Generasi Ngebul
Sat, 10 Nov 2007 | Stuff | 328 views | Email This Post
Hari ini saya membaca artikel di Kompas Remaja, sasaran empuk industri rokok
Karakteristik remaja yang erat dengan keinginan adanya kebebasan, independensi, dan berontak dari norma-norma dimanfaatkan para pelaku industri rokok dengan memunculkan slogan-slogan promosi yang mudah tertangkap mata dan telinga serta menantang.
Indonesia memang jadi sasaran empuk bagi Industri rokok. Industri ini mengeluarkan dana yang begitu besar untuk menjerat generasi-generasi perokok baru.
Menurut riset yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan tahun 2006, sebanyak 9.230 iklan terdapat di televisi, 1.780 iklan di media cetak, dan 3.239 iklan di media luar ruang, seperti umbul-umbul, papan reklame, dan baliho.
Slogan-slogan ini tidak hanya gencar dipublikasikan melalui berbagai iklan di media elektronik, cetak, dan luar ruang, tetapi industri rokok pada saat ini sudah masuk pada tahap pemberi sponsor setiap event anak muda, seperti konser musik dan olahraga.
Hampir setiap konser musik dan event olahraga di Indonesia disponsori oleh industri rokok. Dalam event tersebut mereka bahkan membagikan rokok gratis atau mudah mendapatkannya dengan menukarkan potongan tiket masuk acara tersebut.
Saya membaca ini antara sedih, sebal, dan kecewa. Saya percaya betul kalau rokok itu hanya membawa kerusakan. Baik dari sisi keuangan maupun kesehatan. Tragisnya lagi, kegiatan-kegiatan olah raga di Indonesia banyak disponsori oleh pabrik rokok. Lihat aja sepakbola, badminton, volley, dan tennis. Belum lagi acara musikal. Mulai dari dangdut sampai konser rock. Semuanya disponsori oleh pabrik rokok.
Keluarga Perokok
Apabila anak-anak remaja sekarang sudah kerajinan merokok, maka dalam waktu 10-15 tahun ke depan mereka akan menghasilkan keluarga-keluarga perokok. Normalnya dalam kurun waktu segitu, mereka akan menikah dan mempunyai anak dan sangat mungkin masih merokok.
Tapi kita tidak perlu melihat jauh ke depan. Lihat saja sekarang berapa banyak orang tua yang merokok. Saya yakin mereka sudah merokok 10-15 tahun sebelum mereka berumah tangga, dan siklus ini akan diteruskan oleh para remaja sekarang ini.
Menurut saya orang tua yang merokok adalah orang tua dan pasangan hidup yang egois. Kerabat saya pernah bercerita bahwa ada seorang suami yang meninggal karena kanker paru-paru, dan dia adalah perokok berat. Tak lama kemudian isterinya pun divonis kena kanker paru-paru padahal bukan perokok. Selama puluhan tahun sang isteri menghisap asap keegoisan suaminya dan akhirnya dia juga yang harus membayar dengan kesehatannya.
Saya sih merasa kalau saya bilang seperti ini akan ada yang tersinggung. Tapi ngga papa, karena saya meyakini bahwa mereka juga sebenarnya tau kalau merokok itu adalah perbuatan yang salah.
clipped from whyquit.com
Gambar atas: paru-paru yang sehat. Bercak-bercak hitam karena polusi. Gambar bawah: paru-paru yang kena kanker. Bagian yang gelap adalah deposit tar yang perokok simpan dari setiap isapan dan bercak putih adalah kanker.
Merokok menurut saya tidak bisa dibilang sebagai hak pribadi, terutama di Indonesia. Karena ketika seseorang merokok asapnya akan juga mengenai orang-orang di sekelilingnya. Dan kalau kita mau mengakui, perokok-perokok Indonesia adalah orang yang biasanya cuek bebek. Selama mereka bisa ngebul, mereka tidak perduli mereka merokok di angkot, bis, dan tempat-tempat umum lainnya.
Adek perempuan saya pernah bertengkar lantaran ada satu orang laki-laki yang merokok diangkot. Terus terang saja saya mendukung sekali tindakan adek saya itu. Yang paling menyebalkan adalah orang yang merokok di angkot misalnya, pasang tampang bego, pura-pura ngga nyadar kalau asap rokoknya sungguh mengganggu.
Kalau kita bukan perokok dan ada perokok yang mengganggu, jangan takut untuk bilang berhenti merokok atau pergi dari orang itu dengan tampang tidak senang. Saya sih suka begitu. Biar mereka sadar kalau dunia ini tidak diciptakan hanya untuk kesenangan orang-orang yang suka dengan asap.
Popularity: 10% [?]
Artikel Lainnya:
- Hipertensi Bayi Karena Rokok Terus terang saja, saya ini bukan penggemar para perokok dan apabila memungkinkan saya akan menyarankan orang-orang yang merokok untuk segera...
- Rokok vs Ekonomi: Mitos dan Fakta Sebagai seorang yang bukan perokok dan tahu bahaya rokok, saya merasa punya kewajiban sosial untuk mengingatkan dan berbagi ilmu tentang...
- Karena Ustadz pun Merokok Sebagai negara yang berpenduduk Muslim, para Ustadz mempunyai peranan besar dalam pendidikan ketauladanan. Baik itu dalah ilmu-ilmu Fiqh, Syariah, maupun...





10 Nov 2007, 7:13 am
hayooo ngerokok apa nggak ???
10 Nov 2007, 7:20 am
Ngga doooong
10 Nov 2007, 7:26 am
well, kalo ada event2 yg disponsori ama perusahaan rokok, trima aja duitnya, tapi jangan tetep merokok, hehehehe…
kalo kerja di perusahaan rokok gimana? biasanya gajinya gede. hehehehehe…
*selalu jadi korban asap rokok, huh!*
10 Nov 2007, 7:29 am
@siska: iya tuh, emang dilematik… paling yang kita bisa lakukan adalah kita ngga ngerokok dan melindungi keluarga kita sendiri dari rokok
no smoking is allowed on this blog please! hehehehehe
10 Nov 2007, 10:41 am
yah gimana yah.. katanya sih rokok itu paling gede ngasih pemasukan buat negara. Makannya.. pemerintah susah ngelarang2 ngerokok atau bahkan nutup perusahaanya segala. Selain itu, pemerintah juga ngerokok
Terus kalo buat sponsor (terutama acara rokok) mereka ngasih duitnya gede sih 
FYI, gw kul di kampus pendidikan.. waahh, ini sih pernah ada adu mulut antar aktivis pas kampus gw di sponsorin sama rokok. UPI diganti jadi UGGI yang artinya Universitas Gudang Garam Indonesia. Hahahaha. Panjang lar ceritanya
Thanks for add me to your blogroll. Udah saya link balik.