Belakangan ini saya sering mendengar kisah tentang orang-orang yang tumbuh di lingkungan keluarga yang orang tuanya bercerai. Kisahnya pun beragam, ada yang dari keluarga biasa saja dan ada pula dari keluarga yang mampu.

Terlepas dari itu semua, mereka mempunyai beberapa kemiripan. Hal umum yang saya suka temui adalah adanya tanda-tanda kegalauan di dalam jiwa mereka. Kegalauan ini bisa berbentuk sikap seperti tidak percaya diri, cepat marah, tidak ada inisiatif, cuek dengan keadaan dan lainnya.

Siapapun orangnya, perceraian merupakan sebuah perpisahan yang sangat mengecewakan. Tidak hanya bagi pelakunya namun juga bagi mereka yang terkena imbasnya. Saya tidak mempunyai keahlian untuk melakukan analisa kejiwaan, namun saya bisa ikut merasakan betapa pahitnya sebuah perceraian dan betapa besar pengaruh perceraian terhadap kejiwaan seseorang.

Terus terang saya terenyuh apabila mendengar kisah anak-anak yang orang-tuanya bercerai. Mereka seperti kehilangan pegangan, bahkan tidak jarang menyalahkan diri mereka sendiri atas perceraian orang tuanya.

Menurut saya, cinta dan kasih sayang orang tua bagi seorang anak haruslah didapatkan dari ayah dan ibunya, dan dalam satu keutuhan rumah tangga. Keutuhan ini merupakan fondasi bagi sang anak untuk mendapatkan kedamaian hati dan rasa aman, sehingga dia bisa tumbuh dengan normal.

Ketika orang tua memutuskan untuk bercerai maka fondasi ini akan ikut terguncang dan membawa sang anak ke dalam kebingungan. Rasa damai dan aman yang selama ini didapatkannya tiba-tiba menjadi saru bahkan sirna. Selain itu, perceraian pun akan “memaksa” anak untuk mengerti sebuah kenyataan pahit yang mungkin terlalu dini bagi usianya.

Saya selalu bertanya dalam hati, apakah yang dipikirkan sang anak ketika orang tuanya bercerai. Walaupun mereka terlihat mengerti, namun atas dasar apakah mereka mengerti?

Contoh saja apabila ada seorang anak yang orang tuanya bercerai lalu bilang “Udah, mama ngga usah sedih, kan masih ada aku, kita jalan-jalan aja yuk biar mama seneng?!” Bagi kita yang sudah dewasa tentunya melihat prilaku anak seperti itu akan merasa kagum, dan berkesimpulan sang anak cukup dewasa untuk menerima kenyataan.

Tapi benarkah demikian? Mungkinkah sang anak berucap seperti itu hanya karena tidak ingin melihat mamanya sedih, padahal dirinya sendiri tidak tahu kenapa mamanya sedih? Kalaupun dia tahu, apakah dia sudah bisa mengerti apa perceraian itu sebenarnya? Ah, andai saja saya bisa tahu apa yang ada di pikiran mereka.

Efek perceraian tidak hanya berimbas buruk pada anak-anak yang masih kecil. Bahkan anak-anak yang sudah berkeluarga sekalipun akan sulit menerima kenyataan kalau orang tuanya memutuskan untuk bercerai. “Apa-apaan sih? Udah hidup berdua sekian puluh tahun juga, sekarang malah mau cerai? Udah kakek nenek kok bukannya nyadar?” Mungkin ini ucapan yang akan disampaikan sang anak ketika mengetahui orang tuanya akan bercerai.

Tapi ini bisa dimengerti. Karena anak tetaplah anak, tidak perduli berapa pun umur mereka. Anak akan tetap berpijak pada sebuah fondasi yang dibentuk dari keutuhan pernikahan orang tuanya. Berapa pun umur mereka, fondasi ini akan tetap menjadi salah satu sumber kedamaian hati dan rasa aman.

Tulisan ini sebenarnya pesan saya kepada diri sendiri kalau menikah nanti.

Adit, apapun yang terjadi di pernikahanmu nanti, hindarilah perceraian. Semua kesulitan pasti ada jalan keluarnya. Namun, usahakanlah untuk tidak menjadikan perceraian sebagai sebuah pilihan dalam mengatasi tantangan berumah tangga.

Popularity: 25% [?]

Artikel Lainnya:

  1. Pelajaran dari Sebuah Kesederhanaan Belum lama saya melihat acara berita di Lativi. Menjelang segmen akhir acara, ditampilkan kisah seorang penyanyi Sinten, penyanyi tradisional Jawa...
  2. Jangan Takut Bicara Pensiun Setiap orang pasti akan pensiun, dan berapapun usia Anda sekarang ini, pensiun adalah momen yang akan Anda hadapi. Pensiun berarti...
  3. Poligami, Pilihan Menarik? Poligami di Indonesia selalu menjadi topik yang hangat untuk dibicarakan. Berdasarkan pengamatan saya biasanya wanita adalah kaum yang paling keras...
  4. Kutunggu Jandamu Sejauh yang saya tahu, wanita yang menyandang gelar janda suka serba salah. Kalau seorang wanita menjadi janda di usia...
  5. Poligami: Pilihan Menarik? Semalam saya chatting dengan seorang teman baik. Kita ngobrol ke sana ke mari sampai akhirnya tiba pada topik poligami. Berdasarkan...



Comments

  1. 1
    andie summerkissNo Gravatar
    18 Dec 2007, 3:03 pm

    But what if the marriage itself is so bad, that it depresses the children? That’s not good too, is it. There’s really no right answer.

    People who get divorced are expecting a chance of turning new leaf. But often they become so messed up anyway because of the bad relationship and the bad divorce.

    I also think divorce is the last way out. But sometimes it’s the only way out. Good luck on us! May love AND common sense prevail … :)

    You can also read andie summerkiss’s blog post: bargaining idiot

  2. 2
    aditNo Gravatar
    18 Dec 2007, 7:30 pm

    @Andie:

    I guess if the circumstance is very substantial, divorce can indeed be used as a solution, but I do hope only as a last resort :)

Leave a Comment

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

blank