Jual Diri Yuk?!
Tue, 20 Nov 2007 | Media & Komunikasi, Tips | 513 views | Email This Post
Kemarin hari saya menghadiri lecture tentang Personal Brand (Pribadi sebagai Merek). Topik pembicaraan membahas seputar “menjual diri” dengan memposisikan diri kita sebagai sebuah merek. Pertanyaan awal cukup sederhana:
Apabila diri anda sebuah merek, bagaimana anda menjual merek tersebut?
Banyak jawaban yang muncul, tidak memungkiri bahwa saya juga berpikir tentang jual diri dalam konteks negatif. Saya yakin ini adalah pemikiran pertama yang muncul di kepala banyak orang hehehehe ![]()
Anyway, lecture melanjutkan dengan mendefinisikan merek. Apakah merek itu?
Merek adalah sebuah simbol yang bisa dilihat dan bisa dirasakan (tangible) yang membedakan antara satu produk dengan produk lainnya.
Nah dari definisi ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa setiap pribadi bisa menjadi merek. Karena setiap individu adalah sebuah produk yang unik dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Lalu bila kita sebuah produk, apakah merek kita? Jawaban termudah adalah nama kita sendiri. Contoh, nama saya Aditya Fajar. Nah nama ini bisa saya kembangkan sebagai merek untuk menjual diri saya ke publik.
Pertanyaan berikutnya adalah
Kenapa saya perlu menjadi sebuah merek?
Dengan memperlakukan diri kita sendiri sebagai merek, kita akan:
1. Menghemat energi
Karena bila kita sudah dikenal sebagai sebuah merek, orang lain akan lebih mudah mengenali kita sehingga kita tidak perlu bersusah payah menjelaskan kualitas yang kita miliki. Contoh mudahnya adalah jika ada orang yang bilang “Si A jago komputer”, “Si B jago Masak”, “Si C jago gombal”, dan selanjutnya.
Nah A sebagai sebuah merek dikenal sebagai individu yang ahli komputer, maka tidak heran apabila banyak orang datang ke A bertanya tentang masalah-masalah komputer. Sedangkan si B didatangi orang untuk berkonsultasi bagaimana cara membuat masakan yang enak, dan C didatangi para cowok dan bertanya soal percintaan.
Terus terang sebelumnya saya tidak melihat label yang diberikan oleh orang lain itu sebenarnya bisa menguntungkan kita apabila di manage dengan benar, tapi setelah mengikuti lecture ini saya menjadi tertarik untuk mempelajarinya lebih jauh.
2. Meningkatkan Karisma
Tidak dipungkiri apabila bila kita dikenal orang yang ahli di bidang ini dan itu, orang akan melihat kita sebagai individu yang mempunyai nilai lebih (karisma).
3. Menemukan Karakter Inti yang Transparan
Apabila kita mengembangkan diri kita sebagai sebuah merek, maka kita dituntut untuk jujur kepada diri sendiri. Jujur terhadap semua kelebihan dan kekurangan kita. Dengan menemukan dan menyadari kekurangan dan kelebihan kita, maka kita akan menjadi sebuah produk yang unik dan apabila dikelola dengan baik akan mempunyai nilai jual.
4. Menjadi Jelas dan Terdefinisi
Dengan menanggap diri kita sebagai sebuah merek, kita bisa mempunyai pandangan yang lebih jelas tentang siapa diri kita sebenarnya. Lalu kita juga bisa mendefinisikan diri kita sendiri dan menjualnya sebagai sebuah daya tarik.
Misalnya, Aditya Fajar adalah individu yang tertarik dengan dengan dunia teknologi, ilmu sosial, ilmu pengetahuan alam, dan agama. Karena ketertarikannya ini Aditya Fajar sering membaca, menonton, dan mendengarkan hal-hal yang berhubungan dengan bidang-bidang tersebut. Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa Aditya Fajar adalah orang yang tahu banyak tentang dunia teknologi, ilmu sosial, ilmu pengetahuan alam, dan agama. Walau mungkin Aditya Fajar tidak mengetahui secara mendalam, namun hal-hal yang diketahuinya itu bisa membantu orang lain untuk menjadi lebih mengerti tentang bidang-bidang tersebut.
5. Menjadi Hidup Lebih Mudah dan Membuat Keputusan Lebih Tepat
Ketika kita sudah menjadi merek, maka akan mempermudah kita untuk mengatur hidup. Kita jadi tahu apa kekuatan dan kelemahan kita, dan berdasarkan itu kita bisa membuat keputusan yang lebih tepat. Misalnya Aditya Fajar belajar banyak tentang Public Relations. Sebagai merek maka Aditya Fajar mempunyai nilai jual di bidang ini dan Aditya Fajar akan menekuni pekerjaan yang berhubungan dengan Public Relations. Aditya Fajar tidak akan mencoba menjual dirinya kebidang pekerjaan seperti arsitektur, teknik sipil, dan kedokteran.
6. Dihormati, Berimbang, dan Bahagia
Apabila kita sudah mempunyai pijakan yang baik sebagai sebuah merek, maka kita bisa mendapat penghormatan dari orang lain berupa pengakuan atas keahlian kita. Kita juga jadi lebih berimbang. Kita akan lebih bijak dalam memutuskan bidang mana saja yang sebaiknya kita pilih dan tekuni.
Komunikasi Merek Pribadi
Untuk mengembangkan diri kita sebagai merek, maka kita sebaiknya memperhatikan 3 hal, yaitu:
- Clear (jelas), kita harus tahu baik tentang diri kita sendiri.
- Consistent (konsisten/teguh), yaitu bagaimana kita merepresentasikan diri kita kepada orang lain. Misalnya kita dikenal sebagai individu yang pandai berdagang. Maka tunjukkanlah bahwa kita memang pandai berdagang dan pertahankanlah keahlian itu bahkan ditingkatkan lagi.
- Constant (terus menerus), sebagai merek kita harus memanage diri kita supaya terus terlihat. Istilahnya mungkin “beredar”. Untuk mempertahankan reputasi kita sebagai merek yang dapat dipercaya kita harus mampu terus tampil di audience kita. Bila kita malas maka kita sebagai merek akan meredup bahkan malah jadi tidak dikenal lagi.
Ketiga hal di atas lebih dikenal dengan 3 C’s of Brand Communication.
Masih dengan pertanyaan:
Kenapa saya perlu menjadi sebuah merek?
Karena dunia bisnis membutuhkan:
- Orang-orang yang tahu tentang diri mereka sendiri
- Orang-orang yang bisa menjadi team player yang bisa berkomunikasi dengan baik
- Orang-orang yang penuh dengan motivasi, berambisi, antusias, dan bisa bersosialiasi
- Orang-orang yang tertarik pada suatu bidang keahlian dan bisa berhubungan dengan orang lain
- Orang-orang yang mempunyai kepribadian menarik melalui pendapat and semangat mereka
- Orang-orang yang tampil dan terlihat professional
(Quin, Green & Elliot - Rotterdarm 2003)
Akhirnya, pertanyaan paling mendasar:
Apa yang pada akhirnya saya bisa dapatkan?
Jawabannya adalah
Personal Branding (Menjadikan diri kita sendiri sebagai merek) memberikan ANDA kendali untuk mengatur bagaimana orang lain melihat diri anda. Brand image anda, merupakan alat bisnis yang paling fundamental dan yang paling kuat untuk kesuksesan masa depan.
Merek Seperti Apakah Anda?
Sebagai langkah awal silakan menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan jujur (dan jangan buru-buru):
- Siapa diri anda sebenarnya?
- Bagaimana cara anda berkomunikasi dengan orang lain?
- Apakah prinsip yang anda pegang teguh?
- Apakah gairah/ambisi anda?
Pusing ya jawabnya? Hehehe sama dong… saya juga pertama-tama bingung.
Tapi ini tips menjawabnya: SWOT analysis terhadap diri anda sendiri. Good luck! ![]()
Popularity: 27% [?]
Artikel Lainnya:
- Tips Membeli Sepatu Wanita Wanita itu indah, termasuk kakiknya. Nah, hari ini saya iseng-iseng browsing tentang kesehatan wanita dan membaca sebuah artikel tentang hubungan...
- Jangan Takut Bicara Pensiun Setiap orang pasti akan pensiun, dan berapapun usia Anda sekarang ini, pensiun adalah momen yang akan Anda hadapi. Pensiun berarti...
- Susahnya Punya Nama Pasaran Punya nama pasaran memang suka ada susahnya. Apalagi kalau mau buat dot-com. Contoh saja nama saya. Aditya. Mau pake Adit.com...
- Poke Me! Silakan menghubungi saya melalui e-mail dengan mengisi form di bawah ini. Bisa tentang apa saja dan kapan saja. Saya akan...





20 Nov 2007, 9:02 pm
ya mungkin dengan kita bikin blog, juga sebagai sarana buat “menjual diri”
You can also read za’s blog post: here so HOT!!!
20 Nov 2007, 9:54 pm
Kirain apaan…
Padahal nih udah siap-siap mau ngelapor ke pihak berwenang…
You can also read Praditya’s blog post: Blog Saya Bukan Tempat Prostitusi!
20 Nov 2007, 11:29 pm
@za: agree!
@praditya:
21 Nov 2007, 1:55 pm
wah..nice article
You can also read Dy’s blog post: yg sebenarnya harus kulakukan
2 Jan 2008, 9:01 am
Ah, aku punya julukan baru: Ms. Gaul. Apakah itu merek?
You can also read Lita’s blog post: Beri Kami Alasan
3 Jan 2008, 9:02 am
@Lita: Merek asal bisa konsisten dipromosikan… weh.. mantep tuh merek gaul