Bandung (ANTARA News)- Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Siti Fadillah Supari, menegaskan bahwa pengambilan sampel darah Dede yang menderita penyakit aneh oleh pihak asing melalui Dr Anthony Gaspari bersama Discovery Channel sangat merugikan ilmuan dan Pemerintah Indonesia.

“Pencurian atas sampel darah, serta sampel virus yang menjangkit Dede benar-benar telah merugikan kekayaan intelektual kita, terutama kekayaan dalam ilmu kesehatan, dan kedokteran,” Ucap Dr Rachmat Dinata, Tim Khusus Rumah Sakit Hasan Sadikin.

Saya kurang mengerti dengan pernyataan Ibu menteri dan Dr. Rachmat. Kalau memang merugikan Indonesia kenapa tidak gerak cepat dari dahulu? Plus, yang utamanya bukankah membantu Dede Sembuh? Bukan malah dipolitisir begini? Apalagi Dede pastinya sudah sakit dari dahulu. Penyakit seperti ini tidak tumbuh dalam sehari dua hari. Tapi bertahun-tahun. Ke mana aja Pak Dokter?

Saya setuju dengan pandangan yang menyatakan bahwa kalau kita mempunyai kekayaan dalam ilmu kesehatan dan kedokteran kita mempunyai kekuatan untuk “menawar”. Terlebih lagi bila tawaran itu datang dari perusahaan-perusahaan pembuat obat.

Tapi, ya tapi. Pemerintah Indonesia kan lebih sering reaktif daripada proaktif. Contoh saja flu burung, sekarang Dede.

By the way, menurut berita dari ANTARA juga, Dede mengidap penyakit yang disebabkan oleh  Epidermodysplasia verruciformis, sebuah penyakit kulit yang sangat langka dan berciri khas tumbuhnya macule (luka di kulit yang hanya bisa dilihat namun tidak bisa dirasakan) dan papula (tumbuhnya kulit), terutama pada bagian tangan. Selain itu, faktor genetis juga dipercaya mempunyai peran (Wikipedia).

Penyakit ini biasanya berkembang sejak anak-anak dan sampai sekarang masih belum ada obat untuk menyembuhkannya. Penyakit ini dipercaya disebabkan oleh virus Human Papiloma. Virus jenis ini merupakan grup virus yang terdiri dari 80 lebih tipe virus, termasuk virus yang menyebabkan kutil di bagian kelamin. Virus-virus ini bisa ditularkan melalui hubungan seksual dan dipercaya menyebabkan kanker saluran rahim (BBC News).

Dede juga dilaporkan mengidap penyakit Giant Cutaneous Horn. Cutaneous horns merupakan luka di kulit yang langka yang berisi materi keratorik yang menyerupai bahan untuk tanduk hewan. Penyakit ini bisa tumbuh dari berbagai luka di kulit, terutama pada bagian-bagian yang terkena sinar matahari, khususnya wajah, hidung, lengan bagian bawah, dan belakang tangan. Walaupun kebanyakan dari penyakit ini adalah jinak, namun ada kemungkinan untuk berkembang menjadi kanker kulit (World Journal of Surgical Oncology).

Semoga Dede bisa lekas sembuh dan diberi kemudahan untuk menjalankan hidupnya.

Popularity: 27% [?]

Artikel Lainnya:

  1. Pengusaha Indonesia Sudah rutin bagi kita untuk mendapatkan berita tentang penggusuran kaki lima. Hampir tiap hari ada saja pemberitaan tentang ‘perjuangan’ para...
  2. Uniquely Indonesia Selain yang bagus-bagus, Indonesia ada juga yang jelek-jeleknya. Tapi sekarang saya mau yang unik-unik dari Indonesia. Posting kali ini tentang...
  3. Can Indonesia Keep Its Green Promise? Today I noticed that there are many news coverage on planting trees, and most of them are sponsored by the...
  4. Sisa Cinta Untuk Indonesia Setelah blogwalking dan bloghopping ke beberapa blog Indonesia, saya menemukan bahwa sebenarnya para bloggers kita itu cinta sama Indonesia. Ada...
  5. What Indonesians Love (and Hate) about Indonesia From my observation and from my blogwalking, for now I think I can say that: Indonesians love their foods. Especially...



Comments

  1. 1
    PradityaNo Gravatar
    26 Nov 2007, 8:17 am

    Hmm… Saya butuh referensi lebih lengkap mengenai detail penyakit itu.
    Coz sblmna cuma nulis tentang kasus Bapak Dede nya aja… :D

    http://www.praditya.net/index.php/2007/11/25/manusia-pohon-terpenjara-di-indonesia/

    Kepingin juga tau tentang penyakit ini lebih jelasnya…

    You can also read Praditya’s blog post: Refreshing Euy!

  2. 2
    eckyNo Gravatar
    26 Nov 2007, 11:01 am

    Suka gak jelas ya pemerintah kita, bukannya mikirin kesembuhan Dede tapi malah mikirin kepentingan politik sendiri, harusnya Ibu Menteri malu karena pihak luar malah lebih perhatian dan ada actionnya gak cuma talk only.. sigh

  3. 3
    RMYNo Gravatar
    27 Nov 2007, 11:44 am

    Di Indonesia sekarang “mungkin” udah sedikit orang-orang yang idealis dlm profesinya.. Karena gak ada keuntungan dan gak bekerja dengan hati maka si Dede yang kabarnya pernah dirawat 10 thn yang lalu, jadi di biarin aja pergi karena gak bisa bayar tagihan rumah sakit lagi..
    “Mungkin” kalo bekerja dengan hati sudah mustahil di Indonesia, kenapa tidak ada dokter yang “peduli” dengan Perkembangan Ilmu pengetahuan dalam hal ini dalam menemukan sesuatu yang baru (Penyakit baru). Saat itu “mungkin” juga Dede tidak berhenti dalam pengobatannya..
    Dokter-Dokter kita mungkin sudah sangat nyaman dengan keadaannya jadi sudah tidak adalagi hasrat untuk terus berkembang dalam ilmu pengetahuan..
    Semua serba MUNGKIN.. Yang pasti negara lain sudah duluan lagi..:(

    You can also read RMY’s blog post: RMY Going Green

  4. 4
    KresnaNo Gravatar
    11 Dec 2007, 5:55 pm

    Orang Indonesia kadang-kadang memang kurang sensitif, tapi lalu suka berreaksi berlebihan.

    Sebelum disiarkan di Discovery Channel, Dede pernah ditampilkan di pameran manusia aneh 2 kali, masing-masing di Jakarta dan Bandung. Pameran di Bandung dibuka oleh Walikota kalau tidak salah. Pernah masuk koran pula, dikunjungi, diliput dan dipotret serta dimuat di media lokal Bandung.

    Kok tidak ada yang peduli? Kalau tidak menolong, paling tidak untuk tahu lebih jauh kenapa dia begitu, sakit apa, sudah berobatkah, apa rasanya, dan sebagainya. Bahkan sebuah media terkemuka di Bandung pernah menulis bahwa kondisi Dede seperti itu “akibat berguru ilmu Brajakarang. Akan tetapi, belum sempat mencapai puncak, sang guru meninggal, sehingga terjadi perubahan seperti ini. “Sebelumnya saya normal seperti manusia biasa. ” (kutipan langsung dari Pikiran Rakyat 16 April 2007). Hey, come on!! Kok ya wartawan dan editornya percaya saja dan menulisnya mentah-mentah? Koran kan bukan untuk membuat kita bego! Digali lebih dalam dong, sedikit saja.

    Jadi sebelum disiarkan Discovery Channel, wacana terhenti sampai pada: “Hey, di Bandung ada orang aneh bin ajaib yang tangan dan kakinya seperti akar pohon. Kasihan sekali”. Tanpa ada wacana lebih jauh tentang fenomena itu.

    Yang dilakukan Discovery Channel memang sebuah proyek film dokumenter untuk televisi, karena memang di bidang itulah perusahaan ini bergerak. Perusahaan ini bukan lembaga kesehatan, bukan lembaga riset, bukan lembaga sosial, bukan juga dermawan. Yang mereka lakukan adalah mencari topik unik dan menarik untuk diteliti, difilmkan, lalu disiarkan sebagai tayangan ilmiah populer untuk masyarakat banyak. Sebagai perusahaan, tentunya mereka menginginkan profit.

    Nah, untuk hal unik itulah, mereka juga melibatkan ahli, dokter dan peneliti, sehingga tidak hanya membuat potret sedih seseorang, tapi juga memfasilitasinya dengan alternatif solusi. Tentunya atas biaya proyek film tersebut.

    Jadi kalau anda menderita kanker paru-paru misalnya, meski anda lebih miskin dan lebih menderita dari Dede, ya maaf, itu penyakit umum. Discovery tentunya tidak tertarik, tidak dibuat film, sehingga tidak dicarikan dokter. Juga tidak disiarkan. Dus, tidak diketahui presiden dan orang banyak sehingga tidak dapat bantuan sampai mati pelan-pelan atau seketika.

    Dalam bisnisnya membuat film, tentu ada yang jadi objek, yang tentunya akan tereksploitasi, karena harus menyediakan waktu serta “terganggu” privasinya, sekalipun pembuat film telah berhati-hati terhadap si sakit ini. Rasanya sukar untuk menyampaikan sesuatu untuk media publik tanpa mengeksploitasi, atau mengganggu si objek itu sedikitpun, apapun objeknya.

    Terlepas dari berapapun nilai material yang diterima sang objek, karena sudah terganggu privasinya, juga terlepas dari keuntungan yang diterimanya setelah publikasi atas dirinya, bagi saya ada keuntungan yang lebih besar. Yaitu penyebaran ilmu pengetahuan bagi masyarakat banyak.

  5. 5
    aditNo Gravatar
    11 Dec 2007, 8:43 pm

    @Kresna: saya sependapat dengan mas Kresna. “Keprihatinan” Ibu menteri pun sepertinya lebih sebagai keprihatinan muka dua.

    Saya sendiri sebal membaca beritanya. Menurut saya menunjukkan rasa nasionalisme melalui cara seperti itu percuma saja. Karena terlihat sekali ketidak pekaannya dan, well, munafik.

  6. 6
    mildaNo Gravatar
    25 Oct 2008, 10:43 pm

    :( i will dede bisa sembuh,diberikan yang terbaik ole Allah Swt,mudah-mudahan dede tabah menghadapi lika-liku hidupnya,.dan buat pemerintah,sekarang jangan berdebat tentang pencurian sample dsb,kalau emang kita gak mampu.kenapa kedokteran indonsia gak kerja sama aja ama dokter2 luar negri,dan ngebuat hak penemuan kerjasama,beres kan.masalah penyakit ini bisa dipecahkan,dan ilmu perkembangan dunia semakin berkembang,dan yg utama dede bisa cepat sembuh,.

  7. 7
    aditNo Gravatar
    26 Oct 2008, 10:53 am

    @Milda: Berita terakhir yang saya dapat sih operasi Dede sudah selesai. Sekarang mungkin Dede sudah bisa hidup lebih baik. Mudah-mudahan penyakitnya tidak kambuh lagi ya? :)

Leave a Comment

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

blank