Nonton Film Indonesia di Bioskop

Thu, 13 Dec 2007 | Sinetron | 865 views | Email This Post

Ketika saya masih kecil saya suka mendengarkan kisah Brama Kumbara di radio. Dulu sih cerita Brama Kumbara populer sekali. Saya saja jadi pendengar setia. Selain ceritanya seru, pengisi suaranya pun bisa memerankan tokoh-tokohnya dengan baik. Saya ingat tuh ada Mantili, Mak Lampir, dan tentunya si Brama sang jagoan.

Antusias masyarakat terhadap drama Brama Kumbara pun besar. Ini terbukti dengan diadakannya jumpa fans segala. Saya sih tidak datang ke acara itu. Tapi sekedar tahu saja.

Rasa suka saya dengan kisah Brama Kumbara pun seperti gayung bersambut ketika serial radio ini masuk layar lebar. Masyarakat waktu itu begitu terkesima dengan trik-trik yang digunakan. Saya pun jadi penasaran ingin melihatnya.

Ternyata saya tidak sendiri. Keluarga saya pun ikut-ikutan penasaran. Akhirnya ayah saya mengajak seluruh keluarga untuk nonton film Brama Kumbara.

Walau saya tidak begitu terkesan dengan jalan ceritanya, tapi saya terkesima dengan trik-trik yang digunakan. Gila aja, si Mantili bisa terbang di atas pelepah kelapa. Lalu burung garudanya pun besar sekali. Saya kagum.

Tapi kemudian film Indonesia mengalami kemunduran lagi. Kalau tidak salah salah satu penyebabnya adalah larisnya Studio 21. Film Indonesia pun akhirnya mati suri. Film-film yang diproduksi banyak yang bercerita tentang kisah esek-esek murahan.

Well, itu dulu.

Sekarang film Indonesia sudah bangkit dari keterpurukannya. Studio 21 yang dulu hanya menampilkan film-film Hollywood, sekarang sudah sering menayangkan film-film bikinan anak negeri.

Kalau melihat ini saya ikut senang. Berarti memang sudah ada kemajuan. Tapi kalau lihat jalan cerita? Saya banyak tidak senangnya.

Sentimen saya terhadap film Indonesia mungkin dilatarbelakangi oleh sentimen saya terhadap sinetron. Hal ini diperparah dengan banyaknya film yang pada dasarnya adalah sinetron, hanya saja tampil di layar lebar.

Saya ingat ketika film Eifel, I’m in Love diliris. Saya banyak mendengar bahwa film ini cukup laris. Selang beberapa lama film ini pun ada di TV. Karena saya penasaran saya pun menontonnya. Wah, film ini tidak seperti yang saya harapkan. Akting para pemainnya buruk sekali, membuat saya merasa bosan bukan kepalang. Akhirnya saya tidak bisa lagi mengikuti apalagi menikmati film tersebut. Rasanya tidak enak sekali menonton film dengan kualitas para pemain yang tidak berbeda jauh dengan pemain sinetron.

Film berikutnya adalah film Jelangkung. Kalau ini saya malah sempat nonton di bioskop. Habis katanya seram habis. Ya sudah, saya ikut nonton bersama teman-teman. Well, saya akui kalau film ini punya ide yang orisinil. Saya pun bisa menikmatinya.

Tapi tidak lama. Karena kemudian makin banyak film dan sinetron tentang dunia gaib. Ah, males deh. Karena laris satu yang lainnya malah ikut-ikutan. Tidak lagi ada nilai orisinilnya.

Akhirnya ketika film Arisan diliris saya memilih untuk menonton di TV saja. Untungnya cerita film ini menarik dan saya pun bisa menikmatinya walau hanya di TV.

Pengalaman memang bisa mengajarkan banyak. Apalagi pengalaman buruk. Kita cenderung jadi sangat berhati-hati.

Karena pengalaman buruk (kekecewaan) saya terhadap film Indonesia yang banyak mengekor dan berkualitas sinetron, maka saya sampai sekarang memilih untuk tidak menonton film Indonesia di bioskop.

Saudara saya bilang, “buat apa nonton film Indonesia di bioskop? nanti juga ada di TV kan?!” Dia ada benarnya, dan memang begitu kenyataannya.

Trend film Indonesia sebenarnya gampang ditebak. Lihat saja trend sinetron, maka kita sudah bisa menerka trend macam apa yang ada untuk film-film Indonesia.

Kalau saya perhatikan sih produsen film Indonesia kebanyakan adalah produsen sinetron juga. Maka tidak aneh kalau ujung-ujungnya jadi sinetron layar lebar.

Saya tidak tahu banyak tentang film Indonesia. Karena memang daya tariknya belum bisa membuat saya penasaran lagi. Saya menebak film-film Indonesia masih didominasi oleh cerita-cerita asmara anak remaja. Karena ini memang pangsa pasar yang besar dan menguntungkan. Pembuatan ceritanya pun relative mudah karena cuma copy-paste dari sinetron.

Namun demikian saya melihat (dari poster-posternya) sudah mulai bermunculan film-film Indonesia yang mempunyai nilai seni lebih baik. Mungkin sutradara-sutradara film itu sudah muak dengan film-film model sinetron. Mudah-mudahan sih begitu.

Anyway, seperti yang saya bilang sebelumnya, untuk sekarang ini saya masih memilih nonton film Hollywood di bioskop. Saya masih tidak yakin kalau film Indonesia di bioskop bukan lagi film sinetron versi layar lebar.

Popularity: 50% [?]



Comments

  1. 1
    Praditya
    13 Dec 2007, 9:16 pm

    Boro2 film Indonesia, film Hollywood aja saya ndak pernah nonton langsung di bioskop… :D

    You can also read Praditya’s blog post: Kalau Blogger Mengharap…

  2. 2
    adit
    13 Dec 2007, 9:17 pm

    @praditya: DVD bajakan ya? :))

  3. 3
    siska
    17 Dec 2007, 1:23 pm

    well, sebenernya sekarang ini tema-tema film-film indonesia sudah membaik kok. meskipun masih ada yg bertema percintaan remaja ataupun horor. tapi bisa kita temui pula film yg bergenre komedi, setelah sekian lama absen.

    mungkin saja kalau para produser lebih banyak yg mempunyai visi sineas daripada bervisi dagang, perfilman nasional pasti lebih baik :D

    kalau bukan kita, siapa lagi yg memajukan perfilman nasional? hehehe. saya, saat ini sangat mengapresiasi film-film indonesia yg bermutu.:d

    *calon filmmaker, gyahahahahahahahha!!!

    You can also read siska’s blog post: Hot Chocolate, Please….

  4. 4
    adit
    17 Dec 2007, 5:17 pm

    @Siska:

    beneran loh nih ditunggu film karyamu ;;)

  5. 5
    Maulana
    2 Jan 2008, 3:54 pm

    Seharusnya pembuat film di Indonesia harus mempunyai ide2 yg kreatif disaat film remaja+percintaan booming semuanya ikut2, begitu juga dengan horor semuanya ikut horor, sebenarnya Indonesia kaya akan ide, mungkin kita bisa mengambil ide dari sejarah, misalnya Penaklukan Nusantara oleh Majapahit dan di buat seperti Film Troy. Hebat banget kalo ada cineas yang buat film seperti itu

  6. 6
    adit
    3 Jan 2008, 9:00 am

    @Maulana: Wah seru juga tuh kalau ada film kayak begitu 8->

  7. 7
    run no car no
    27 Apr 2008, 10:58 pm

    katanya seeh,film indonesia lagi bangkit sekarang. tapi kalo saya liat dari jenis film yang beredar sekarang, sepertinya siklus berulang udah keliatan. dulu film kita pernah dibombardir dengan tema mistik dan hantu, kemudian menjelang mati surinya film indoneisa. bioskop yang menyiarkan film indonesia adalah bioskop kacangan. itu karena tema2 filmnya semuanya film esex2 murahan. nah sekarang yang katanya terjadi kebangkitan film indonesia (dilihat dari beberapa film indonesia yang box office di bioskop). dari sejak kebangkitannya film hantu sudah mulai adanya dengan fil jelangkung dan dilanjutkan dengan film hantu/mistik lainnya. yang baru-baru ini film tema esex2 walaupun dibuat dalam bentuk komedi, mulai banyak beredar. akankah film indonesia hancur lagi? WAHAI PEKERJA FILM INDONEISA KEMBALILAH KE JALAN YANG BENAR! buatlah skenario film yang OK dan original. SEMOGA

  8. 8
    adit
    1 May 2008, 12:17 am

    @Run: Yup. Semoga ;)

Leave a Comment

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

blank