Pengusaha Indonesia
Sun, 2 Dec 2007 | Indonesia | 394 views | Email This Post
Sudah rutin bagi kita untuk mendapatkan berita tentang penggusuran kaki lima. Hampir tiap hari ada saja pemberitaan tentang ‘perjuangan’ para pedagang kaki lima dengan polisi pamong praja. Masalahnya pun klasik. Tidak jauh-jauh dari ketertiban kota, macet, dan penolakan pedagang.
Kalau saya amati, kita sering mengelompokkan mereka yang berusaha menjadi dua: Pengusaha dan Pedagang.
Istilah pengusaha biasanya dikaitkan dengan mereka yang bergelut dengan proyek. Istilah proyek itu sendiri sering diartikan dengan banyak uang. Karena jarang sekali proyek yang nilainya kurang dari jutaan, maka tak heran bila para pengusaha (kontraktor) mempunyai citra sebagai orang-orang yang biasa memegang uang dengan jumlah minimum jutaan.
Sedangkan istilah pedagang sering diasosiasikan dengan mereka yang memasarkan barangnya di pasar. Pasar di Indonesia masih suka dianggap sebagai tempat yang becek, kotor, dan padat (pasar tradisional). Maka tak heran apabila pedagang mempunyai citra yang tidak segemerlap pengusaha.
Karena kaki-lima sering terlihat di pasar, maka kaki lima dibilangnya pedagang kaki-lima. Bukan pengusaha kaki-lima. Padahal menurut saya sih pedagang dan pengusaha itu masuk dalam satu kategori: orang-orang yang berusaha mendapatkan penghidupan dengan tidak menjadi karyawan. So, kalau saya bilang kaki lima, pedagang, dan pengusaha pada dasarnya adalah para pengusaha.
Terlepas dari itu semua, saya pribadi salut dengan pedagang kaki-lima. Biarpun digusur, diusir, dan dipandang sebelah mata, namun kehadiran mereka merupakan bukti nyata bahwa kaki lima adalah kumpulan pengusaha-pengusaha tahan banting. Saya tidak menyangkal kalau kaki-lima memang sering buat masalah dalam hal ketertiban, tapi itu hal yang berbeda pembahasannya.
Anyway, saya suka ngobrol-ngobrol dengan tukang nasi goreng, tukang siomay, dan pada pedagang lainnya. Alasan mereka datang ke Jakarta pada umumnya untuk mengadu nasib. Alasa klasik dan tentu sah-sah saja.
Tapi yang buat saya salut adalah mereka datang untuk menjadi pengusaha. Walau tidak gemerlap, saya tetap iri kepada mereka. Karena di mata saya mereka adalah para entrepreneur khas Indonesia.
Di kampung mereka boleh miskin dan tidak menyelesaikan sekolah, tapi tetap saja saya merasa lebih bodoh dari mereka. Saya mungkin bisa ini itu, tapi kalau soal jadi pengusaha saya masih perlu belajar banyak dari mereka. Belajar jadi entrepreneur tahan banting, entrepreneur yang bisa terus bangkit walau sudah jatuh, digusur, dan dikejar berkali-kali.
Popularity: 28% [?]
Artikel Lainnya:
- Kakinya Kaki-Lima Kemarin saya mengunjungi acara pernikahan kerabat di daerah Garut, Jawa Barat. Ini adalah yang pertama kalinya saya menghadiri pesta pernikahan...
- Hidup Santai, Hidupnya Indonesia Hari ini saya membaca berita di detik.com yang melaporkan bahwa pemerintah akan mengkaji kembali kebijaksanaan cuti bersama di tahun ini....
- Sedikit Cerita Tentang Resiko Suatu hari dalam sebuah ruang kuliah ekonomi, seorang professor bertanya kepada mahasiswanya, “Apakah resiko itu?” Setelah beberapa saat tidak ada...
- Masihkah Ada Sisa Cinta Untuk Indonesia Setelah blogwalking dan bloghopping ke beberapa blog Indonesia, saya menemukan bahwa sebenarnya para bloggers kita itu cinta sama Indonesia. Saya...
- Nasi Goreng Salah satu masakan Indonesia yang paling sering dieksploitir secara harga adalah nasi goreng. Padahal kalau diperhatikan, nasi goreng sebenarnya tidak...





2 Dec 2007, 11:32 pm
Ada orang ditanya, “Kamu di Jakarta kerjaanya apa?”
Dijawabnya, “Biasa lah… Pengusaha cendol!”
“Weits… Mantab!”
You can also read Praditya’s blog post: Berkomen Ria di Blog[dot]Blogspot itu…
3 Dec 2007, 12:27 am
Praditya » Hihihi… manteep banget tuh… salut salut!
3 Dec 2007, 8:22 am
Ada pelajaran tentang kehidupan yang kita bisa dapat dari mereka ( Pedagang kaki 5 )
You can also read landy’s blog post: ” BORONG BUKU “