Menghadapi Wartawan ‘Bodrex’
Sun, 23 Dec 2007 | Public Relations | 421 views | Email This Post
Perkembangan media di Indonesia begitu cepat dan tidak heran kalau kita suka menemui nama-nama media baru yang belum terdengar sebelumnya. Perkembangan ini juga membuka kesempatan baru bagi mereka yang mau menekuni pekerjaan sebagai wartawan. Saya saja kalau melihat berita di TV sering menemukan ‘muka-muka’ baru.
Nah, masalahnya sekarang suka ada saja orang yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan. Berpura-pura menjadi wartawan untuk mendapatkan sedikit keuntungan.
Di dunia public relations di Indonesia (juga di dunia jurnalistik) orang-orang semacam ini dilabeli wartawan ‘bodrex’. Saya sendiri kurang jelas kenapa dinamai bodrex. Padahal ini kan nama obat ya? Anyway, wartawan-waratan ‘bodrex’ ini lah yang suka mencoreng nama baik dunia jurnalistik Indonesia.
Sayangnya kita tidak bisa semerta-merta menanyai mereka, “wartawan palsu ya?!” Terlebih lagi apabila mereka membawa ‘kartu pers’. Menurut Dewan Pers sendiri untuk mendapatkan kartu pers relatif mudah dan murah. Maka tidak heran apabila wartawan ‘bodrex’ pun lebih tersaru.
Hal yang tidak dimengerti wartawan ‘bodrex’ tentang kartu pers adalah tanggung jawab yang ada di dalamnya. Dengan membawa kartu pers, seorang wartawan terikat dengan kodek etik jurnalistik dan apabila melanggar dapat dikenai sanksi.
Tapi wartawan ‘bodrex’ kan bukan untuk cari berita? Betul. Wartawan ‘bodrex’ tujuan utamanya adalah mencari ’sampingan’. Biasanya ‘amplop’ atau goodie bags.
Lalu untuk mengetahui seorang wartawan itu wartawan bodrex bagaimana? Sebenarnya tidak terlalu sulit. Cukup dengan mengamati tingkah laku mereka, kita sudah bisa mengetahui keabsahan wartawan tersebut.
Untuk melatih mata kita menemukan wartawan bodrex, maka yang perlu kita lakukan adalah mengamati tingkah laku wartawan-wartawan yang sebenarnya. Dari pengalaman saya, wartawan tulen itu biasanya terlihat ‘ribet’ dengan bawaan mereka.
Mulai dari kartu pers yang jumlahnya bisa lebih dari satu, tas punggung, kamera, dan buku catatan. Tak jarang mereka terlihat sedikit lusuh karena seharian berada di lapangan. Untuk hal ini saya salut dengan mereka. Dedikasi yang tinggi benar-benar tercermin dari usaha mereka mencari berita.
Wartawan menurut saya adalah jenis manusia yang punya kepercayaan diri tinggi dan ini tercermin dari gaya bahasa mereka. Nada bicaranya lugas tapi tidak terkesan sombong. Malah banyak dari mereka bersikap ramah. Kalau ditanya dari media mana, mereka biasanya langsung tanggap menjawab.
Selain itu wartawan biasanya mempunyai rasa solidaritas yang tinggi dan mengenal baik antara satu wartawan dengan wartawan lainnya. Apabila sedang menunggu berita mereka biasanya bergerombol dan berinteraksi.
Nah dari kita mengamati tingkah laku wartawan dan dengan berinteraksi dengan mereka, lama kelamaan kita bisa merasakan ‘warna-warni’ nya wartawan asli.
Sedangkan untuk wartawan bodrex dari penampilan luarnya kita sudah bisa membaca. Biasanya mereka tidak ‘ribet’ macam wartawan tulen dan juga terlihat celingak-celinguk karena tidak ada teman. Selain itu mereka biasanya berdiri dekat-dekat meja ‘hadiah’. Matanya pun sering melihat-lihat apa kira-kira ‘hadiah’ yang bisa dia dapatkan.
Lalu bagaimana cara menghadapi mereka? Tidak terlalu sulit sebenarnya. Mereka juga tahu kalau mereka cuma pura-pura saja dan kalau kita bersikap tegas mereka tidak akan macam-macam. Tegas di sin bukan berarti bersikap galak. Tapi dengan baik-baik menolak mereka.
Cara yang paling efektif ‘menangkal’ wartawan bodrex adalah dengan tindakan preventive. Yaitu dengan membuat daftar media yang diundang dan mengkonfirmasi siapa saja yang akan diutus. Memang ini terlihat repot dan mungkin lebih mahal, namun ini lebih baik daripada acara kita hanya dipenuhi oleh wartawan-wartawan bodrex. Sudah bersusah payah tapi liputan medianya cuma sedikit.
Di samping itu ada baiknya menyiapkan meja registrasi untuk media. Sehingga wartawan bisa mengkonfirmasi undangan kita. Selain untuk data, meja registrasi juga bisa digunakan untuk menolak wartawan bodrex.
Kalau ada wartawan bodrex yang datang mendaftar, tanya saja dia datang mewakili media mana. Lalu kita pura-pura mengecek daftar kita. Apabila tidak terdaftar (memang tidak akan ada) kita bisa bilang “maaf goodie bag ini hanya untuk media yang terdaftar.” Biasanya sih mereka tidak akan berbuat macam-macam lagi.
Cara-cara di atas memang tidak selamanya efektif. Tergantung situasi yang kita hadapi. Ada kalanya wartawan ‘bodrex’ begitu lihai menyamar, kita bisa terkecoh. Kalau sudah begini memang mau tidak mau kita harus ‘merelakan’.
Lalu bagaimana dengan wartawan yang mengharapkan ‘amplop’? Menurut saya semua wartawan yang minta ‘amplop’ adalah wartawan ‘bodrex’, walaupun dia bekerja di media yang benar-benar ada. Oleh karenanya wartawan-wartawan yang punya mental seperti ini selayaknya diperlakukan sebagai wartawan ‘bodrex’ pula.
Apabila ada wartawan yang mengisyaratkan ‘ancaman’, kita tidak perlu takut. Kita sebagai masyarakat dilindungi oleh undang-undang pers dan kita bisa mengadukan ke kepolisian atau bahkan melaporkan wartawan tersebut ke media lainnya (biasanya melalui surat pembaca).
Wartawan bertanggung jawab atas berita yang ditulisnya. Apabila dia berbohong maka dia sendiri yang akan dideskreditkan (dihukum) oleh dunia pekerjaannya. Kita sebagai masyarakat harus bisa bekerjasama dengan wartawan dan sebaiknya juga membantu mereka untuk menjunjung tinggi kode etik jurnalistik yang dibebannya.
Popularity: 30% [?]
Artikel Lainnya:
- Apakah Wartawan Kita Sudah Lebih Cerdas? Tidak dipungkiri bahwa pertumbuhan dan perkembangan media di Indonesia sedikit banyak telah memberikan banyak alternatif bagi masyarakat dalam mendapatkan informasi....
- Wartawan Rawan Terkena Penyakit Syaraf Ada berita kurang bagus bagi rekan-rekan wartawan Yogyakarta (ANTARA News) - Profesi wartawan yang selalu bekerja dan menjalani kehidupan di...
- Menghadapi Cowok Jomblo di Internet Saya pernah menulis tentang tips mendapatkan pacar di Friendster. Tapi itu untuk cowok. Sekarang saya mau menulis untuk ceweknya. Dari...
- Tips Menghadapi Lelaki Beristeri di Internet Situs-situs jejaring sosial yang makin bertebaran belakangan ini menuntut kita untuk lebih berhati-hati, dan hal ini khususnya berlaku untuk kaum...





24 Dec 2007, 10:36 am
Emang kudu hati2, kalo wartawan yg bohongan bisa-bisa memeras kita dengan alasan jika tidak bayar, maka rahasia kita akan di publish di publik. tapi media2 juga sudah memberikan info kepada masyarakat agar hati2 dengan wartawan sejenis ini!
You can also read ridu’s blog post: Pertanyaan Diskriminatif
24 Dec 2007, 11:07 am
@ridu: betul, selain itu kita juga jangan takut untuk melaporkan, karena media sendiri tidak ingin namanya ikut jelek gara-gara wartawan model begini.
24 Dec 2007, 11:14 am
We are one of the lucky ones to encounter quite a number of ‘bodrex’ reporters ourselves. Apparently they only hit when the business is swarming with customers. So the easiest way out is to give them the damn envelopes. No explanation whatsover required.
Just last month a couple came to the back of the shop and took pictures of our generator. They said that they are going to report us for having generator without paying any taxes. A year back, a group of 4 came with the ‘b2′ issues that our products are not ‘h’. That’s really serious accusation. So in order to avoid the unnecessary attention, we gave up some envelopes as well and tell them to get the f— away.
We just don’t have the time and energy to deal with them, we do honest day work and are very busy. I know we shouldn’t have done that. More will come in the future. Well, one day we will develop some kind of measurement to deal with that issue. For the mean time, I just pray that this busy season will go smoothly.
You can also read andie summerkiss’s blog post: Christmas Hoopla
24 Dec 2007, 11:28 am
@andie:
Oh no, I didn’t know you actually experienced it first hand
… Whatever measurements you’d like to take, I hope it’ll work to keep those people away.
On another note, it’s very nice to hear your business is doing well
24 Dec 2007, 8:56 pm
wartawan suka minum bodrex ya?
wartawan “bodrex” memang demikian, tetapi mungkin ada maksud terselubung dari semua tindakan mereka. Seperti apa yach nantinya jurnalisme indonesia? Apa kayak tulisan blogger atau memang blogger nantinya…
You can also read dodot’s blog post: Profesor Brazil tersebut sudah ditangkap, namun warga masih was-was dan percaya
24 Dec 2007, 9:39 pm
@dodot:
untungnya sih sekarang ada upaya nyata dari dunia pers untuk menjadi lebih professional. Mudah-mudahan aja bisa terus diterapkan. Soalnya wartawan bodrex ini cuma mencoreng nama baik jurnalisme di Indonesia.
17 Sep 2008, 9:54 am
betul sekali apalagi kali kalau mendekati lebaran pasti wartawan bodrex banyak sekali dengan badan yang kekar dan kelihatan seram bbppi dkp