Kerupuk, Nyamuk, dan Oneng

Mon, 10 Dec 2007 | Sinetron | 260 views | Email This Post

Tidak terasa tahun ini sudah mau habis lagi. Kurang lebih dua minggu ke depan kita akan memasuki awal tahun baru. Nah sebelum tahun 2007 berakhir saya mau membuat komentar lagi soal sinetron.

Saya sedang iseng-iseng blogwalking and stumbled upon Mihael “D.B.” Ellinsworth’s blog. Ada tulisan menarik di situ: Sinetron adalah akal bulus cinta dan film cengeng.

Mihael mengatakan bahwa tren sinetron sekarang ini adalah tentang percintaan dan hasil copy paste dari film-film cengeng, dan oh satu lagi saya tambahkan, judulnya cuma satu kata saja.

Dengan tren yang seperti ini tentu saja membuat sinetron makin tidak menarik untuk ditonton. Saya tahu sedikit-sedikit tentang sinetron karena para pembantu di sini sangat suka dengan sinetron. Karena TV nya persis di depan kamar saya, maka saya tahu kalau mereka sedang menonton.

Paling tidak sampai dengan awal tahun depan, kondisi sinetron sepertinya masih melanjutkan dari kondisi tahun ini. Masih seputar percintaan dan kesedihan. Mungkin juga masih memakai judul satu kata, seperti Cinta, Cinderella, dan entah apalagi.

Menurut pengamatan saya, sinetron kita sekarang ini mempunyai tiga karakteristik: Kerupuk, Nyamuk, dan Oneng.

Kerupuk adalah karakteristik sinetron yang ceritanya garing dan basi. Alur cerita mudah ditebak dan mengada-ada. Mereka suka sekali mengusung tema dunia persilatan, meniru model cerita Bollywood, dan banyak menggunakan trik-trik visual murahan.

Nyamuk adalah karakteristik sinetron yang ceritanya hanya hasil jiplakan. Mereka ibarat nyamuk, yang perlu darah mahluk lain untuk bertahan hidup. Sinetron model ini tidak perduli tentang kreatifitas. Asal bisa untung mereka hisap langsung itu ide-ide. Sama seperti nyamuk, selain menyebalkan jumlahnya pun tambah banyak.

Oneng adalah karakteristik sinetron yang ceritanya membodohi dan hanya menawarkan khayalan tidak jelas. Karakternya pun dibuat sedemikian rupa, sehingga kalau baik, baik sekali, kalau jahat, jahat sekali. Pengembangan karakter juga terlihat asal-asalan dan hanya itu-itu saja tipenya.

Pemain Sinetron

Lalu bagaimana dengan para pemain sinetron? Well, kalau melihat dari sisi uang dan status selebritis mungkin mereka bisa dilihat sebagai suatu kesuksesan. Tapi dari sikap-sikap mereka di dunia nyata selama ini tidak jauh-jauh dari sikap kerupuk, nyamuk dan oneng.

Pemain sinetron bisa punya sifat kerupuk, nyamuk, dan oneng karena infotainment shows.

Banyak sekali hal-hal kecil di kehidupan mereka yang menurut saya tidak ada manfaatnya ke masyarakat malah ditonjolkan. Membuat kita yang melihatnya merasa garing macam kerupuk. Pernah saya melihat acara infotainment yang menceritakan potongan rambut baru seorang pemain sinetron. Hmm, apa menariknya? Apa manfaatnya bagi masyarakat? Hampir tidak ada dan tidak penting. Hasilnya? Kerupuk!

Makin populernya sinetron membuat subur pula infotainment, maka makin sering juga gosip-gosip seputar pemain sinetron. Kisah-kisah hidup pemain sinetron juga bagai nyamuk. Sering menjiplak saja. Sampai saat ini masih seputar pacaran, pernikahan dengan pengusaha (atau penjabat dan orang kaya), promosi bisnis, dan perceraian. Acara TV habis diisi dengan hal-hal yang itu-itu saja.

Selain itu pemain sinetron sering sekali berbuat kebodohan (Oneng) terutama dalam hal kawin-cerai. Ah bosan ceritanya. Pernikahan dianggap sebagai sirkus. Bisa keluar masuk seenaknya. Terlebih lagi bila mereka menceritakan keburukan-keburukan pasangannya. Untuk apa? Toh bercerita tentang keburukan pasangan kita maka kita pun menceritakan tentang keburukan kita sendiri.

Untuk hal-hal tertentu mungkin ada baiknya, tapi pada umumnya cuma caci maki saja dan lebih supaya terlihat sebagai “korban”.

Stasiun Televisi

Stasiun Televisi yang sering menayangkan sinetron tidak ada bedanya dengan sinetron itu sendiri: kerupuk, nyamuk dan oneng.

Karena banyaknya sinetron yang ditanyangkan maka makin membuat stasiun yang bersangkutan menjadi garing pula. Mereka seperti nyamuk yang tahunya cuma menjiplak ide orang lain dan ikut-ikutan. Mereka menggagas ide yang itu-itu saja. Tidak mendidik dan lebih banyak membuat penontonnya seperti oneng.

Saya mengerti kalau Televisi itu adalah bisnis, dan bisnis cari untung. Namun perlu digaris bawahi bahwa Televisi kita masih punya mentalitas dan pemikiran jangka pendek. Yang penting untung saja. Sepertinya tidak perduli kalau jadi terlihat garing macam kerupuk, menghisap ide orang lain macam nyamuk, atau membuat masyarakat bodoh seperti oneng.

Televisi adalah salah satu media yang mempunyai kekuatan yang besar untuk merubah persepsi publik. Sepertinya hal ini bisa dimulai dengan mengevaluasi sinetron-sinetron mereka.

Tantang production house untuk menghasilkan karya-karya orisinil dan tidak semata-mata cari untung saja. Ciptakan suatu kondisi yang menuntut penulisan karya-karya sinetron yang orisinil.

Menanti 2008

Saya tidak yakin sinetron kita akan lebih baik dari tahun ini. Kalau benar terjadi, paling tidak saya jadi punya bahan untuk terus mengomentari sinetron di tahun depan ;)

Popularity: 26% [?]



Comments

  1. 1
    Praditya
    10 Dec 2007, 6:47 pm

    Klo gtu 2008 saya akan muncul sebagai pemain sinetron berkualitas…

    Tunggu tanggal mainnya!

    Wkwkwk… :))

    You can also read Praditya’s blog post: Cihuy… Punya Mainan Baru!

  2. 2
    siska
    11 Dec 2007, 12:31 pm

    yup yup…seharusnya stasiun televisi membantu untuk mencerdaskan, bukannya membodohi. saya selalu suka nonton metro tv. setidaknya menambah pengetahuan dan tidak membodohi.

    sepertinya, bagi stasiun tv yang ada sekarang, rating adalah segalanya. biar program acaranya sangat bodoh, tapi rating bagus, ya digeber aja terus…sambil menangguk iklan yang banyak. huh!

    You can also read siska’s blog post: menikmati film indie bersama LA…

  3. 3
    Neng Keke
    11 Dec 2007, 7:12 pm

    SETUJES!!! Beberapa temen gue kerja di bidang itu and believe me… They’re so RICH! Segitu dia bukan artisnya… Pas gue komentar (kurang lebih komentarnya kayak lo deh) dia bilang, “Kalo gitu, lo bikin dong sinetron yang bagus, yang mendidik, tapi rating tetep tinggi, orang tetep demen nonton…”

    Mmm… :-? Boleh jyugaaaaaaaaaaaaaaa…. :)>-

    You can also read Neng Keke’s blog post: Tutup… Jangan… Tutup… Jangan…

  4. 4
    adit
    11 Dec 2007, 8:47 pm

    @Neng Keke: So, are you up to the challenge? ;) Gooo!!!!

Leave a Comment

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

blank