Rokok vs Ekonomi: Mitos dan Fakta
Fri, 14 Dec 2007 | Stuff | 1,197 views | Email This Post
Sebagai seorang yang bukan perokok dan tahu bahaya rokok, saya merasa punya kewajiban sosial untuk mengingatkan dan berbagi ilmu tentang bahaya rokok.
Nah, pagi ini saya melihat acara the Breakfast Club di MetroTV, dan topik yang disampaikan adalah tentang Tobacco Control. Uih, menarik sekali. Tak lama kemudian saya pun mencari informasinya.
Dari situs South East Asia Tobacco Control Alliance saya mendapatkan informasi tentang mitos dan fakta rokok terhadap ekonomi. Berikut pemaparannya.
Mitos:
Industri rokok memberikan kontribusi pemasukan negara dengan jumlah besar.
Fakta:
- Negara membayar biaya lebih besar untuk rokok dibanding dengan pemasukan yang diterimanya dari industri rokok. Penelitian dari World Bank telah membuktikan bahwa rokok merupakan kerugian mutlak bagi hampir seluruh negara. Pemasukan yang diterima negara dari industri rokok (pajak dan sebagainya) mungkin saja berjumlah besar, tapi kerugian langsung dan tidak langsung yang disebabkan konsumsi rokok jauh lebih besar.
- Biaya tinggi harus dikeluarkan untuk membayar biaya penyembuhan penyakit yang disebabkan oleh rokok, absen dari bekerja, hilangnya produktifitas dan pemasukan, kematian prematur, dan juga membuat orang menjadi miskin lebih lama karena mereka menghabiskan uangnya untuk membeli rokok.
- Biaya besar lainnya yang tidak mudah untuk dijabarkan termasuk berkurangnya kualitas hidup para perokok dan mereka yang menjadi perokok pasif. Selain itu penderitaan juga bagi mereka yang harus kehilangan orang yang dicintainya karena merokok. Semua ini merupakan biaya tinggi yang harus ditanggung.
Mitos:
Mengurangi konsumsi rokok merupakan isu yang hanya bisa diatasi oleh negara-negara kaya.
Fakta:
Sekarang ini kurang lebih 80% perokok hidup di negara berkembang dan angka ini sudah tumbuh pesat dalam beberapa dekade saja. Diperkirakan pada tahun 2020, 70% dari seluruh kematian yang disebabkan rokok akan terjadi di negara-negara berkembang, naik dari tingkatan sekarang ini yaitu 50%. Ini berarti dalam beberapa dekade yang akan datang negara-negara berkembang akan berhadapan dengan biaya yang semakin tinggi untuk membiayai perawatan kesehatan para perokok dan hilangnya produktifitas.
Mitos:
Pengaturan yang lebih ketat terhadap industri rokok akan berakibat hilangnya pekerjaan di tingkat petani tembakau dan pabrik rokok.
Fakta:
- Prediksi mengindikasikan dengan jelas bahwa konsumsi rokok global akan meningkat dalam tiga dekade ke depan, walau dengan penerapan pengaturan tembakau di seluruh dunia. Memang dengan berkurangnya konsumsi rokok, maka suatu saat akan mengakibatkan berkurangnya pekerjaan di tingkat petani tembakau. Tapi ini terjadi dalam hitungan dekade, bukan semalam. Oleh karenanya pemerintah akan mempunyai banyak kesempatan untuk merencanakan peralihan yang berkesinambungan dan teratur.
- Para ekonom independent yang sudah mempelajari klaim industri rokok, berkesimpulan bahwa industri rokok sangat membesar-besarkan potensi kehilangan pekerjaan dari pengaturan rokok yang lebih ketat. Di banyak negara produksi rokok hanyalah bagian kecil dari ekonomi mereka. Penelitian yang dilakukan oleh World Bank mendemonstrasikan bahwa pada umumnya negara tidak akan mendapatkan pengangguran baru bila konsumsi rokok dikurangi. Beberapa negara malah akan memperoleh keuntungan baru karena konsumen rokok akan mengalokasikan uangnya untuk membeli barang dan jasa lainnya. Hal ini tentunya akan membuka kesempatan untuk terciptanya lapangan kerja baru.
Mitos:
Pemerintah akan kehilangan pendapatan jika mereka menaikan pajak terhadap industri rokok karena makin sedikit orang yang akan membeli rokok.
Fakta:
Bukti sudah jelas: perhitungan menunjukkan bahwa pajak yang tinggi memang akan menurunkan konsumsi rokok tetapi tidak mengurangi pendapatan pemerintah, malah sebaliknya. Ini bisa terjadi karena jumlah turunnya konsumen rokok tidak sebanding dengan besaran kenaikan pajak. Konsumen yang sudah kecanduan rokok biasanya akan lambat menanggapi kenaikan harga (akan tetap membeli). Lebih jauh, jumlah uang yang disimpan oleh mereka yang berhenti merokok akan digunakan untuk membeli barang-barang lain (pemerintah akan tetap menerima pemasukan). Pengalaman mengatakan bahwa menaikan pajak rokok, betapapun tingginya, tidak pernah menyebabkan berkurangnya pendapatan pemerintah.
Mitos:
Pajak rokok yang tinggi akan menyebabkan penyelundupan.
Fakta:
- Industri rokok sering beragumentasi bahwa pajak yang tinggi akan mendorong penyelundupan rokok dari negara dengan pajak rokok yang lebih rendah, yang ujungnya akan membuat konsumsi rokok lebih tinggi dan mengurangi pendapatan pemerintah.
- Walaupun penyelundupan merupakan hal yang serius, laporan Bank Dunia tahun 1999 Curbing the Epidemic tetap menyimpulkan bahwa pajak rokok yang tinggi akan menekan konsumsi rokok serta menaikan pendapatan pemerintah. Langkah yang tepat bagi pemerintah adalah memerangi kejahatan dan bukannya mengorbankan kenaikan pajak pada rokok.
- Selain itu ada klaim-klaim yang mengatakan bahwa industri rokok juga terlibat dalam penyelundupan rokok. Klaim seperti ini patut disikapi dengan serius.
Mitos:
Kecanduan rokok sudah sedemikian tinggi, menaikan pajak rokok tidak akan mengurangi permintaan rokok. Oleh karenanya menaikan pajak rokok tidak perlu.
Fakta:
- Menaikan pajak rokok akan mengurangi jumlah perokok dan mengurangi kematian yang disebabkan oleh rokok. Kenaikan harga rokok akan membuat sejumlah perokok untuk berhenti dan mencegah lainnya untuk menjadi perokok atau mencegah lainnya menjadi perokok tetap. Kenaikan pajak rokok juga akan mengurangi jumlah orang yang kembali merokok dan mengurangi konsumsi rokok pada orang-orang yang masih merokok. Anak-anak dan remaja merupakan kelompok yang sensitif terhadap kenaikan harga rokok oleh karenanya mereka akan mengurangi pembelian rokok bila pajak rokok dinaikan.
- Selain itu orang-orang dengan pendapat rendah juga lebih sensitif terhadap kenaikan harga, oleh karenanya kenaikan pajak rokok akan berpengaruh besar terhadap pembelian rokok di negara-negara berkembang.
- Model yang dikembangkan oleh Bank Dunia dalam laporannya Curbing the Epidemic menunjukan kenaikan kenaikan harga rokok sebanyak 10% karena naiknya pajak rokok, akan membuat 40 juta orang yang hidup di tahun 1995 untuk berhenti merokok dan mencegah sedikitnya 10 juta kematian akibat rokok.
Mitos:
Pemerintah tidak perlu menaikan pajak rokok karena akan kenaikan tersebut akan merugikan konsumer berpendapatan rendah.
Fakta:
- Perusahaan rokok beragumen bahwa harga rokok tidak seharusnya dinaikan karena bila begitu akan merugikan konsumen berpendapatan rendah. Tetapi, penelitian menunjukkan bahwa masyarakat berpendapatan rendah merupakan korban rokok yang paling dirugikan. Karena rokok akan memperberat beban kehidupan, meningkatkan kematian, menaikan biaya perawatan kesehatan yang harus mereka tanggung dan gaji yang terbuang untuk membeli rokok.
- Masyarakat berpendapatan rendah paling bisa diuntungkan oleh harga rokok yang mahal karena akan membuat mereka lebih mudah berhenti merokok, mengurangi, atau menghindari kecanduan rokok karena makin terbatasnya kemampuan mereka untuk membeli. Keuntungan lain dari pajak rokok yang tinggi adalah bisa digunakan untuk program-program kesejahteraan masyarakat miskin.
Mitos:
Perokok menanggung sendiri beban biaya dari merokok.
Fakta:
Perokok membenani yang bukan perokok. Bukti-bukti biaya yang harus ditanggung bukan perokok seperti biaya kesehatan, gangguan, dan iritasi yang didapatkan dari asap rokok.
Ulasan di negara-negara kaya mengungkapkan bahwa perokok membebani asuransi kesehatan lebih besar daripada mereka yang tidak merokok (walaupun usia perokok biasanya lebih pendek). Apabila asuransi kesehatan dibayar oleh rakyat (seperti jamsostek) maka para perokok tentunya ikut membebankan biaya akibat merokok kepada orang lain juga.
So, siapa bilang merokok itu ngga bikin susah orang lain?
Sumber: http://www.seatca.org/upload_resource/202.doc
Popularity: 39% [?]
Artikel Lainnya:
- Hipertensi Bayi Karena Rokok Terus terang saja, saya ini bukan penggemar para perokok dan apabila memungkinkan saya akan menyarankan orang-orang yang merokok untuk segera...
- Karena Ustadz pun Merokok Sebagai negara yang berpenduduk Muslim, para Ustadz mempunyai peranan besar dalam pendidikan ketauladanan. Baik itu dalah ilmu-ilmu Fiqh, Syariah, maupun...
- Generasi Ngebul Hari ini saya membaca artikel di Kompas Remaja, sasaran empuk industri rokok Karakteristik remaja yang erat dengan keinginan adanya kebebasan,...
- BBM Naik Nih Ceritanya? Gembar-gembor tentang kenaikan BBM sudah semakin santer. Demonstrasi semakin sering dilaporkan dan kepanikan sudah mulai melanda berbagai sendi masyarakat. Masyarakat...





14 Dec 2007, 2:47 pm
Saya bukan perokok…
You can also read Praditya’s blog post: Kalau Blogger Mengharap…
14 Dec 2007, 6:32 pm
Yaah saya perokok pasif,,,,selalu dirugikan
You can also read toni’s blog post: Blog ekspansi™, menyenangkan atau tidak?
15 Dec 2007, 10:45 am
Berita bagusnya… mayoritas penduduk Indonesia bukan perokok… tapi dengan marketing yang agresif seperti sekarang ini pertumbuhan perokok-perokok baru bisa menjadi sangat tinggi…
1 Jan 2008, 6:05 pm
Nice article…
Ijin ngirim trekbek…
You can also read Rystiono’s blog post: Recycle Compex WPE54G
11 Jan 2008, 11:35 am
saya sering nemuin anak2 SD yang ngerokok di PS. gimana sih kok ya PS ngebiarin mereka ngerokok
You can also read lady’s blog post: Mendadak Fotografer
1 Feb 2008, 10:50 am
Menurutku mengawali hari dengan sebatang rokok bukanlah ide yang buruk…
5 Jun 2008, 10:46 am
Wah, menarik nih infonya. Tapi aku ada mitos juga nih seputar rokok. Bagaimana dengan mitos bahwa rokok adalah salah satu industri dengan penyerapan tenaga kerja paling banyak di Indonesia. Ini dihitung dari petani tembakau sampai buruh pelinting rokok dsb. Perusahaan rokok berinisial SMPRN mengaku menyerap karyawan samapi 10ribu lebih.
Adit: 10 ribu relatif kecil dibandingkan dengan jumlah orang yang jadi sakit karena rokok, belum lagi dengan biaya kesehatan yang harus dibayarkan oleh negara. Jumlah tenaga kerja tadi menjadi sangat murah dan insignificant
You can also read Nivell’s blog post: Interactive Digital Public Relations
11 Jun 2008, 2:22 pm
hidup hari anti merokok…..
16 Aug 2008, 4:52 pm
saya juga bukan perokok, tapi saya menghabiskan hidup saya di daerah2 yang amat sangat menggantungkan hidupnya dari industri rokok.
apa yang disampaikan memang benar. tapi, apa yang disampaikan itu adalah angka-angka makro saja. Bank Dunia atau Pemerintah hanya “bermain” dengan indikator ekonomi dan keuangan secara global.
apa pernah Bank Dunia atau Pemerintah datang ke sebuah keluarga yang semuanya menjadi penganggur karena di-PHK dari industri rokoknya.
Dji Sam Soe adalah rokok kretek yang dipertahankan untuk diproduksi hand-made, hanya agar para pekerjanya tidak kehilangan pekerjaan. Atau pernahkah Bank Dunia ke sebuah daerah yang tanahnya HANYA BISA ditanami tembakau SAJA atau hanya CENGKEH saja? Ya, tanaman lain memang bisa tumbuh, namun tidak bisa memberikan pendapatan kepada petani, melainkan hutang.
Indikator makro yang disampaikan oleh lembagai-lembaga hanya “sekedar” angka (saya juga pernah berekrja di salah satu lembaga PBB) di atas kertas, namun tidak bisa merekam seorang anak yang terpaksa mencuri karena orang tuanya sudah menjadi pemulung …
@Acang: Dalam hal ini saya pikir kita juga harus melihat akibat yang ditimbulkan dalam skala makro. Terutama dalam perspektif kesehatan dan biaya ekonomi yang ditimbulkannya. Betul, ada saja kejadian di mana keluarga-keluarga atau bahkan daerah-daerah yang jadi “mati” karena di PHK dan sebagainya. Tapi kejadian tersebut menjadi begitu signifikan karena melihatnya dari kacamata skala mikro (kasus per kasus). Kalau kita cenderung melihat seperti itu maka sepertinya malah melupakan efek negatif yang lebih besar (seperti yang tersebut dalam posting di atas). Adalah tantangan pemerintah (dan mungkin kita semua) untuk mencari jalan keluar dari “pemandulan” industri rokok. Saya tetap meyakini bahwa dalam jangka panjang, pemberhentian industri rokok akan berdampak lebih positif dibanding dengan negatifnya.