Yang Tua Makin Gila, Yang Muda Ikut Merana
Fri, 30 Nov 2007 | Indonesia | 251 views | Email This Post
Sebenarnya tulisan ini sudah saya tulis di Pancaroba.com, tapi dalam bahasa Inggris. Umm..kenapa ya, kok sepertinya ada yang kurang sreg? Biar lebih sreg, saya sepertinya harus nulis topik ini dalam bahasa Indonesia. ![]()
Salah satu teman saya bilang, “Kasian ya Ahmad Albar? Udah umur segitu masih ngedrug”. Hmm.. benar kah? Apakah dia layak mendapatkan rasa kasihan kita? Saya pikir mereka tidak layak mendapatkannya. Terus terang saya tidak perduli dengan Ahmad Albar, Roy Martin, Faris RM, atau aktor-aktor senior lainnya yang menjadi pecandu obat terlarang.
Mereka, dalam pendapat saya, adalah orang-orang bodoh yang tidak pernah menggunakan kepala mereka sebagaimana mestinya. Malah menurut saya mereka terlihat lebih bodoh ketika mereka mencoba tersenyum di depan kamera. Apakah mereka menggunakan status selebritisnya untuk mendapatkan simpati publik? Jika iya, maka saya akan bilang mereka telah gagal melakukannya.
Saya benar-benar merasa iba dengan keluarga, teman, dan orang-orang yang harus menanggung kesusahan lantaran beberapa individu yang egois yang memutuskan untuk tidak berpikir jernih dan menjadi pecandu obat terlarang. Namun sulit bagi saya untuk memberikan rasa simpati kepada mereka yang memakai, menjual, atau memproduksi obat-obatan terlarang.
Itulah sebabnya mengapa saya sangat mendukung hukuman mati bagi para penjahat obat-obatan terlarang. Mengapa kita harus membela hak-hak asasi mereka padahal mereka sendiri menghancurkan kemanusiaan? Keadilan? Keadilan menurut saya dalam hal ini adalah ketika mereka sudah tidak bernyawa.
Satu hal yang saya kagumi tentang Malaysia adalah hukuman mati yang mereka terapkan untuk kejahatan obat-obatan terlarang. Kita harus mau menghargai pemerintah Malaysia yang telah mengambil pendirian yang teguh dan melindungi generasi-generasi mereka dari kerusakan. Indonesia? Hmm.. saya harus bilang kalau saya malu.
Kerusakan dari obat-obatan sudah jelas, kehancurannya nyata, dan akibatnya benar-benar terlihat. Tapi semua ini seakan menjadi buram lantaran rendahnya political will dari para pembuat hukum kita untuk memberikan hukuman yang lebih berat lagi kepada para penjahat obat-obatan. Masih ingat tentang produsen extacy terbesar yang dihukum ringan saja? Keputusan seperti itu adalah keputusan lelucon yang menghina bangsa dan kemanusiaan.
Kepada Ahmad Albar, Roy Marten, Faris RM, dan aktor-aktor gaek lainnya yang menjadi pecandu, saya yakin rasa malu sudah tidak ada lagi dalam kamus anda semua. Saya juga sadar bahwa kecil kemungkinannya hukuman mati akan dijatuhkan. Yang saya bisa lakukan adalah berharap kalian semua menjadi sangat, sangat sakit sehingga kalian benar-benar berhenti untuk menggunakan barang haram itu.
Kalian semua sudah diberi kesempatan untuk menjadi anggota masyarakat yang dihormati, tapi kalian sia-siakan itu. Kalian dimaafkan tapi kalian kembali mengulanginya. Kalian tidak berusaha keras. Malah saya tidak yakin kalau kalian telah berusaha.
Berhenti meracuni TV kami dengan cerita-cerita kecanduan kalian.
Popularity: 24% [?]
Artikel Lainnya:
- Yuk, Hukum Mati Saja Mereka Yang Korupsi Pemberitaan di media belakangan ini diisi oleh pembunuhan berantai dan korupsi BLBI yang ikut menyeret anggota DPR. Kalau soal pembunuhan...
- Tuna Netra pun Ikut Membaca Kita adalah manusia-manusia yang beruntung yang telah diberikan kenikmatan untuk bisa melihat. Dengan kedua mata, kita bisa memahami keindahan dan...
- Roy: Korupsi Enak Gila! Hari ini saya dapat komentar dari Roy tentang artikel Dagelan Dalam Anggaran. Sayangnya Roy tidak meninggalkan apa-apa selain namanya saja....
- Terima Kasih Kepada Pemerintah Malaysia Terima kasih kepada Pemerintah Malaysia. Kalau saja kalian tidak mengaku-ngaku budaya Indonesia adalah budaya asli Malaysia, tentunya kami-kami di Indonesia...
- Meluruskan Yang Dianggap Bengkok Saya mendapat kesan kalau posting saya sebelumnya seperti memberikan gambaran bahwa saya pernah selingkuh. He..he..he.. Yaa.. kalau mau melihat sisi...





30 Nov 2007, 9:45 pm
Moga2 saya gak terjerumus ke dalamnya… Amiin!
You can also read Praditya’s blog post: Tawaran Darimu itu…