytime I hear the stories.

    They like to speed. They never put on helmets, even when they put them on, they wont latch them properly. They overload the bikes, they would never ever hesitate to go across the traffic, go two ways on one way street. They like to take off the rearview mirror, as if they are sure they will grow one more sets of eyes at the back of the head.

    Need I say more?

    You can also read Andie Summerkiss’s blog post: Nasty Politicians Here and There

  5. 5
    toniNo Gravatar
    4 Jan 2008, 4:56 pm

    waaah saya setuju dengan mas adit,,,safety riding di negara kita saya anggap masih NOL,,,,meskipun ada juga yg nggak…..

    Polisinya kemana nih?:D

    You can also read toni’s blog post: Asap rokok itu

  6. 6
    aditNo Gravatar
    4 Jan 2008, 9:04 pm

    @Andie: My sister lives in Medan, and she said that traffic in Medan is far worse than Jakarta? Is it really?

    @Toni: wong polisinya juga suka ngga safety riding kok :D

  7. 7
    andiesummerkissNo Gravatar
    4 Jan 2008, 10:50 pm

    Yup. The traffic itself is not heavy, but the users of the road know no rules. Motorcycles are cheap and everybody seems to be able to afford them. Public transport are so bad and unreliable.

    But there’s nothing a gang of steel-made men can’t fix, right. :D

    You can also read andiesummerkiss’s blog post: Blog Surfing

  8. 8
    DyNo Gravatar
    5 Jan 2008, 11:57 am

    intinya karena masih kurangnya kesadaran dari ortunya tentang keselamatan..jangankan anak kecil yang memang belum diberitahu, orang dewasa yang sudah jelas2 tahu saja, kesadaran untuk memakai helm yang bertutup semua atau memakai sabuk pengaman aja masih dikatakan minim. Hanya mau memakai jika ada razia saja. (menurut pengamatanku saja)

    You can also read Dy’s blog post: Tadaima!!!!

  9. 9
    dodotNo Gravatar
    5 Jan 2008, 11:58 am

    kalau dilihat2 banyak juga anak-anak dari kelas kuat yang berkelakuan sama dengan ekonomu kelas lemah.

    selama tidak menimulkan efek jera bagi si pengguna maka tidak akan ada kepatuhan bagi dirinya :)>-

  10. 10
    toniNo Gravatar
    5 Jan 2008, 2:47 pm

    waah polisinya ga safety riding [-(

    You can also read toni’s blog post: Asap rokok itu

  11. 11
    naninunenonNo Gravatar
    6 Jan 2008, 1:25 am

    dittttt… karena blum ngerti jd saya liat2 dulu blog anda…. Ngomong2 dulu waktu kecil juga pernah ngerasain idung berdarah karena duduk di kursi depan ga pake seatbelt trus bokap ngerem mendadak… jadilah muka gw nempel di dashboard… bedarah dehh….hehehe…:(

  12. 12
    aditNo Gravatar
    6 Jan 2008, 10:48 am

    @Andie: jungle rules again huh? :))

    @Dy: Setuju, bahkan sering ditemui safety dan helmet itu dianggap sebagai pengganggu kenyamanan aja :(

    @Dodot: Efek jera yang efektif kayak gimana ya? soalnya kemungkinan besar yang mengalami kecelakaan karena mengabaikan faktor keselamatan sudah keburu, ehm, dead :D

    @Toni: yoi! Suka liat juga kan?

    @Nanin: weh, sekarang sih pake seatbelt selalu kan?

  13. 13
    aditNo Gravatar
    11 Jan 2008, 2:17 pm

    test

Leave a Comment

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

blank